Tampilkan postingan dengan label Goes To Malaysia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Goes To Malaysia. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 Januari 2011

Kuala Lumpur

Hola sobat Lirak-lirik, hmm saya kali ini akan menjelaskan tentang jejak-jejak langkah saya selama keliling Kuala Lumpur, dimulai dari asal muasal Kuala Lumpur ya....

Sejarah Kuala Lumpur



Sejarah modern Kuala Lumpur dimulai pada tahun 1850-an, ketika Raja Abdullah membayar buruh Cina untuk membuka tambang timah yang baru dan lebih besar. Mereka tiba di muara Sungai Gombak dan Sungai Klang untuk membuka tambang di Ampang.
Tambang-tambang ini berkembang menjadi kawasan perdagangan yang semakin diterima sebagai kota perbatasan. Banyak kemelut yang dialami Kuala Lumpur, seperti Perang Saudara Selangor, wabah penyakit, kebakaran, dan banjir.

Sekitar tahun 1870-an, Kapitan Cina Kuala Lumpur, Yap Ah Loy, menjadi pemimpin yang bertanggungjawab atas pertahanan dan pertumbuhan kota ini ini. Ia mulai membangun Kuala Lumpur dari sebuah tempat kecil yang tidak dikenal menjadi kota pertambangan dengan ekonomi aktif. Pada tahun 1880, ibukota Selangor dipindah dari Klang ke Kuala Lumpur yang jauh lebih strategis.

Pada tahun 1881, kebakaran dan banjir menghancurkan struktur kayu dan atap Kuala Lumpur. Residen Inggris di Selangor, Frank Swettenham, bertindak dengan mewajibkan semua bangunan dibangun dari batu bata dan ubin saja. Kebanyakan bangunan baru menyerupai rumah toko di Cina Selatan, dengan ciri "kaki lima". Transportasi ke kota ini dipermudah dengan pembangunan jalur kereta api. Pembangunan semakin pesat pada tahun 1890-an, sehingga didirikan sebuah Lembaga Kebersihan (Sanitary Board). Pada tahun 1896, Kuala Lumpur dipilih sebagai ibukota "Negeri-Negeri Melayu Bersekutu" yang baru.

Berbagai komunitas datang menetap di Kuala Lumpur. Kaum Cina menetap di sekitar pusat perdagangan Medan Pasar di sebelah timur Sungai Klang. Orang Melayu, Chettiar, dan India Muslim menetap di sepanjang Java Street (kini Jalan Tun Perak). Lapangan yang kini dikenal sebagai Lapangan Merdeka, merupakan pusat kantor pemerintahan Inggris.

Pada masa Perang Dunia Kedua, Kuala Lumpur dikuasai oleh tentara Jepang dari 11 Januari 1942 hinggga 15 Oktober 1945.[16] Pada tahun 1957, Federasi Malaya berhasil meraih kemerdekaan dari Britania Raya, dan Kuala Lumpur dipilih menjadi ibukota. Setelah pembentukan Malaysia pada 16 September 1963, kota ini juga dipilih sebagai ibukota negara.

Kota ini menjadi saksi dari kerusuhan etnis yang meletus antara orang Melayu dengan orang Cina pada tanggal 13 Mei 1969. Kerusuhan ini disebabkan oleh ketidakpuasan orang Melayu terhadap keadaan sosio-politik mereka saat itu. Kerusuhan 13 Mei menewaskan sekitar 196 jiwa,[18] dan memicu perubahan kebijakan ekonomi negara.
Kuala Lumpur memperoleh status kota pada tahun 1972, menjadikannya pemukiman pertama di Malaysia yang mendapatkan status tersebut sejak kemerdekaan. Pada 1 Februari 1974, Kuala Lumpur menjadi Wilayah Persekutuan, sehingga ibukota Selangor dipindah ke Shah Alam pada tahun 1978.

Pada tahun 1998, sebuah gerakan politik yang dikenal sebagai "Reformasi" berlangsung di kota ini. Gerakan ini disebabkan oleh pemecatan Wakil Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim. Pendukung Anwar turun ke jalan dan meminta reformasi di tubuh pemerintahan.

Putrajaya dinyatakan sebagai Wilayah Persekutuan dan pusat pemerintahan Malaysia pada tanggal 1 Februari 2001. Fungsi-fungsi eksekutif dan yudikatif dipindah dari Kuala Lumpur ke Putrajaya. Namun, Parlemen Malaysia dan kediaman resmi Yang di-Pertuan Agong masih berada di Kuala Lumpur.

Kesan saya terhadap kota ini....



Terus terang kota ini tak ubahnya seperti Jakarta, ada bangunan modern dan beberapa bangunan tua yang cukup terawat. Bangunan peninggalan Inggris di KL terlihat sangat terawat. Beberapa arsitektur menunjukan ada akulturasi antara Inggris, Arab dan Melayu.

Di KL kotanya cukup rapih, meski beberapa bagian tetap saja terlihat kotor, kalau di Indonesia sebenarnya suasananya tidak ada yang berbeda, waktu saya ke Sungei Wang (tempat belanja model Tanah Abang) saya baru melihat kesan kumuh dari kota ini, nah yang lebih parahnya di daerah ini beberapa warga non muslim dengan santainya menjual dendeng b2. Awalnya saya tidak terlalu terganggu, namun lama kelamaan gerah juga, karena baunya itu nyengat banget....

Hmm apalagi ya? At least suasana di KL sih gak jauh beda sama Jakarta, malah sebenarnya kita lebih indah lho karena ada banyak tugu yang menyapa di mana-mana, ada tugu pak tani, tugu Diponegoro, tugu Pancoran, dll. Dari sini saya mulai mencintai kota saya sendiri, Jakarta....

Salam Jalan-Jalan


Mas Senda
Sang Lirak

Genting Highland Part 3



Sobat lirak lirik, dulu saya pernah janji akan melanjutkan cerita saya di Genting Highland, nah kali ini saya akan ceritakan tentang Genting Highland yang saya ambil dari wikipedia, mari simak penjelasan berikut:

Genting Highlands atau Tanah Tinggi Genting (2000 m di atas muka laut) adalah puncak gunung dari pegunungan Titiwangsa di Malaysia serta menjadi tempat resort terkenal dengan nama yang sama. Berada di perbatasan negara bagian Pahang dan Selangor, tempat ini dapat dicapai dengan satu jam berkendara roda empat dari Kuala Lumpur atau melalui kereta gantung Genting Skyway yang saat ini merupakan yang tercepat di dunia dan terpanjang di Asia Tenggara).

Genting Highlands didirikan oleh Lim Goh Tong dari Fujian, Cina di awal tahun 1960-an. Sejak itu, Genting Highlands berkembang pesat dan menghasilkan perusahaan-perusahaan lainnya di bawah Genting Bhd, seperti perusahaan kertas, stasiun pembangkit tenaga listrik, perusahaan perkebunan, perumahan, perusahaan minyak, kapal pesiar, dll.

Tentang Lim Goh Tong

Lim Goh Tong mulai menggeluti usaha perdagangan alat dan mesin bekas.[2] Ketika penjajahan Jepang berakhir, Lim Goh Tong mendapatkan banyak keuntungan dari hasil perdagangan alat berat yang sangat dibutuhkan saat itu untuk usaha pertambangan dan perkebunan karet. Secara tidak sengaja, Lim Goh Tong terjun ke dalam industri penambangan besi karena adanya perusahaan penambangan yang tidak dapat membayar 2 buldozer yang dibelinya dari Lim Goh Tong sehingga perusahaan tersebut membayarnya dengan ajakan kerja sama. Dengan bantuan Lim Goh Tong, perusahaan tersebut berkembang pesat dan mengembangkan usahanya dalam pertambangan timah. Lim Goh Tong kemudian mendirikan suatu perusahaan di bidang konstruksi yang diberi nama Kien Huat Private Limited dan perusahaan tersebut berkembang pesat dan menjadi terkenal karena berbagai proyek besar berhasil diselesaikan dengan baik, salah satunya adalah pembangunan Ayer Itam Dam. Perusahaan tersebut menjadi salah satu kontraktor kelas A yang sukses namun sempat hampir mengalami kebangkrutan akibat terhambatnya proyek Irigasi Kemubu yang akhirnya tetap dapat terselesaikan dengan baik.
Ide mendirikan Genting Highlands didapatkannya ketika berkunjung ke Cameron Highlands pada tahun 1964 yang menjadi tempat relaksasi dan berlibur bagi masyarakat Malaysia.Lim Goh Tong melihat banyaknya masyarakat yang memerlukan tempat berlibur di daerah dataran tinggi berudara sejuk tapi dekat dengan ibukota yaitu Kuala Lumpur. Akhirnya Lim Goh Tong memulai perencanaan pembangunan proyek wisata tersebut dan menentukan Gunung Ulu Kali (58 km dari Kuala Lumpur) di daerah Genting Sempah sebagai tempat yang tepat untuk pembangunan.

Pada tanggal 27 April 1965, Lim Goh Tong bersama dengan Tan Sri Haji Mohammed Noah bin Omar mendirikan perusahaan Genting Highlands Berhad dan kemudian mendapatkan persetujuan pembangunan resor wisata dari pemerintah daerah Pahang dan Selangor. Pada tanggal 18 Agustus 1965, konstruksi Genting Highland dimulai dan membutuhkan 4 tahun untuk menyelesaikan pembangunan jalan dari Genting Sempah hingga ke puncak Gunung Ulu Kali. Banyak pihak memandang bahwa usaha pembangunan tersebut terlalu berisiko besar akan manderita kerugian dan terlalu sulit untuk diwujudkan namun Lim Goh Tong berhasil membuktikan bahwa usaha yang dilakukannya berhasil menjadi salah satu tempat wisata terbaik di Malaysia. Pada tahun 1971, hotel pertama berhasil diselesaikan dan dinamakan Highlands Hotel (sekarang disebut Theme Park Hotel). Lim Goh Tong pensiun pada tanggal 31 Desember 2003 dan menyerahkan berbagai usahanya kepada putra keduanya Lim Kok Thay.

Masih ada cerita tentang Genting Highland lagi, nanti kalau sempat akan saya sambung lagi....

Salam Jalan-Jalan


Mas Senda
Sang Lirak

Kamis, 22 Oktober 2009

Suria KLCC



Suria KLCC adalah salah satu mall terbesar di Malaysia. Mall ini menyajikan tenant-tenant dari boutique-boutique yang ada di seluruh dunia. Konsep bangunannya mirip dengan Senayan City yang bergaya modern dan minimalis.

Ketika saya berjalan-jalan ke sana, saya merasa tidak ada yang istimewa dari mall ini. Karena memang sudah terlalu banyak mall yang ada di Jakarta dan hampir semua sudah saya kunjungi. Satu-satunya yang menarik ya mall ini berada di jantungnya Malaysia (Kuala Lumpur), selebihnya ya standart mall lah…. Bahkan kalau mau jujur bagusan mall yang ada di Indonesia yang terkenal dengan mall tematiknya seperti Grand Indonesia, Mall Artha Gading, dll.

Bayar toilet yang cukup mahal!!!

Hmm di mall sebesar ini ada satu hal yang boleh dibilang sedikit aneh untuk ukuran sebuah mall besar. Kalau kita ke toilet di lantai utamanya, kita akan dikenakan bayaran dua ringgit Malaysia, yang jika dikonversikan mencapai tujuh ribu rupiah. Nck…nck…nck… padahal kalau mau dibandingin sama Grand Indonesia, toiletnya masih bagusan di Grand Indonesia.

Branded dijual miring

Kalau boleh dibilang, barang branded yang ada di Suria KLCC cukup miring. Kemarin waktu saya kesana saya menemukan sebuah rompi dengan motif desain banyak kancing ala Michael Jackson. Harganya gak sampai seratus ribu rupiah. Yah, untuk ukuran baju boutique harga yang ditawarkan cukup menarik, so tidak sampai pikir dua kali untuk beli rompi ini, hehehe.

Kesimpulannya

Mall ini biasa aja, tapi harganya bolehlah…. Ok sekian dulu jalan-jalan kali ini.

Salam Jalan-Jalan


Mas Senda
Sang Lirak

Senin, 05 Oktober 2009

Genting Highland (Part 2)

Setelah kemarin kita sudah membahas hotel First World dan kereta gantung yang ada di Genting Highland, maka kita akan bahas tentang mall yang berada dalam areal Genting Highland.

Di Genting kita akan menemukan sebuah mall yang memiliki banyak kelengkapan. Seperti halnya mall di Indonesia, mall di Genting menyajikan tenant-tenant yang cukup terkenal di Malaysia.

Selain itu di sini ada theme park yang sayang untuk dilewatkan. Hmm untuk theme parknya Genting memiliki banyak keistimewaan. Mau tahu isi theme park bagian dalamnya?

Sensasi salju di genting snow world



Hmm disana ada sebuah ruangan yang di desain khusus seperti suasana musim salju yang ada di luar negeri. Dinginnya? Sama persis dengan yang ada di pegunungan salju. Di sini kita akan merasakan hujan salju, minum es krim/yoghurt, bermain lempar salju dan main di prosotan salju.

Cukup menarik untuk dicoba, bagi kita yang akan berkunjung ke Eropa atau Canada. Berhubung saya tidak masuk, jadi saya tidak terlalu bisa merasakan sensasinya di sana(maklum saya banyak main di outdoor theme parknya).

Sensasi terjun bebas dari langit via genting sky venture



Boleh dibilang permainan ini adalah permainan terfavorit di sini, yup karena sensasi terbang di udara akan kita rasakan tanpa harus bersusah payah naik pesawat dan lompat dari atas pesawat.

Saya waktu kesana ingin sekali menaiki permainan ini, sayang seribu sayang saya tidak mendapatkan tiket, karena memang sistem pembelian tiket disini adalah pemesanan, fiuhh menyesal saya menyesal….

Sirkus Dreamz



Nah sirkus ini seperti sirkus pada umumnya. Dengan konsep permainan binatang, akrobat dan sulap kita akan disajikan beragam permainan seru. Hmm kalau boleh jujur atraksi sirkusnya sih mirip dengan yang sirkus yang ada di Taman Safari, not bad tapi bolehlah….

Permainan motor yang mengitari sebuah tong juga ada (di Indonesia permainan ini disebuat Roda Gila), permainan ini mirip dengan permainan di pasar malam yang ada di Indonesia. Hanya saja permainannya sedikit lebih ekstrim bila dibandingkan dengan yang ada di Indonesia. Di sana track dari roda gila berbentuk bulat, dan ia akan terbelah menjadi dua ketika para pemain roda gila melakukan atraksi. Sehingga pemain roda gila yang ada diatas akan terpisah dengan permainan roda gila yang ada di bawah.

Hmm mungkin ini bagian cukup menarik untuk dilihat….

Pertunjukan Wayang

Huh Malaysia menggunakan istilah yang cukup aneh untuk bioskop/theater. Mereka menggunakan kata pertunjukan wayang untuk menyebutnya, ketika saya diberitahu ada pertunjukan wayang dari pemain lakon terkenal, saya jadi penasaran untuk melihat pertunjukan wayang.

Alhasil saya datang ke sana untuk melihat lakon apa yang dimainkan para wayang orang. Akhirnya dengan semangat saya turun dari hotel ke bawah. Hmm dalam waktu cepat saya sampai di sini.

Ternyata eh ternyata, bayangan dan kenyataan yang ada di kepala saya tidak sama! Di sini orang-orang menyebut bioskop sebagai wayang. Bah! Sudah turun dengan semangat, saya hanya mendapatkan bioskop saja, kecewa saya, sungguh kecewa….

Mana film yang disajikan telat2 lagi. Hmm di banding Blitz, film yang ada di sini termasuk telat masuk, yah kalau di Jakarta mirip bioskop kelas 2 lah. Yah intinya gak terlalu menarik lah….

Makan nasi lemak yang murah meriah



Hmm disini ada nasi lemak dengan harga cukup miring(untuk ukuran mall). Nah kalau lapar tapi ingin berhemat mampir aja ke Ony Easy Store. Di sini kita akan menemukan banyak makanan dengan harga miring (kalau mau lebih miring lagi, kepalanya ditekuk aja, hehehe). Waktu disana saya beli nasi lemak Cuma 2,5 ringgit lho, yah kalau dikonfersikan harganya sekitar sembilan ribu rupiah. Murah bukan?



Nah model nasinya dibungkus dengan karton, mirip nasi rames gitu lah…. Nah waktu saya kesana ada hal yang aneh lho. Hmm bayangin aja, kita yang orang Melayu berbondong-bondong makan di MCD, Pizza Hut dan Starbuck, padahal orang bulenya makan di Only Easy Store. Hmm mereka juga gak malu makan nasi bungkus, meski makannya pakai sendok gak pakai tangan. Pemandangan yang aneh bukan?

Harga yang merata

Ada satu hal yang berbeda antara negara kita dengan Indonesia. Hmm disini semua harga jual produknya hampir merata. Jadi antara mall di resort Genting atau di Suria KLCC, tidak ada yang berbeda. Berbeda dengan Indonesia, kalau kita beli air mineral botol di Ancol dengan di Supermarket, pastinya akan lebih mahal di Ancol. Padahal masih dalam satu kawasan regional, aneh bukan?

Miniatur bangunan-bangunan terkenal.



Di dalam mall kita akan menemukan beberapa miniatur patung terkenal, dari mulai patung Liberty sampai menara Eiffel Prancis. So, buat yang belum pernah ke sana bisa berfoto sejenak untuk merasakan sensasi di sana….

Souvenir Unik

Hehehe di sana kita akan menemukan barang-barang souvenir dari tiap-tiap negara di ASEAN, so kita gak perlu pergi ke negara ASEAN untuk sekedar membeli buah tangan ke saudara-saudara kita. Hmm tempatnya ini mirip The World Village(Kampung Dunia) yang ada di Kota Wisata Cibubur, yah boleh dibilang 11-12 lah. Tapi kita boleh bangga karena di Indonesia tempatnya lebih besar dan eksotis tentunya, hehehe….



Ada satu topi yang saya beli di sana, hmm topi ini bukan sembarang topi lho! Karena topi ini bisa nyala dalam gelap. Ketika saya disana, saya langsung membeli topi ini tanpa berpkir panjang, maklumlah di Indonesia kan belum ada topi kayak gini. So, akhirnya saya beli topi ini, dan saya pakai selama saya di Malaysia, gimana keren kan?

Ok, sekian liputan Genting Highland (Part 2), nah besok masih ada terusan tentang Genting Highland, so don’t miss it yaaaa….

Salam Jalan-Jalan


Mas Senda
Sang Lirak

Jumat, 02 Oktober 2009

Genting Highland (Part I)

Hmm liburan ke Malaysia kemarin memberikan cukup banyak kesan terhadap negeri ini. Terutama ketika saya berkunjung ke Genting Highland. Mau tahu ceritanya? Mari kita bahas satu persatu.

Tentang Genting Highland



Genting Highland adalah sebuah resort yang dibangun di atas areal bukit Genting. Resort ini milik keluarga Tong yang menurut pa’cik (tour guide kami) adalah orang terkaya nomor tiga saat ini di Malaysia. Kerajaan bisnisnya dibangun dari bisnis haram perjudian. Kala itu Genting adalah pusat judi terbesar di Malaysia, dari pundi-pundi keuntungan inilah ia membuat resort bernama Genting Highland.

Dahulu sebenarnya bapak Lim Goh Tong termasuk prang terkaya pertama di Malaysia. Sayangnya setelah ia meninggal putra-putrinya tidak bisa mempertahankan kekayaan orang tuanya ke posisi pertama hingga akhirnya posisinya turun ke peringkat tiga.

Kereta Gantung



Jika kita ingin ke Genting Highland dengan jumlah rombongan yang cukup banyak, maka alternatif kendaraan yang tepat menuju Genting adalah kereta gantung. Hmm pengalaman kami naik kereta gantung di sana cukup mendebarkan.

Saat itu kami sampai malam hari di Genting Highland, sehingga kami naik kereta gantung dalam keadaan gelap gulita. Bayangkan saja jarak kereta gantung ke dasar tempat kita berpijak kurang lebih 80 meter, karena memang letak kereta gantung ini memang diatas bukit yang cukup tinggi.



Yang membuat kita mendebarkan saat ke sana bukan hanya jarak ketinggiannya saja, namun suasana gelap tanpa lampu yang diiringi dengan suara binatang-binatang liar. Hal ini membuat imajinasi kami mengkalkulasikan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi bila kereta gantung ini jatuh ke hutan, tidaaaak (lebay mode on).

Dan setelah tiga puluh menit bergelantungan di atas bumi, akhirnya kami sampai juga di Genting Highland dan menginjak bumi. Di sini kami mulai merasakan udara dingin yang cukup menusuk-nusuk (hmm kurang lebih suhunya sama kayak di puncak pass puncak Bogor, atau puncak di daerah Bandungan Semarang, yah intinya dingin lah). Setelah sampai kami tidak langsung ke hotel, karena kami harus berjalan sekitar 1 km menuju hotel. Sungguh melelahkan, terlebih jika kita membawa banyak barang (sekedar info, saat saya kesana saya membawa dua tas, dimana satu tas pegangannya rusak, alhasil saya harus bersusah payah membawa tas dengan cara menenteng).

Hotel First World



Setelah berjalan, mendaki gunung, lewati lembah, sungai mengalir indah ke samudra (lho kok malah nyanyi Hattori theme song??), akhinya kami sampai juga di hotel First World. Begitu masuk First World, kami disuguhkan pemandangan yang tidak biasa dari sebuah hotel.

Hmm bayangkan saja, bukan nuansa hotel pada umumnya yang kami dapatkan. Kesan seperti bandara lebih saya dapatkan ketika menunggu check in. Fiuh, ruang tunggu hotel ini sangat besar ternyata, dan turisnya banyak banget, hmm bener-bener berasa di ruang tunggu bandara deh….



Meski mirip bandara, di ruang tunggu depan hotel First ada nuansa yang menarik dari desain loby hotel ini. Hotel ini membuat desain yang mirip dengan suasana hutan, dengan pohon yang besar-besar. Kalau duduk di bawahnya berasa seperti duduk di pohon beneran meski pohon tersebut sebenarnya buatan.

Ada lagi yang menarik dari hotel ini. Hmm jumlah kamarnya itu lho… ada 6118 nck…nck… gak salah kalau hotel ini masuk ripleys dan guiness book of the record sebagai hotel dengan kamar terbanyak.

Ada lagi yang menarik dari Genting? Sebenaenya banyak, berhubung pengen buat sobat lirak-lirik penasaran makanya dibuat sekuelnya, pantengin terus blog plesiran kami ya….

Salam Jalan-Jalan



Mas Senda
Sang Lirak

Minggu, 27 September 2009

Malaka



Malaka adalah salah satu daerah bekas jajahan Portugis dan Inggris. Daerah ini menjadi daerah rebutan untuk dijadikan pelabuhan dan transit perdagangan. Letaknya yang strategis membuat para penjajah memperebutkan tempat ini.



Sewaktu saya ke sana ada beberapa tempat wisata yang cukup menarik untuk dikunjungi. Dari mulai monumen-monumen bergaya Spanyol, museum seni dan budaya, sampai benteng Spanyol. Semua objek yang dikunjungi disini cukup menarik dan sayang untuk dilewatkan. Salah satu yang menjadi daya tarik yang sayang untuk dilewatkan adalah benteng yang dibangun Spanyol. Dari benteng ini kita bisa melihat suasana Malaka, meski tidak terlihat semua. Di sana juga ada gereja kuno yang dibangun oleh bangsa Portugis dimana kita bisa menemukan arsitektur khas gereja Eropa di sana.







Actually, secara keseluruhan bangunan-bangunan di sini cukup menarik namun bila dibandingkan dengan bangunan-bangunan kuno yang ada di daerah Kota (Jakarta), tentunya lebih menarik bangunan kuno yang ada di daerah Kota. Sebab bangunan Kota yang ada di Jakarta lebih tertata dan apik terlihat bila dibandingkan dengan Malaka. Pokoknya Aku Cinta Indonesia-lah….

Asal Nama Malaka



Menurut tour guide saya, nama Malaka itu diambil dari nama buah Malaka yang memang banyak tumbuh di sana selain rambutan dengan kulit keras. Saat itu ada seorang sultan dari Palembang datang ke daerah Malaka. Ia melihat potensi yang sangat besar dari daerah Malaka untuk dijadikan pusat perdagangan.

Satu saat ia bertanya dengan pengawalnya tentang dareah ini. Pengawalnya tidak tahu persis nama daerah ini. Ketika ia bertanya dengan warga sekitarpun, mereka tidak mengetahui dengan persis daerah ini.



Ketika itu jatuh buah Malaka ke kepala sultan, ia berpikir lama sembari memperhatikan bentuk buah itu.

“Pengawal buah apa ini?” sang Sultan memperhatikan dengan seksama buah itu.
“Ampun paduka sultan, hamba tak tahu buah yang sultan pegang.”
“Kalau begitu adakah yang tahu buah ini?” Sultan bertanya pada penduduk sekitar yang kebetulan ada di situ.
“Ampun sultan, buah yang sultan pegang adalah buah Malaka.” tukas seorang warga sambil tertunduk hormat pada sultan.
“Hmm, baiklah mulai saat ini daerah yang tak bertuan ini kunamakan Malaka….”



Nah itulah cerita singkat tentang asal muasal Malaka yang diceritakan Pa’ Cik (Tour Guide kami selama berada di Malaysia). Jadi kita boleh bangga donk, karena ternyata nama Malaka itu diberikan oleh Sultan Palembang yang ASLI INDONESIA, hehehe…. GO INDONESIA….

Ok sekian dulu reportase perjalanan saya, nanti akan ada cerita yang lebih seru dan menarik lagi. So, pentengin terus blog Lirak-Lirik ya….

Salam Jalan-Jalan


Mas Senda
Sang Lirak

Sabtu, 26 September 2009

Putra Jaya Malaysia



Yihaa, ketemu lagi di blog jalan-jalan lirak-lirik. Kali ini kita akan bahas tentang Putra Jaya Malaysia. Putra Jaya Malaysia adalah propinsi termuda di Malaysia, ia dibangun atas inisiatif salah satu Sultan untuk memindahkan pusat pemerintahan. Letaknya tidak terlalu jauh dari Kuala Lumpur lho. Hmm kira-kira jaraknya Pondok Indah ke Bekasi via JORR.

Kota ini bisa dibilang sangat sepi, karena memang penduduknya hanya lima ratus ribu jiwa saja. Pada siang hari kita tidak akan menemukan orang yang lalu lalang kesana kemari, karena memang pada saat jam kerja tidak ada yang keluar dari kantor.

Hal ini bisa dimaklumi karena memang kota ini tidak memiliki fasilitas liburan layaknya kota-kota lain di Indonesia yang memiliki fasilitas-fasilitas menarik di setiap kota. Hmm kalau boleh dibandingkan kota ini lebih mirip kawasan industri Cikarang, tanpa fasilitas-fasilitas hiburan.

Apa yang menarik di Putra Jaya?



Ada beberapa bagian menarik yang harus dikunjungi jika kita singgah ke kota ini. Bagian pertama yang harus kita datangi adalah masjid rayanya. Masjid ini cukup besar dan menampung banyak jemaah untuk shalat. Arsitektur bangunannya mengikuti gaya arsitektur Kairo Mesir, detailnya bisa dilihat ketika kita masuk ke pintu gerbangnya.



Masjid ini sebenarnya tidak terlalu istimewa, karena bila dibandingkan dengan masjid-masjid yang ada di Indonesia, masjid ini mungkin tidak ada apa-apanya. Meski begiu masjid ini menyuguhkan pemandangan yang luar biasa ketika kita berkunjung ke sana.



Masjid ini memiliki view danau buatan dengan pemandangan jembatan-jembatan yang menarik. Jika kita foto di bagian samping kiri (jika kita menghadap kiblat maka posisi jembatan di samping kiri) maka kita akan menemukan sebuah jembatan dengan model tali baja. Jembatan ini mirip dengan jembatan yang ada di Batam, kalau viewnya sih masih bagusan jembatan Ampera yang ada di Palembang.



Nah kalau kita foto mengarah belakang, maka kita akan mendapatkan view jembatan dengan arsitektur Kairo Mesir, jembatannya persis kayak yang ada di film KCB. Hmm kalau foto di jembatan ini baru kerasa foto-foto di luar negeri, hehehe…. Ada cerita menarik ketika saya memajang foto ini di Facebook, kala itu teman saya mengira saya berfoto ria di Mesir dan saya disangka ke Mesir. Padahal saya hanya berkunjung ke masjid ini.



Ada lagi yang menarik dari masjid ini. Kalau kita lantai bawah, maka kita akan menemukan food and bazaar area. Dimana kita akan menemukan banyak orang berjualan makanan, dari nasi lemak sampai udang jumbo semua ada di sini. Hmm satu hal yang menarik disini, bila di Indonesia kita ketemu dengan ice cream Dairy Queen maka disini kita akan menemukan ice cream Dairy King. Rasanya beda jauh banget, karena ice cream yang dijual di Dairy King gampang cair, beda banget dengan ice cream Dairy Queen. Hmm jadi pengen beli DQ nih, hehehe….



Oh ya ada lagi yang menarik dari kota ini, yang menarik dari kota ini tentunya adalah danau buatan yang luasnya cukup besar. Hmm kira-kira luasnya sebesar danau di Lido (Sukabumi). Di dalam danau ini ada ikan mas yang besar-besar yang kalau kita kasih makan mereka akan berebutan ambil makanan dari kita. Melihat tingkah dan polah mereka yang semangat makan membuat saya sedikit teringat dengan saudara-saudara kita yang berebut dana zakat di lebaran lalu. Sungguh menyedihkan mengingat mereka yang tergencet-gencet di tengah-tengah orang yang mungkin serakah mengambil zakat yang bukan haknya, fiuh….



Terakhir yang menarik dari kota ini adalah gedung pemerintahannya yang menarik untuk dilihat. Bentuk gedungnya mengingatkan saya pada masjid Istiqlal yang besar dan megah. Hmm jangan-jangan mereka terinspirasi oleh masjid Istiqlal ya….

Ok, sekian dulu curhatan jalan-jalan saya ke Malaysia, besok saya akan sambung dengan cerita-cerita yang lebih menarik lagi.

Salam Jalan-Jalan



Mas Senda
Sang Lirak

Kamis, 24 September 2009

Malaysia i'm coming....


Meski banyak orang mengecam Malaysia, tidak menyurutkan saya untuk menaklukan Malaysia (maksudnya mengunjungi Malaysia). Nah di blog Lirak-Lirik akan ada reportase perjalanan khusus saya sewaktu keliling Malaysia. Mau tahu serunya gimana? Tungguin aja besok and klik link Goes to Malaysia.

Salam Jalan-Jalan


Mas Senda
Sang Lirak