Selasa, 19 Januari 2010

Keong Mas


Halo sobat lirak-lirik dimanapun kalian berada. Hari ini seperti biasa Sang Lirak akan membawakan informasi tempat yang layak dikunjungi untuk berakhir pekan. Nah, salah satu rekomendasi yang saya berikan kali ini adalah Keong Mas Taman Mini Indonesia Indah.

Hmm, theater ini terletak dalam areal TMII dengan bentuk bangunan menyerupai keong berukuran raksasa. Bisa dibilang ini adalah bangunan berbentuk keong terbesar di dunia (he,he,he bangga dong kita punya bangunan berbentuk unik dan besar). Bentuk arsitekturnya unik dan menarik perhatian siapa saja yang melewatinya. Kalau sobat lirak-lirik lewat tol JORR dari arah Pondok Indah menuju Tanjung Priuk, pastinya akan melihat dengan jelas gedung ini dari arah kiri.

Nah itu untuk tampilan di luarnya, sekarang bagaimana dengan tampilan di dalam?

Untuk keadaan di dalam sungguh fantastis, bila kita menonton di dalam theater Keong Mas, kita akan disuguhkan sebuah layar besar dengan bentuk melengkung. Selama saya menonton film, belum pernah saya melihat layar dengan ukuran sebesar ini. Sensasi menonton menjadi sangat berbeda ketika saya menonton di layar Keong Mas, sungguh sebuah pengalaman baru yang menarik dan mencengangkan ketika melihat gambar yang tersaji di depan kita sungguh dekat dan nyata.

Bahkan untuk beberapa adegan film terlihat sangat dekat dan nyata. Ketika saya menonton film perjalanan Ibnu Sina untuk naik haji, saya dan teman saya begitu takjub melihat gambar padang pasir yang besar. Kita (baca: penonton) dibuat seolah-olah tidak ada jarak dengan film, sehingga dapat melebur dan menyatu pada film tersebut. Sungguh sebuah pengalaman yang tidak bisa dilupakan saat pemeran utama begitu dekat dengan kita.

Kesimpulannya….

Buat yang tinggal di Jakarta atau lagi main ke Jakarta, jangan ragu untuk menonton di Keong Mas. Sensasi pengalamannya berbeda jauh bila dibanding dengan menonton di bioskop. Ada kesan yang kedekatan film yang luar biasa yang tidak bisa didapatkan bila kita menonton di bioskop. Jadi tunggu apalagi? Week End ini mampir ya ke Keong Mas untuk merasakan sensasi menonton film yang dahsyat….

Salam Jalan-Jalan


Mas Senda
Sang Lirak

Minggu, 17 Januari 2010

Taman Prambanan

Hmm mulai bulan ini di Blog Plesiran kami ada tautan baru tentang taman kota, dimana kami akan meliput beberapa taman kota yang ada di Indonesia, asyik khan? Makanya untuk tahu berbagai macam informasi tentang taman kota, sobat lirak-lirik harus pantengin terus Blog Plesiran kami.



Nah, untuk kali ini, Sang Lirak akan membahas seluk beluk Taman Prambanan. Dimanakah keberadaan Taman Prambanan? Kalau sobat lirak-lirik yang berdomilisi di Jogja mungkin sudah akrab dengan taman ini. Yup, taman ini berada dalam kawasan wisata Candi Prambanan.

Taman yang rindang ini dibangun sebagai kawasan penghubung antar candi-candi yang ada di area candi Prambanan. Letaknya yang tengah-tengah antara Candi Prambanan dan Candi Bubrah, membuat siapa saja ingin berteduh di sini, terlebih dengan kondisi cuaca Jogja yang kala itu puanasnya minta ampun, tentunya akan membuat siapa saja merasa ingin neduh sembari mengucap bahasa inggrisnya rumah (baca: haus aka house kayak iklan di TV gitu, hehehe).

Apa yang menarik di taman ini?



Seperti taman pada umumnya, yang pasti taman ini memiliki pepohonan yang sangat rindang untuk diteduhi. Selain itu ada arena permainan anak-anak, seperti layaknya permainan di Taman Kanak-Kanak. Dari mulai prosotan sampai ayunan semua ada disini. Bagi yang bawa anak, pasti akan terpuasi dengan teduhnya pohon disini.

Selain itu taman ini juga dilengkapi air terjun buatan, cukup meneduhkan mata, bagi siapa yang melihatnya. Begitu tenang mendengarkan gemericiknya (hehehe maklum saya senang sekali mendengar gemericik air terjun yang menghujam bebatuan kecil dibawahnya).

Beberapa burung merpatipun dipelihara dengan baik di taman ini. Mereka mendapat perhatian penuh dari yang merawatnya. Terbukti bulu dan badan mereka terawat dan terlihat sehat.

Intinya untuk yang ke Prambanan, jangan hanya sekedar melihat candi saja. Nikmati juga taman yang ada di sana dan rasakan kesejukan diantara panasnya Jogja. Ok, sekian dulu liputan jalan-jalan dari Sang Lirak.

Salam Jalan-Jalan



Mas Senda
Sang Lirak

Rabu, 13 Januari 2010

Taman Mahakam

Kali ini saya ingin mengajak sobat lirak lirik sekalian untuk mengunjungi salah satu taman kota yang berada di kawasan Jakarta Selatan. Tepatnya berada di Jl. Mahakam berhadapan langsung dengan Paviliun Mahakam yang tidak jauh dari Hotel Grand Mahakam.

Taman ini tergolong baru. Dulunya tempat ini merupakan pusat penjualan bunga hias dan ikan - ikan hias yang digusur oleh Pemda DKI dan di pindahkan ke daerah Radio Dalam.



Memasuki taman ini kita akan disambut pemandangan satu pohon besar yang berada disalah satu sudut taman, di sekeliling pohon tersebut ada semacam tempat duduk yang terbuat dari semen. Tempat ini biasanya menjadi favorite pengunjung untuk menikmati berbagai camilan yang banyak dijajakan di pinggir jalan di sekitar taman ini.



Tepat di tengah-tengah taman ada kolam air mancur yang akan menambah kesan sejuk.
Ini biasa dijadikan latar belakang untuk mengambil foto bagi beberapa pengunjung, termasuk saya dan beberapa teman sewaktu datang kesana ;p



Di sekeliling taman juga disediakan beberapa bangku untuk menikmati pemandangan atau bahkan untuk menyantap berbagai makanan yang sengaja di bawa dari rumah ataupun yang dibeli disana.

Taman Mahakam ini juga termasuk dalam salah satu Top Five List Taman Kota terindah menurut Virgie's Travel Guide yang di tayangkan oleh Metro TV setiap hari Sabtu pukul 8.30 pagi.



Semakin sore pengunjung di taman ini akan semakin ramai, terutama pada hari sabtu sore / malam minggu, tempat ini biasa di jadikan tempat pertemuan bagi beberapa komunitas dan juga bagi para remaja hanya untuk sekedar bercengkrama dengan teman sejawatnya.

Paling tidak warga Jakarta mempunyai alternatif lain untuk berwisata bersama keluarga. Tidak hanya ke mal dan tempat2 rekreasi yang sudah ada, taman kota pun dapat menjadi pilihan.

Salam Jalan Jalan,

Ayuk Lin,
Sang Lirik

Selasa, 12 Januari 2010

Serunya Museum Wayang

Halo sobat lirak-lirik yang senang sekali berjalan menapaki inspirasi demi inspirasi. Kali ini Sang Lirak akan membahas tentang museum yang unik dan wajib untuk dikunjungi.



Adalah Museum Wayang yang berkutat di pelataran zona kota tua Jakarta. Museum yang dahulunya sebuah gereja dengan nama De Oude Hollandse Kerk ini sudah berubah fungsi menjadi Museum Wayang sejak tanggal 13 Agustus 1975 dan diresmikan langsung oleh gubernur DKI Jakarta kala itu, Ali Sadikin.



Museum ini menawarkan hal-hal menarik yang sayang untuk dilewatkan. Di museum ini kita akan melihat beberapa wayang yang ada di Indonesia. Wayang-wayang tersebut memiliki ragam dan jenis yang berbeda-beda lho. Ada wayang berbahan kulit, ada yang berbahan kayu, bahkan ada juga yang berbahan rotan.





Seolah ingin menunjukan wajah perwayangan Indonesia, museum ini menampilkan koleksi wayang yang cukup komplit. Tidak hanya wayang-wayang Indonesia saja yang bisa kita lihat, wayang dari China serta beberapa boneka puppet dari negara Eropa seperti Prancispun menjadi koleksi berharga di museum ini.




Ketika saya kesana, saya menemukan hal-hal menarik dan unik. Pertama saya tidak menyangka kalau Unyil dan keluarganya akan masuk ke dalam museum ini. Yang kedua tentang ruang pertunjukan wayang yang memang disediakan khusus untuk para pengunjung melihat pertunjukan wayang serta koleksi wayang kuno yang masih terawat dengan baik.



Sungguh sebuah pengalaman menarik yang sayang dilewatkan, so kata siapa museum gak keren? Ada hal-hal menarik dari museum yang bisa kita gali kok….

Ok, sekian dulu jalan-jalan kali ini. Tetap semangat mencari inspirasi dari jalan-jalan ya….

Salam Jalan-Jalan


Mas Senda
Sang Lirak

Sabtu, 09 Januari 2010

Keraton Cirebon



Banyak kesultanan2 dan kerajaan2 di Indonesia yang masih eksis hingga saat ini, dari ujung pulau sumatera hingga ke papua, kita masih bisa menjumpai nya. Walaupun fungsi kerajaan2 atau kesultanan ini tidak lagi sebagai pusat pemerintahan pada saat ini, tetapi mereka masih berperan sebagai pusat kebudayaan. Maka kali ini saya ingin mengajak sobat lirak lirik untuk mengungungi salah satu kesultanan yang berada di tanah jawa. Tepatnya di perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah, yaitu Kesultanan Cirebon.

Berbicara tentang Kesultanan Cirebon, tentu tidak terlepas dari nama salah seorang Wali Songo, yaitu Syarif Hidayatullah atau setelah beliau wafat lebih dikenal dengan nama Sunan Gunung Jati. Beliau ini bukanlah pendiri Kesultanan Cirebon, tetapi pada masa pemerintahan beliau lah Kesultanan Cirebon mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat. Kemudian beliau juga diyakini sebagai pendiri dinasti Kesultanan Cirebon dan Banten, serta sebagai penyebar agama Islam di Jawa Barat dan Banten.



Jejak dari Kesultanan Cirebon yang masih bisa kita nikmati saat ini salah satu diantaranya adalah Keraton Kasepuhan.
Memasuki wilayah keraton ini, kita akan disambut oleh sebuah gerbang yang terbuat dari Bata Merah bertingkat. Bagian depan ini biasa disebut dengan Siti Hinggil atau tanah tinggi yang menghadap langsung ke lapangan tempat dimana para pasukan keraton dulunya berkumpul.



Bangunan utama di komplek keraton ini tentu saja istana tempat dimana para raja dan keluarganya tinggal. Terdapat beberapa ruangan di dalam bangunan ini, foto diatas menunjukkan ruangan dimana raja menjamu para tamu nya.
Yang menarik dari bangunan ini adalah keramik2/ukiran2 yang terdapat di dinding-dinding nya yang merupakan perpaduan dari dua budaya, yaitu Cina dan Eropa.



Ukiran dengan dominasi warna merah merupakan pengaruh dari kebudayaan cina.



Sedangkan lukisan diatas keramik yang di dominasi warna biru dan keunguan adalah pengaruh dari budaya Eropa, lebih tepatnya pengaruh dari Belanda.

Masih banyak bagian-bagian menarik lainnya dari keraton kasepuhan ini yang akan saya bahas di postingan berikutnya. Jadi, pantengin terus blog Plesiran kita ini ya.....

Sumber: Wikipedia dan Okezone

Salam jalan jalan,

Ayuk Lin
Sang Lirik

Selasa, 05 Januari 2010

Sang Lirak dan Sang Lirik dalam dunia Ananda Sukarlan


Hari minggu kemarin adalah pengalaman pertama kami berdua menjungi sebuah pagelaran musik klasik. Adalah Ananda Sukarlan yang memancing kami untuk mengetahui lebih dalam konser ini. Pria yang termasuk dalam daftar InternationalWho’s Who in Music memang tidak tanggung-tanggung menampilkan performance terbaiknya. Dalam performance pembuka Ananda Sukarlan memainkan tiga instrumen menyentuh dan menggugah nasionalisme.

Rapsodia Nusantara No.1

Dimulai dengan Rapsodia No.1, Ananda dengan tenang memainkan permainan menakjubkan dari gubahan lagu Jali-Jali. Perpindahan dari satu nada ke anda lain dengan cepatnya dilaluinya. Dengan tidak mengubah terlalu jauh dari aslinya, Ananda memainkan lagu ini.

Ketika kami melihat penampilan pertamanya, kami sangat terpukau dan tidak bisa mengedipkan mata. Setiap momen permainannya membuat kami semakin kagum dengan permainan cepatnya. Kecepatan tangannya dalam memainkan nada yang sulit dicapai dilewati lebih mudah. Sungguh sebuah pengalaman dan sensasi baru mendengarkannya.

Rapsodia Nusantara No.5 (World Premiere)

Siapa yang tak kenal dengan lagu Angin Mamiri dari Makasar. Lagu ini begitu mengalir di telinga penikmat musik daerah, sekarang di tangan dinginnya kami disuguhkan instrumen baru. Sensasi kenusantraan yang digelorakan Ananda Sukarlan, terlihat jelas dalam permainannya.

Nada-nada sulit diambilnya untuk memperindah dan memperkaya makna dari lagu ini. Di lagu ini kami dibuat sangat menikmati keindahan lagu, karena kami mendapatkan banyak inspirasi di lagu ini.

Dan ini jadi salah satu lagu favorit saya (Sang Lirak) selain musikalisasi Bibirku Bersujud Di Bibirmu. Dan beruntungnya kami, Rapsodia No.5 ini adalah World Premier untuk sebuah karya besar Ananda Sukarlan.

Bibirku Bersujud di Bibirmu

Sebuah karya besar dari seniman besar Hasan Aspahani diterjemahkan dengan sebuah kombinasi musik dan tari. Bagaimana hasilnya?

Kami hanya bisa bilang “Menakjubkan”, kami belum pernah melihat sebuah kekuatan puisi yang diterjemahkan dengan baik oleh Ananda Sukarlan. Berawal dari permainan Ananda Sukarlan dengan Inez Raharjo (biola) dan Elizabeth Ashford (flute) dengan sebuah tarian perpaduan balet dan akting. Membuat awal dari interetasi puisi ini semakin berbicara dan berisi. Kita mulai disuguhi makna yang lebih dalam dari puisi yang dibuat Hasan Aspahani ini.

Belum lagi ketika Aning Katamsi (Sopran) menyanyikan puisi Bibirku Bersujud di Bibirmu, membuat hati saya (Sang Lirak) menjadi teriris. Ada kesedihan mendalam yang tergambar di dalamnya. Begitu sepi dan dalam ketika semua harus terpisah karena bencana Tsunami. Ini adalah salah satu musikalisasi puisi terbaik yang pernah saya lihat.

Saya berharap suatu saat Ananda Sukarlan membuatkan musikalisai puisi saya, betapa bangganya saya melihat karya saya dipertunjukan dan dibawakan oleh musisi besar yang kita punyai. 

Ada Sebuah Jeda

Setelah memainkan tiga lagu, ada sebuah jeda yang mengiring kami untuk rehat sejenak menikmati jajanan yang tersedia dibawah. Ruang waktu yang dipergunakan untuk mempersiapkan kelengkapan mini orchestra ini kami pergunakan baik untuk sekedar minum teh botol Sosro dan datang ke toko buku sastra menikmati sastra-sastra klasik yang ada di Indonesia, dari mulai Rendra sampai Chairil Anwar.

Ananda dan Libertas

Kemudian Ananda dan Libertas berkolaborasi memainkan delapan karya besar pujangga besar Indonesia dan Dunia. Dari mulai Bentangkan Sayapmu, Indonesia! (Ilham Malayu), Palestina (Hasan Aspahani), The Young Dead Soldier Do Not Speak (Archibald Macleish), I Understand the Largest Hearts of Heroes (Walt Whitman), A Un Poeta Muerto (Luis Cernuda), Ia Telah Pergi (WS. Rendra), Kita Ciptakan Kemerdekaan (Sapardi Djoko Damono) dan Krawang-Bekasi (Chairil Anwar).

Semua puisi diatas dimusikalisasikan dalam balutan orchestra mini dengan bantuan Joseph Kristanto (Bariton), Harianto (English Horn), Jakarta String Ensembel, David Kristiawan (Perkusi), ITB Choir dan Paragita UI (Paduan Suara) dan Indra Listyanto (Konduktor).

Dalam permainan ini kami disuguhkan sebuah musikalisasi sastra yang apik dan menawan. Permainan yang cantik dengan kerjasama dan disiplin yang tinggi memang menghasilkan sebuah karya yang hebat. Dan sekali lagi kami tercengang.

Kesimpulannya

Konser ini sayang sekali untuk dilewatkan, dari konser ini kami mendapatkan banyak inspirasi dalam bertindak dan berkarya. Terimakasih pihak panitia dan sponsor yang sudah mendatangkan Ananda Sukarlan dan memperkenalkan musik klasik pada kami. Hari ini kami belajar musik dan sastra dengan manis dan cantik.

Terima Kasih pada Ananda Sukarlan yang sudah berhasil mengharumkan Indonesia di dunia, semoga kami bisa melakukan hal yang sama dalam bidang yang lain.

Salam Jalan-Jalan


Mas Senda
Sang Lirak

Sabtu, 02 Januari 2010

Berkunjung ke pameran foto Jejak Bastian Holland


Tanggal 29 Desember 2009 kemarin saya dan teman saya dari Jogja berkunjung ke pameran Jejak Bastian Holland di Museum Bank Indonesia Kota, Jakarta Pusat. Pameran foto yang menyajikan foto-foto dan penjelasan tentang benteng-benteng peninggalan Belanda yang ada di pulau Jawa dan pulau Sumatera.

Disini kita bisa melihat banyak peninggalan kolonial yang tersisa, ada yang terawat dan tidak sedikit yang tidak terawat. Kebanyakan dari benteng ini dibangun untuk pertahanan melawan tentara Indonesia kala itu.

Kesan Sang Lirak

Pameran ini cukup mengesankan, di sini saya bisa tahu banyak tentang benteng-benteng yang dibangun Belanda serta bagaimana mereka membuat sebuah fondasi yang kokoh pada bangunan. Saya rasa setiap orang yang tinggal di Jawa dan Sumatera harus mengunjungi-mengunjungi benteng-benteng ini. Karena ada banyak history yang kuat dari benteng tersebut. Bagi yang belum pernah ke benteng-benteng tersebut, tidak usah khawatir.

Pameran ini telah banyak memberikan gambaran benteng-benteng yang ada di Indonesia, so cukup terbayar lah....

Hmm mungkin sekian dulu liputan jalan-jalan kali ini. Tetap semangat dan tetap traveling.

Salam Jalan-Jalan



Mas Senda
Sang Lirak