Senin, 03 Agustus 2009

Tugu Yogyakarta




Kata orang Yogya: Ke Yogya itu belum afdol kalau belum foto-foto di Tugu Yogyakarta. Hmm.... kata-kata ini membuat saya penasaran, seraya bertanya dalam hati, seperti apa sih Tugu Yogyakarta. Dan fualah.... akhirnya saya sampai juga di tugu ini.

Tugu yang unik ini terletak di perempatan jalan, letaknya cukup strategis, karena berada di tengah-tengah kota dan bisa dijangkau dari berbagai sudut kota. Hmm mau tahu sejarahnya?




Tugu Jogja merupakan landmark Kota Yogyakarta yang paling terkenal. Monumen ini berada tepat di tengah perempatan Jalan Pangeran Mangkubumi, Jalan Jendral Soedirman, Jalan A.M Sangaji dan Jalan Diponegoro. Tugu Jogja yang berusia hampir 3 abad memiliki makna yang dalam sekaligus menyimpan beberapa rekaman sejarah kota Yogyakarta.

Tugu Jogja kira-kira didirikan setahun setelah Kraton Yogyakarta berdiri. Pada saat awal berdirinya, bangunan ini secara tegas menggambarkan Manunggaling Kawula Gusti, semangat persatuan rakyat dan penguasa untuk melawan penjajahan. Semangat persatuan atau yang disebut golong gilig itu tergambar jelas pada bangunan tugu, tiangnya berbentuk gilig (silinder) dan puncaknya berbentuk golong (bulat), sehingga disebut Tugu Golong-Gilig.

Secara rinci, bangunan Tugu Jogja saat awal dibangun berbentuk tiang silinder yang mengerucut ke atas. Bagian dasarnya berupa pagar yang melingkar sementara bagian puncaknya berbentuk bulat. Ketinggian bangunan tugu pada awalnya mencapai 25 meter.
Semuanya berubah pada tanggal 10 Juni 1867. Gempa yang mengguncang Yogyakarta saat itu membuat bangunan tugu runtuh. Bisa dikatakan, saat tugu runtuh ini merupakan keadaan transisi, sebelum makna persatuan benar-benar tak tercermin pada bangunan tugu.

Keadaan benar-benar berubah pada tahun 1889, saat pemerintah Belanda merenovasi bangunan tugu. Tugu dibuat dengan bentuk persegi dengan tiap sisi dihiasi semacam prasasti yang menunjukkan siapa saja yang terlibat dalam renovasi itu. Bagian puncak tugu tak lagi bulat, tetapi berbentuk kerucut yang runcing. Ketinggian bangunan juga menjadi lebih rendah, hanya setinggi 15 meter atau 10 meter lebih rendah dari bangunan semula. Sejak saat itu, tugu ini disebut juga sebagai De Witt Paal atau Tugu Pal Putih.
Perombakan bangunan itu sebenarnya merupakan taktik Belanda untuk mengikis persatuan antara rakyat dan raja. Namun, melihat perjuangan rakyat dan raja di Yogyakarta yang berlangsung sesudahnya, bisa diketahui bahwa upaya itu tidak berhasil.
Bila anda ingin memandang Tugu Jogja sepuasnya sambil mengenang makna filosofisnya, tersedia bangku yang menghadap ke tugu di pojok Jl. Pangeran Mangkubumi. Pukul 05.00 - 06.00 pagi hari merupakan saat yang tepat, saat udara masih segar dan belum banyak kendaraan bermotor yang lalu lalang. Sesekali mungkin anda akan disapa dengan senyum ramah loper koran yang hendak menuju kantor sirkulasi harian Kedaulatan Rakyat.

Sore hingga tengah malam, ada penjual gudeg (masakan khas Yogyakarta) di pojok Jl. Diponegoro. Gudeg di sini terkenal enak dan harganya wajar. Anda bisa makan secara lesehan sambil menikmati pemandangan ke arah Tugu Jogja yang sedang bermandikan cahaya.

Begitu identiknya Tugu Jogja dengan Kota Yogyakarta, membuat banyak mahasiswa perantau mengungkapkan rasa senangnya setelah dinyatakan lulus kuliah dengan memeluk atau mencium Tugu Jogja. Mungkin hal itu juga sebagai ungkapan sayang kepada Kota Yogyakarta yang akan segera ditinggalkannya, sekaligus ikrar bahwa suatu saat nanti ia pasti akan mengunjungi kota tercinta ini lagi.




Nah sudah tahu sejarahnya kan? Sekarang saatnya berbagi tips bernarsiz ria di Tugu:

1. Jika sobat pembaca larak-lirik pengen foto bersama dalam jumlah yang cukup banyak, maka datanglah ke Tugu ini diatas jam 12 malam. Karena pada waktu ini frekuensi pengunjung yang ingin foto di Tugu ini tidak terlalu banyak. Jadi kalian bisa bernarsiz ria tanpa ada yang mengganggu.

2. Berhati-hatilah pada saat menyebarang ke Tugu, karena arus lalu lintas pada tengah malam tidak terkendali. Ada banyak mobil yang lalu lalang dengan kecepatan tinggi melewati daerah ini. So, lirak-lirik kanan kiri ya,hahaha....

3. Pencahayaan di Tugu sangat baik. Pada malam hari ada lampu yang menyorot ke arah Tugu, sehingga jika kita ingin berfoto ria, sebaiknya tidak menggunakan blitz. Kecuali pengen keliatan lebih putih dari aslinya, hehehe....

4. Sebaiknya jika kita ingin berfoto disini menggunakan sepeda motor. Karena lebih mudah mencari parkirannya. Saran saya lebih baik parkir di depan Circle K. Di sini petugas parkirnya baik dan ramah lho....

Sip, sekian blog kali ini, kita bertemu di hari dan waktu yang berbeda (halaah kesannya akan lama perginya, lha wong besok juga posting tulisan baru, hahaha....).

Sumber Sejarah Tugu : http://www.yogyes.com/id/yogyakarta-tourism-object/museum-and-monument/tugu-jogja/

Salam Jalan-Jalan



Mas Senda
Sang Lirak

Tidak ada komentar:

Posting Komentar