Tampilkan postingan dengan label Kota Gudeg Dengan Segudang Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kota Gudeg Dengan Segudang Inspirasi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 23 Januari 2011

Perjuangan ke Candi Ijo

Yihha, apa kabar sobat Lirak-Lirik? Kali ini saya akan mengajak sobat lirak lirik untuk menapaki salah satu candi yang paling tinggi di Jogjakarta. Nah mau tahu serunya candi ini, mari kita jalan-jalan....

Perjalanan kami ke candi Ijo....

Sebenarnya perjalanan menuju candi Ijo tidak terlalu sulit, pokoknya kalau sudah sampai Jogja kita pergi ke arah Prambanan, nanti kalau sudah ada pertigaan pasar, ikuti arah candi ratu boko. Nanti ikuti jalan itu terus saja, kalau sudah sampai pertigaan bukit kedua (pertigaan bukit pertama ratu boko tapi kalau pertigaan candi yang kedua menuju ke candi Ijo), kita belok kiri.



Nah barulah kita mulai menanjak tinggi....
Sejujurnya barulah terasa capeknya numpang motor sama teman. Betapa tidak saya harus lari ngos-ngosan menuju puncak. Energi saya seperti disedot habis untuk dapat sampai ke puncak candi ini.

Bukannya saya tidak kuat nanjak, tapi ini semua terjadi lantaran saya sebelumnya mendaki candi barong. So, habis sudah energi saya mendaki candi ini....



Beruntungnya candi ini tidak mengecewakan, ketika sampai di sana kita akan mendapati pemandangan yang sangat menarik. Bayangkan dari atas candi ini terlihat satu kota Jogja (pemandangan yang sama persis kalau kita melihat Jogja dari Bukit Bintang).

Sejarah Candi Ijo

Nama candi ini disesuaikan dengan tempat temuannya, yaitu di bukit Ijo, yang berada di dusun Groyokan, kelurahan Sambirejo, Kecamatan Prambanan, sleman Yogyakarta.

Kata Ijo sendiri diambil dari kata ijo yang berarti hijau yang pertama kalinya ada dalam prasasti Poh yang berasal dari tahun 906 Masehi.



Di dalam kompleks candi ini terdapat 17 bangunan yang berada pada sebelas teras berundak. Pada bagian pintu masuk terdapat ukiran kala makara, berupa mulut raksasa (kala) yang berbadan naga (makara), seperti yang nampak pada pintu masuk Candi Borobudur. Dalam kompleks candi ini terdapat tiga candi perwara yang menunjukkan penghormatan masyarakat Hindu kepada Trimurti: Brahma, Wisnu, dan Syiwa.



Setiap candi perwara memiliki isi yang berbeda. Pada candi perwara tengah terdapat patung Sapi (dalam mitologi Hindu, Sapi adalah kendaraan dari Dewa Siwa). Sedangkan di candi yang mengapitnya terdapat lingga dan yoni.



Untuk candi utamanya terdapat lingga dan yoni yang sangat besar (bila dibandingkan dengan candi sambi sari).

Struktur bangunan lain yang ada di kompleks percandian Ijo, antara lain terdapat pada teras kesembilan, berupa sisa batur bangunan yang menghadap ke timur. Di teras kedelapan terdapat tiga buah candi dan empat buah batur bangunan, serta ditemukan dua buah prasasti batu. Salah satu prasasti ditemukan di atas dinding pintu masuk candi yang diberi kode F. Prasasti batu tersebut setinggi satu meter dengan tulisan berbunyi Guywan, oleh Soekarno dibaca Bluyutan yang berarti pertapaan. Prasasti batu yang lain berukuran tinggi 14 cm, tebal 9 cm, memuat 16 buah kalimat yang berupa mantra kutukan yang diulang-ulang berbunyi Om sarwwawinasa, sarwwawinasa. Prasasti-prasasti tersebut tidak menyebut angka tahun, tetapi dari sudut paleografis dapat diperkirakan berasal dari abad VIII-IX M, sehingga candi Ijo diduga juga dibangun pada periode yang sama. Di teras kelima terdapat satu candi dan dua batur, sedangkan di teras keempat dan teras pertama masing-masing terdapat satu candi. Namun, teras kesepuluh, ketujuh, keenam, ketiga dan kedua tidak ditemukan bangunan.



Oh ya candi ini terletak pada ketinggian 395,481 m diatas permukaan air laut, viewnya ok banget untuk lihat satu kota Jogja beserta bandaranya.

Kesimpulan saya

Candi ini harus dikunjungi kalau sobat lirak lirik ke Jogja, karena keindahannya sayang untuk dilewatkan. So, kalau ke Jogja jangan cuma mampir ke candi Prambanan saja, masih ada candi yang indah kok di Jogja selain candi-candi besar 

Salam Jalan-Jalan


Mas Senda
Sang Lirak

Rabu, 23 Juni 2010

Sang Lirak di Museum Ullen Sentanu

Museum apa yang paling keren se-Indonesia? Hmm sepanjang saya mengunjungi museum di Indonesia, baru Ullen Sentanu yang bisa membuat saya terbengong-bengong (karena saking takjubnya). Hmm mau tahu seperti apa museum ini, mari kita bahas satu persatu:



Pintu Masuk

Huff boleh dibilang pintu masuk di museum ini bikin saya kesal dan tidak yakin dengan harga yang ditawarkan pengelola museum. Bayangkan saja saya harus bayar dua puluh lima ribu rupiah hanya untuk menyaksikan museum saja (rada-rada kesal, karena harga normal masuk museum ya sekitar dua ribu sampai lima ribu rupiah), mana papan penunjuknya nggak meyakinkan lagi. Tapi akhirnya semua itu menjadi sirna tatkala pintu dibuka….

Petualanganpun dimulai….

Kami kemudian mulai masuk ke dalam museum dengan sebuah peringatan keras dari guide-ya “dilarang memotret ya!” Huft alhasil saya tidak mendapatkan foto bagian dalam museum ini. Sayapun dibuat bertanya-tanya alasan yang membuat kita tidak boleh memfoto bagian dalam museum ini.

Ternyata, eh ternyata di dalam museum ini penuh dengan lukisan, karena itu saya sangat wajar bila museum ini tidak boleh berfoto ria, karena pengalaman saya di museum Affandi juga seperti itu. Dan saya juga akhirnya mengerti alasan terbesar kenapa museum ini harganya larang (larang itu bahasa jawanya mahal).



Ruang Selamat Datang

Nah, di ruang ini ada patung selamat datang berbentu Dewi Sri dan terdapat cerita di balik pendirian museum ini. Nah, jadi museum ini mulai dirintis pada tahun 1994 dan mulai diresmikan berdirinya pada 1 Maret 1997, pemilihan tanggal ini dikarenakan ini adalah tanggal yang bersejarah untuk warga Jogja. Peresmian museum dilakukan oleh KGPAA Paku Alam VIII, Gubernur DIY pada waktu itu. Secara kepemilikan, museum swasta ini diprakarsai keluarga Haryono dari Yogyakarta dan berada di bawah payung Yayasan Ulating Blencong dengan penasehat antara lain: I.S.K.S. Paku Buwono XII, KGPAA Paku Alam VIII, GBPH Poeger, GRAy Siti Nurul Kusumawardhani, Ibu Hartini Soekarno, serta KP. dr. Samuel Wedyadiningrat, Sp.(B). K.(Onk).

Museum Ullen Sentalu Terletak di kawasan wisata Kaliurang tepatnya di dalam Taman Kaswargan dengan luas tanah 11.990 m2. Secara filosofis, nama Kaswargan dipilih karena terletak di ketinggian lereng Gunung Merapi, di mana kultur masyarakat Jawa menganggap Gunung Merapi sebagai tempat sakral. Taman Kaswargan berada dalam suatu “historical district”, yaitu kawasan bersejarah seperti Pesanggrahan Ngeksigondo dan Wisma Kaliurang. Pesanggrahan Ngeksigondo dibangun atas perintah Sultan Hamengku Buwono VII sebagai tempat peristirahatan keluarga Kasultanan Ngayogyakarta, sedang Wisma Kaliurang pernah digunakan untuk perundingan Komisi Tiga Negara, yaitu Amerika, Australia, dan Belgia pada masa revolusi kemerdekaan negara RI. Kaliurang merupakan kawasan wisata gunung dengan jarak 25 km dari pusat kota Yogyakarta, sehingga merupakan tujuan wisata yang sangat menarik dan potensial. Selain itu, terletak pada jalur wisata strategis yang menghubungkan obyek wisata Candi Borobudur dan Candi Prambanan.

Dalam perkembangannya, Museum Ullen Sentalu berpijak pada paradigma baru yang cenderung memaknai warisan budaya berupa kisah atau peristiwa yang bersifat tak benda (intangible heritage). Kecenderungan ini berawal dari suatu kondisi dimana Dinasti Mataram Islam cenderung menghasilkan budaya yang sifatnya intangible dibanding warisan budaya tangible yang lebih pada kebendaan. Padahal intangible heritage yang mencakup semua ekspresi, pengetahuan, representasi, praktek, ketrampilan yang dikenali sebagai bagian warisan budaya lebih rentan untuk pudar dan punah, apalagi dengan perkembangan arus globalisasi yang semakin tak terelakkan.
Bertolak dari kondisi tersebut, maka Museum Ullen Sentalu berupaya mengembangkan paradigma baru sebagai suatu terobosan yaitu dengan pemilihan lokasi yang berada di daerah pegunungan (resort), dan bukan di downtown; tidak menempati bangunan cagar budaya, tapi bangunan baru pada landscape kosong; dikelola sebagai private corporation dan bukan state institution; bersifat eclectic (carefully selected) collection dan tidak mengandalkan jumlah koleksi massive; lebih banyak memaknai warisan budaya berupa kisah atau peristiwa yang bersifat tak benda (intangible heritage) dan tidak selalu mengandalkan warisan budaya kebendaan (tangible heritage); tidak semua koleksi terdiri dari artefak dan benda memorabilia tetapi sebagian terdiri dari ambiance kebudayaan materi masa kini; tidak menggunakan label pada koleksi yang dipamerkan tetapi mengandalkan tour guide; berifat movement dan bukan monument; sebagai a-muse-ment dan bukan muse-um dan saat ini tengah dikembangkan untuk menjadi living museum dan bukan “dead” museum.

Salah satu upaya Museum Ullen Sentalu dalam memvisualisasikan berbagai warisan intangible dari Dinasti Mataram adalah dengan memanfaatkan media interpretasi dalam bentuk Conceptual and Imaginary Narrative Paintings.



Ruang Seni Tari dan Gamelan

Nah di ruang ini kita akan menemukan lukisan tarian jawa, mau tahu siapa saja yang ada di lukisan itu?

Di ruang ini kita akan menemukan lukisan tari serimpi yang dibawakan langsung oleh Gusti Nurul (puteri Mangkunegaraan-kalau di Jogja namanya Pakualam, nah kalau di Solo namanya Mangkunegaraan).

Dalam lukisan ini terdapat lukisan tarian yang menceritakan pertarungan antara bangsa Jawa dengan China. Karena ini tarian Jawa, ya pasti menang Jawa, hehehe…, begitulah kata sang tour guide dengan logat inggris yang rada medok.
Guwa Sela Giri.

Suatu ruang pamer yang dibangun di bawah tanah, karena menyesuaikan dengan kontur tanah yang tidak rata. Ruang ini berupa lorong panjang yang merupakan perpaduan Sumur Gumuling Taman Sari dan gaya Gothic. Arsitektur Guwa Sela Giri didominasi dengan penggunaan material bangunan dari batu Merapi. Ruang ini memamerkan karya-karya lukis dokumentasi dari tokoh-tokoh yang mewakili figur 4 kraton Dinasti Mataram. Melalui karya-karya lukis dokumentasi para tokoh yang dikemas dalam karya fine arts serta didukung kelengkapan data sejarah yang berkaitan, maka suatu interaksi antara karya seni, pengungkapan data-data seni budaya dan sejarah dari suatu peradaban yang intangible dapat terkomunikasikan secara kaya dan bebas. Ruangan ini boleh dibilang atraktif, terutama beberapa lukisan yang terlihat hidup. Salah satu lukisan yang hidup kalau kita perhatikan seperti melihat kita terus kemanapun kita pergi, hehehe rada-rada ngeri juga ngelihatnya….
Kampung Kambang

Merupakan areal yang berdiri di atas kolam air dengan bangunan berupa ruang-ruang di atasnya. Konsep areal ini diambil dari konsep Bale Kambang dan konsep Labirin. Kampung Kambang terdiri dari lima ruang pamer museum, yaitu: Ruang Syair untuk Tineke, Royal Room Ratoe Mas, Ruang Batik Vorstendlanden, Ruang Batik Pesisiran, dan Ruang Putri Dambaan.

- Ruang Syair untuk Tineke

Ruang yang menampilkan syair-syair yang diambil dari buku kecil GRAj Koes Sapariyam (putri Sunan PB XI, Surakarta) dan ditemukan di suatu ruang di dalam Kaputren Kasunanan Surakarta. Syair-syair itu ditulis dari tahun 1939-1947, oleh para kerabat dan teman-teman GRAj Koes Sapariyam yang akrab dipanggil Tineke sebagai puisi-puisi kenangan. Melalui syair-syair tersebut terungkap kemampuan intelektual dalam seni sastra para putri di balik tembok kraton.

- Royal Room Ratu Mas

Suatu ruang yang khusus dipersembahkan bagi Ratu Mas, permaisuri Sunan Paku Buwana X. Di ruang ini dipamerkan lukisan Ratu Mas, foto-foto beliau bersama Sunan serta putrinya, serta pernak-pernik kelengkapan beliau, seperti topi, kain batik, dodot pengantin, dodot putri, asesori, dll.

- Ruang Batik Vorstendlanden

Menampilkan koleksi batik dari era Sultan HB VII - Sultan HB VIII dari Kraton Yogyakarta serta Sunan PB X hingga Sunan PB XII dari Surakarta. Melalui koleksi tersebut terlihat suatu proses seni dan daya kreasi masyarakat Jawa dalam menuangkan filosofi yang dianutnya melalui corak motif batik. Perpaduan keindahan seni batik dan makna-makna filosofis yang dikandungnya menguak suatu warisan budaya intangible yang sangat kaya.

- Ruang Batik Pesisiran

Ruang ini melengkapi proses akulturasi budaya yang ada di Jawa. Dipamerkan kostum, yaitu keindahan bordir tangan dari kebaya-kebaya yang dikenakan kaum peranakan mulai jaman HB VII (1870-an) serta kain batik yang lebih kaya warna.

- Ruang Putri Dambaan

Ruang ini dikatakan sebagai album hidup GRAy Siti Nurul Kusumawardhani, putri tunggal Mangkunegara VII dengan permaisuri GKR Timur. Menampilkan dokumentasi foto pribadi dari masa kanak-kanak hingga pernikahannya (1921-1951). Melalui foto-foto tersebut tersaji muatan budaya yang bersifat intangible, seperti: ritual-ritual tahapan kehidupan seorang putri kraton beserta segala pernak-perniknya yang merupakan kekayaan warisan budaya Jawa. Ruang ini sangat istimewa karena terasa kedekatannya dengan Sang Tokoh, yang meresmikan sendiri Ruang Putri Dambaan tersebut pada ulang tahun ke-81 pada tahun 2002. Seperti ada ikatan batin antara tokoh dan Ruang Putri Dambaan karena album perjalanan hidup putri Mangkunegaran ini dititipkan secara pribadi dalam ruang tersebut di Museum Ullen Sentalu.

Gusti Nurul adalah putri Mangkunegaran yang memberi inspirasi para pangeran Mataram untuk tidak berpoligami. Beliau merupakan putri permaisuri yang gemar berkuda, yang tidak lazim pada era tersebut.

Nah diantara lima ruang ini, ruang syair untuk Tineke adalah ruang favorit saya. Disini terlihat sekali Tineke dengan sangat matang membuat sebuah puisi yang indah dan memekakkan jiwa bagi siapa saja yang sedang patah hati (kalau saya sih tidak, hehehe…).



Koridor Retja Landa

Merupakan museum outdoor yang memamerkan arca-arca dewa-dewi dari abad VIII-IX M. pada masa itu berkembang agama dan budaya Hindu Budha, sehingga ada pemujaan pada dewa-dewa yang diwujudkan dalam bentuk penyembahan pada arca-arca dewa tertentu.
Kalau boleh jujur arca-arca ini sebenarnya lebih menarik dilihat di candi-candi, kalau disini, kelihatannya lebih mirip pajangan saja.

Ruang Budaya

Di ruang ini dipamerkan beberapa lukisan raja Mataram, lukisan serta patung dengan tata rias pengantin gaya Surakarta serta Yogyakarta. Hmm ruangan ini sebenarnya mirip-mirip anjungan Jawa Tengah dan Jogja di Taman Mini, hayoo siapa yang sudah pernah kesana?

Terakhir kita minum-minum deh….

Di akhir kunjungan semua tamu mendapat suguhan minuman spesial, resepnya merupakan warisan Gusti Kanjeng Ratoe Mas, putri Sultan HB VII yang disunting sebagai permaisuri Raja Surakarta, Sunan PB X. Konon, minuman ini memberi kesehatan dan awet muda.

Minuman ini rasanya hangat, tapi jahenya nggak strong dan pas di lidah kita. Hmm kalau dirasa-rasain mirip wedang jahe, dicampur daun jeruk, melati, madu dan gula merah deh….
Kesimpulan

Museum ini boleh dibilang sangat profesional dalam pengelolaannya. Terbukti dengan teraturnya jam buka museum dan jam-jam dimana kita bisa mendapatkan tour guide Indonesia Language or English Language.

Situsnyapun dikelola profesional, sehingga wajar banget banyak turis asing yang jatuh cinta dengan museum ini. Tidak hanya profesional, fitur-fitur pendukung untuk bisa mencapai museum ini cukup mumpuni. Di daerah ini terdapat beberapa bungalow untuk sekedar menginap dan merasakan sensasi kesejukan Kaliurang. So, kalau ke Jogja jangan cuma tahunya Malioboro doang, basi tau!....

Salam Jalan-Jalan


Mas Senda
Sang Lirak
Sumber Pemberitaan: http://masdapit.com/

Kamis, 03 Juni 2010

Sang Lirak di Benteng Vredeburg



Hola sobat lirak-lirik, lama sekali tidak memberi kabar dan berita perjalanan yang menginspirasi. Hmm kali ini saya akan menghadirkan sebuah tempat yang wajib dikunjungi bila kita kesana. Mau tahu bentengnya seperti apa, simak penjelasan berikut:

Tentang asal usul nama Benteng….



Benteng ini pertama kali dibangun pada tahun 1760 oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I atas permintaan Belanda, alasannya sih untuk menjaga keamanan sultan. Maka dibangunlah seadanya dan tidak permanen. Tahun 1767-1787, benteng kemudian disempurnakan dan diberi nama Rusternburg yang artinya tempat peristirahatan. Nah, pada tahun 1867 terjadi gempa bumi yang dahsyat, yang berujung pada kerusakan benteng. Karena itu diadakan perbaikan hingga akhirnya nama bentengpun berubah menjadi Vrederburg (benteng perdamaian).

Penggunaan Benteng….



Kalau secara historis benteng ini mengalami pergantian dan fungsi, mau tahu rekam jejaknya, simak penjelasan berikut:

1761 – 1811 Benteng pertahanan VOC Belanda.
1811 – 1816 Markas militer tentara Inggris.
1816 – 1942 Markas militer tentara Belanda.
1942 – 1945 Markas militer tentara Jepang.
1945 – 1977 Markas militer Republik Indonesia

Nah, kalau sekarang semuanya sudah berubah fungsi menjadi benda cagar budaya karena pada 1981 ada penetapan benteng Vredeburg sebagai benda cagar budaya, hal ini tercantum di Surat Keputusan Mendikbud nomor: 0224/U/81 tanggal 15 Juli 1981.

Apa saja isi dari benteng ini?

Wuih kalau boleh bilang, benteng ini berisi diorama-diorama dari perjuangan dan sejarah Jogja di masa-masa menjelang kemerdekaan. Ada empat ruang diorama yang terdapat dalam benteng ini.



Diorama I : Berisi tentang periode perjuangan perang Diponegoro melawan Belanda, serta perjuangan para pahlawan merebut Jogja dari tangan Jepang (periode 1825-1942).

Kalau boleh jujur ruang ini adalah ruang diorama paling terang diantara semua diorama, cahaya matahari tembus ke dalam dan menyinari beberapa koleksi di ruang ini, diorama dalam ruang ini menarik karena kita bisa melihat bagaimana bentuk gue selarong tempat pangeran Diponegoro merumuskan rencana melawan Belanda, serta miniatur latihan tentara Jepang.



Diorama II : Berisi tentang periode awal kemerdekaan dan Agresi Militer Belanda (Periode 1945-1947).

Ruang diorama ini banyak menjelaskan bagaimana mencekamnya kala itu di Jogja, pertempuran berdarah sampai perundingan demi perundingan terjadi di Jogja. Kesan saya terhadap ruang diorama 2 sedikit bergidik, karena memang waktu itu saya sendiri masuk ruangan ini tanpa ada siapapun di dalamnya. Suasananya sangat gelap dan sepi. Sedikit banyak seperti merasakan sensasi tantangan Dunia Lain.



Diorama III : Berisi tentang periode perjanjian Renville sampai dengan kedaulatan RIS (Periode 1948-1949).

Ruang diorama ini berisi bagaimana perundingan-perundingan dahulu dilakukan. Pada ruangan ini beberapa koleksi terlihat lebih hidup dari sebelumnya, karena ada recorder suara rekonstruksi kejadian yang kita dengarkan di ruangan ini, hmm mirip-mirip dengan diorama di Lubang Buaya.



Diorama IV : Berisi tentang NKRI – Orde Baru (Periode 1950 – 1974)

Ruang diorama terakhir ini lebih banyak berisi tentang pemilu pertama kali di Jogja. Serta beberapa pakaian seragam tentara kala itu, ruangan ini sangat sepi pengunjung bila dibandingkan ruang diorama lainnya, bisa jadi karena ruangannya agak terpisah dari diorama lainnya.

Selain diorama ada juga meriam-meriam dan kursi-kursi yang dipakai pada zaman dahulu kala. Tempatnya klasik dan ok punya deh….

Kesimpulannya….



Tempat ini bisa jadi rekomendasi kita untuk mengenal sejarah lebih jauh, terutama bagaimana peran Jogja dalam membangun NKRI. Tempatnya keren banget, kalau mau foto-foto juga ok, suasananya mirip Kota Tua di Jakarta. Nah tunggu apa lagi? Ayo kita ke Vredeburg….

Salam Jalan-Jalan


Mas Senda
Sang Lirak

Senin, 22 Februari 2010

Serunya Masjid UGM

Wohaaa Sobat Liraklirik, apa kabar semua? Lama tidak ngeblog untuk Liraklirik nih. Hmm kali ini bahas apa ya? Oh ya bagaimana kalau kita bahas salah satu masjid menarik di Jogja? Yup kita bahas Masjid UGM yu’.

Masjid UGM







Masjid ini adalah salah satu masjid terbesar yang ada di wilayah kampus UGM. Masjid dengan taman dan kolam ikan yang cukup besar ini memang sangat menarik untuk kita sambangi. Betapa tidak masjid ini menyuguhkan pelataran taman yang indah di sekelilingnya.

Dengan berbagai bunga dan tanaman hias lainnya, masjid ini seperti ingin menunjukan keasriannya. Pohon-pohon besar yang ada di sekelilingnya, sengaja dibiarkan tetap tumbuh sebagai kesatuan yang tak terpisahkan dari bagian masjid.



Tak cukup dengan taman, masjid ini memiliki dua kolam ikan yang menarik, kolam ikan pertama dibentuk seperti water fountain yang alirnya mengalir seperti air terjun mini. Sedangkan kolam kedua memiliki ukuran lebih besar lagi, kolam ini di tengahnya terlihat ada sebuah seni rupa patung berbentuk tulisan Allah. Sungguh melihatnya membuat kami tak tahan godaan untuk mengabadikan moment terbaik lewat medium foto, hehehe….

Bagaimana dengan dalamnya?

Saya cukup terkesan dengan srditektur dalamnya, bentuknya unik dengan pintu yang bertralis besi untuk memudahkan sirkulasi udara. Bentuknya unik dan menarik, sampai-sampai saya bingung bagaimana menceritakannya, hehehe….







Nah di dalam areal masjid juga terdapat bedug raksasa, bedug ini benar-benar besar bila dibandingkan dengan bedug-bedug masjid yang ada di Indonesia. Meski ukuran bedugnya masih kalah besar dengan bedug yang ada di Masjid Agung Jawa Tengah, bedug ini memiliki suara yang cukup nyaring terdengar. Mungkin ukuran bukan masalah dalam perbedugan, yang penting ketepatan dalam memilih tong dan kulit sapinya (hehehe berasa ahli perbedugan nih…).

Ada lagi yang bikin menarik masjid ini, lampu ditengahnya itu lho, besar tapi memusat di tengah-tengah masjid. Kalau shalat dibawahnya berasa dilihat langsung sama Sang Khalik nih….

Kesimpulannya….





Masjid ini layak disambangi kalau di Jogja, sayang dong sudah jauh-jauh ke Jogja tidak bisa menikmati suasana religius di kota Jogja, hehehe. Pokoknya masjid ini kueren banget deh…. Gak percaya? Lihat aja foto-foto kami….

Salam Jalan-Jalan



Mas Senda
Sang Lirak

Minggu, 17 Januari 2010

Taman Prambanan

Hmm mulai bulan ini di Blog Plesiran kami ada tautan baru tentang taman kota, dimana kami akan meliput beberapa taman kota yang ada di Indonesia, asyik khan? Makanya untuk tahu berbagai macam informasi tentang taman kota, sobat lirak-lirik harus pantengin terus Blog Plesiran kami.



Nah, untuk kali ini, Sang Lirak akan membahas seluk beluk Taman Prambanan. Dimanakah keberadaan Taman Prambanan? Kalau sobat lirak-lirik yang berdomilisi di Jogja mungkin sudah akrab dengan taman ini. Yup, taman ini berada dalam kawasan wisata Candi Prambanan.

Taman yang rindang ini dibangun sebagai kawasan penghubung antar candi-candi yang ada di area candi Prambanan. Letaknya yang tengah-tengah antara Candi Prambanan dan Candi Bubrah, membuat siapa saja ingin berteduh di sini, terlebih dengan kondisi cuaca Jogja yang kala itu puanasnya minta ampun, tentunya akan membuat siapa saja merasa ingin neduh sembari mengucap bahasa inggrisnya rumah (baca: haus aka house kayak iklan di TV gitu, hehehe).

Apa yang menarik di taman ini?



Seperti taman pada umumnya, yang pasti taman ini memiliki pepohonan yang sangat rindang untuk diteduhi. Selain itu ada arena permainan anak-anak, seperti layaknya permainan di Taman Kanak-Kanak. Dari mulai prosotan sampai ayunan semua ada disini. Bagi yang bawa anak, pasti akan terpuasi dengan teduhnya pohon disini.

Selain itu taman ini juga dilengkapi air terjun buatan, cukup meneduhkan mata, bagi siapa yang melihatnya. Begitu tenang mendengarkan gemericiknya (hehehe maklum saya senang sekali mendengar gemericik air terjun yang menghujam bebatuan kecil dibawahnya).

Beberapa burung merpatipun dipelihara dengan baik di taman ini. Mereka mendapat perhatian penuh dari yang merawatnya. Terbukti bulu dan badan mereka terawat dan terlihat sehat.

Intinya untuk yang ke Prambanan, jangan hanya sekedar melihat candi saja. Nikmati juga taman yang ada di sana dan rasakan kesejukan diantara panasnya Jogja. Ok, sekian dulu liputan jalan-jalan dari Sang Lirak.

Salam Jalan-Jalan



Mas Senda
Sang Lirak

Kamis, 17 Desember 2009

Candi Lumbung, mini tapi unik



Candi ini masih berada satu kawasan dengan candi Prambanan. Ada beberapa candi Perwara yang mengelilingi candi utama (saat ini masih dalam proses pembuatan), dimana candi-candi tidak ada lingga/yoni seperti candi-candi lainnya. Candi ini memang diperuntukan untuk menyimpan beberapa bahan makanan untuk di konsumsi beberapa bulan ke depan.

Letak Candi Lumbung dan Seluk Beluknya



Terletak di Taman arkeologi Prambana di sisi barat laut Yogyakarta modern. Hal ini diletakkan antara antara Candi Prambanan dan Candi Sewu. Awalnya dibangun pada akhir abad ke-8, kedua candi mengalami renovasi besar dari waktu ke waktu. Di Candi Lumbung, perlindungan utama dikelilingi oleh akan dikelilingi oleh 16 candi yang lebih kecil, sebagian besar yang berisi mezbah dibesarkan dengan spasi ditandai untuk tiga gambar. Selain itu, ada ceruk di dinding belakang dan samping untuk dewa tambahan.

Bagian dalam candi utama memiliki sebelas ceruk (ketika kami kesana sedang di restorasi), sedangkan bagian luar candi utama memiliki tiga ceruk. Terdapat pula patung dewa perempuan, mungkin mewakili kosmologi apsaras India, yang diukir di lega tinggi di bagian luar candi utama.

Kesan Sang Lirak

Candi ini cukup keren, meski sangat kecil. Kalau boleh dibilang candi ini lebih keren bila dibanding dengan candi gebang yang terletak di desa gebang. So far harus dikunjungi untuk kita yang ingin tahu bagaimana cara penyimpanan bahan kebutuhan pokok kala itu.

Ok sekian dulu cerita Sang Lirak tentang candi Lumbung, next time akan ada candi-candi yang lebih seru lagi untuk dibahas.

Salam Jalan-Jalan


Mas Senda
Sang Lirak
Sumber: http://www.borobudur.tv/lumbung.htm

Tips Ke Candi






1. Gunakan Kendaraan Motor. Beberapa candi memiliki kesulitan untuk menempuhnya. Ada yang jalannya curam, ada yang hanya bisa dilewati kendaraan bermotor sampai dengan tanjakan yang curam. Jadi sebisa mungkin tidak menggunakan mobil untuk mengunjungi beberapa candi. Karena memang beberapa tempat tidak memungkinkan kita membawa mobil.

2. Bawa topi yang cukup melebar. Terus terang suhu di pulau Jawa belakangan ini cukup panas. Pengalaman saya ketika mengunjungi candi Prambanan dan Plaosan membuat saya harus berpikir kembali untuk menutup seluruh tubuh saya. Pasalnya pasca saya pulang dari candi-candi ini kulit saya menjadi terbakar dan terasa perih ketika mandi. So, kalau mau ke sana sebisa mungkin pakai pakaian yang tertutup dan topi melebar, jangan ragu untuk menggunakan sun block dan kaca mata, atau kalau perlu bawa payung sekalian biar aman dari kulit terbakar.]

3. Siapkan uang receh untuk tiket masuk. Beberapa candi menetapkan ongkos masuk sebesar Rp. 2.000,- untuk candi-candi kecil. Kalau candi yang lebih besar seperti Ratu Boko atau Prambanan harganya sedikit lebih mahal. Terakhir ketika saya ke sana Ratu Boko dikenakan tarif masuk Rp. 8.000/orang dan Prambanan Rp. 12.500/orang.

4. Siapkan fisik yang baik sebelum berkunjung ke candi. Ada beberapa candi yang medannya cukup berat untuk di tempuh. Saya menyarankan untuk yang tidak terbiasa sebaiknya berolah raga terlebih dahulu agar nanti tidak kaget kalau naik candinya.

5. Bawa kamera dengan fitur night yang baik. Kamera dengan modus night yang baik akan membantu kita terlihat lebih baik ketika di foto di dalam candi. Beberapa candi nampak sangat gelap ketika kita berfoto di dalamnya, sehingga tidak terlalu terlihat keindahannya.

6. Bawa teman yang jago bahasa Jawa. Tujuannya untuk mempermudah kita bertanya pada warga sekitar tentang letak-letak candi (maklum beberapa candi letaknya menyempil dan jauh, bahkan ada yang terletak jauh di dalam tanah).

7. Bawa minum dan makan sendiri. Beberapa candi tidak ada penjual yang menjajakan barang dagangan seperti snack ringan atau air mineral. So, kita akan kesusahan sendiri dibuatnya. Untuk itulah ada baiknya kita bawa sangu sebelum kita ke candi, terutama buat kita yang doyan kunyah-kunyah alias ngemil.

Nah itulah tips-tips kalau sobat lirak-lirik ke candi. So, jangan ragu berpetualang ke candi, coz candi-candi di Indonesia keren-keren lho.


Salam Jalan-Jalan


Mas Senda
Sang Lirak

Rabu, 09 Desember 2009

Ngos-ngosan di Candi Barong

Waduh kalau nyebut candi ini yang saya bayangkan adalah ngos-ngosan. Betapa tidak candi ini membuat saya dan teman saya ngos-ngosan dibuatnya. Fiuh rasanya cukup membuat letih ketika saya dan teman saya mendatanginya. Untuk lebih jelasnya mari kita bahas satu persatu.

Lokasi



Wuih kalau lokasi candi ini tidak terlalu jauh. Letaknya di tengah-tengah bukit candi Ratu Boko dan bukit candi Candi Ijo. Kalau dari perempatan yang mengarah ke candi Banyunibo letaknya candi Barong lurus saja, nanti ketemu pertigaan belok kiri sampai mentok. Setelah mentok, titipin motor kita di rumah warga (disarankan bisa berbahasa Jawa agar lebih memudahkan dalam melakukan proses penitipan).

Nah letak candi ini berada di bukit Batur Agung, dusun Candi Sari, desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan. Lokasinya cukup dekat dengan candi Ratu Boko, lha wong dari sini kita bisa lihat candi Ratu Boko kok….

Keunikannya



Candi ini memiliki keunikan yang berbeda dengan candi-candi lain. Di candi ini kita akan menemukan penataan yang unik bila di bandingkan dengan candi lainnya. Jika dilihat dengan seksama penataannya lebih memusat ke belakang. Berbeda dengan candi-candi lain yang memusat ke tengah.

Candi Barong terdiri dari tiga halaman



Halaman satu terdiri dari dua buah candi, sedangkan di halaman ke dua dan ketiga tidak terdapat candi. Untuk ukuran candinya 8,18 x 8,18 m dan tinggi 9,05 m. Candi ini mulai dipugar pada tahun 1987.

Di dalam bangunan ini terdapat 9 kotak bujur sangkar gambaran dari Wastursamandala. Nah di candi ini ditemukan 2 arca Wisnu dan satu arca Dewi Sri. Ada juga kotak Peripih dari bahan Andesit, di dalam satu peripih di temukan lembaran-lembaran emas dan perak yang alasnya digoreskan tulisan yang sudah tidak terbaca. Selain itu ditemukan pula keramik, guci dan mata kapak.

Kesimpulannya



Candi ini memiliki keindahan yang menawan hati siapa saja yang ingin melihat candi. Keindahan candinya menurut saya jauh melebihi candi Gebang dan candi Sambi Sari. Dari atas candi kita bisa melihat pemandangan yang luar biasa, meski untuk mencapainya kita harus berjuang melawan peluh dan letih, ketika sudah sampai semua itu terbayangkan. Rasanya puas sekali bisa ke sana. So, kalau ke Jogja gak mampir ke candi ini nyuesel banget deh….

Salam Jalan-Jalan



Mas Senda
Sang Lirak

Menyempilnya Candi Gebang

Masih membahas candi, kali ini sang lirak akan mengajak sobat lirak-lirik untuk menilik lebih jauh candi Gebang. Mau tahu keunikannya seperti apa? Mari kita bahas langsung….

Letak dan Lokasi



Candi Gebang terletak di Gebang, Wedomartini, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman. Perjalanan menuju candi ini lumayan sulit, karena akses jalan menuju candi ini agak terpencil. Berbeda dengan candi-candi sebelumnya yang relatif mudah, jalan menuju candi Gebang agak masuk ke perumahan warga sehingga menyulitkan kita menemukan candi ini. Terlebih plang candi yang relatif kecil tentunya membuat siapa saja sulit menemukan candi ini.
Saran saya sekali, gunakanlah motor untuk mencapai candi ini, karena motor dapat dengan mudah mencapai lokasi candi Gebang.

Yang menarik di candi ini



Hmm bila dibandingkan dengan candi-candi yang pernah saya sambangi sebelumnya, mungkin saya bisa bilang candi ini adalah candi paling kecil. Bentuknya seperti miniatur dari candi Prambanan. Yah, tidak terlalu menarik untuk dilihat, tapi wajib untuk dikunjungi karena candi ini cukup rapih bila dibandingkan dengan penataan candi lainnya.

Candi ini memiliki ukuran 5,25 x 5,25m dimana di dalamnya terdapat Yoni tapi tanpa Lingga. Entah mengapa tidak ada lingganya, ketika kami tanyakan pada petugasnya, ia tidak terlalu mengetahuinya.


Di sisi kanan terdapat Arca Nandiswara (Dewa Penjaga Arah Mata Angin), sedangkan di sisi lainnya terdapat Arca Manakala yang lagi-lagi hilang diambil oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.

Kesimpulannya

Well, candi ini cukup menarik untuk kita kunjungi. Meski bila dibandingkan dengan candi Plaosan mungkin tidak ada apa-apanya. Tapi ok untuk dikunjungi lah…

Salam Jalan-Jalan


Mas Senda
Sang Lirak

Senin, 07 Desember 2009

Candi Lor Plaosan

Hola sobat Lirak-Lirik? Masih bicara seputar candi, kali ini Sang Lirak akan membahas seluk beluk candi Lor Plaosan. Hmm seperti apa candi ini? Mari kita simak perjalanan ke candi Plaosan.

Lokasi



Untuk lokasi candi tempatnya tidak terlalu jauh dari kawasan candi Prambanan. Kalau naik motor sekitar 10-15 menit kita sudah sampai kawasan candi ini, kalau jalan lumayan pegel, karena kemungkinan jaraknya 2700 meteran. Cukup pegel untuk kita yang tidak terbiasa jalan. Rutenya kalau dari Prambanan jalan terus ke arah Utara, nanti sekitar 1500 meter ada pertigaan kita belok ke arah timur, nanti sekitar 1200 meter kita sampai ke candi ini.

Ada plang-plang kecil kok untuk mengarahkan kita ke sana jadi tidak perlu khawatir nyasar. Hanya saja kita membutuhkan mobil atau motor (berhubung kendaraan umum tidak ada, sobat lirak-lirik kalau bisa membawa kendaraan sendiri ya) untuk mencapai lokasinya, maklum lokasinya masih menyatu dengan dusun dan persawahan warga.

Candi ini memang terletak di dusun Plaosan, Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Jadi bukan termasuk daerah Jogja, tapi daerah perbatasan. Yah ibarat Jakarta-Depok atau Semarang-Bandungan atau Bandung-Sukabumi. Tidak terlalu jauh tapi sudah lewat dari perbatasan wilayah. Intinya kalau kesini memang harus diniatin, karena tidak mudah juga untuk mencapainya, maklumlah lokasinya memang agak terpencil.



Candi Plaosan adalah sebuah kompleks percandian, sama halnya seperti kompleks percandian Prambanan dimana banyak terdapat candi di sini. Jika kompleks candi Prambanan terdiri dari empat kelompok candi (kelompok candi Prambanan, kelompok candi Bubrah, kelompok candi Lumbung dan kelompok candi Sewu) maka candi Plaosan terdiri dari dua kelompok candi.

Plaosan Lor



Kelompok candi pertama adalah Plaosan Lor. Di Plaosan Lor kita akan menemukan dua buah candi utama kembar nan megah berdiri kokoh. Letaknya di utara dan selatan. Dengan ukuran 23,12 x 15,60 candi ini terlihat mirip dan sama persis. Dalam ruang candi utama terdapat 6 buah bilik, 3 bilik atas dan 3 bilik bawah. Dimana di bagian paling kanan bilik terdapat bekas pijakan tangga menuju lantai atas. Tinggi bagunan candi utamanya 22,24 m, sedangkan arah hadap ke barat.

Motif hias bagian candi antara lain motif bunga dalam jajaran belah ketupat, motif purnakalasa yang diwujudkan dalam bentuk bejana yang dari dalamnya tumbuh saluran-saluran ke arah kiri dan kanan, serta motif bujur sangkar yang kanan dan kirinya terdapat sayap dan diapit suluran-suluran.



Motif hias bagian tubuh candi berupa relief tokoh mahluk khayangan. Selain motif luar candi, terdapat pula relief di dalam bilik candi. Relief yang ada di bilik selatan candi utama selatan di dinding menggambarkan tokoh pria yang diapit pembantunya.



Panil di sebelah baratnya menggambarkan tokoh pria yang tengah duduk semedi dipayungi pembantunya yang ada di sebelah kanan, sedangkan di sebelah kirinya terdapat pohon Kalpataru.



Dinding utara terdapat relief dua tokoh masing-masing dipayungi oleh pembantunya. Relief yang ada di bilik utara candi utama selatan hampir sama dengan yang ada di bilik selatan, tetapi kondisinya lebih baik bila dibandingkan dengan yang ada di bilik selatan.

Di bilik candi utama utara juga terdapat relief yang menggambarkan tokoh, tetapi tokoh yang ada di candi utara adalah tokoh wanita.



Di bilik candi utama utara terdapat 4 panil relief, 2 panil di bilik Utara dan 2 panil di bilik selatan. Halaman kompleks candi Plaosan Lor terbagi menjadi 3 dimana halaman pertama terdapat dua candi utama, dibatasi pagar yang pada masing-masing jalan masu menuju candi terdapat bangunan pintu gerbang. Selain dua pintu gerbang terdapat bangunan pintu gerbang. Ada juga pintu gerbang penyambung antar kedua candi utama.



Di halaman kedua ditempati 3 deret candi perwara berjumlah 174 buah yang mengelilingi candi utama. Pada halaman ini juga terdapat empat buah atau dua pasang arca Dwarapala yang masing-masing mengapit jalan masuk menuju candi utara dan candi selatan. Halaman ini dibatasi parit keliling berkuran 440 x 270m sedangkan pada halaman ketiga dibatasi pagar berkeliling 460 x 290m.

Selain bangunan-bangunan diatas masih ada sub bangunan yang berada di sebelah utara deretan candi perwara yang mengelilingi kedua candi utama. Bangunan tersebut berupa batur pendopo yang dikelilingi oleh dua candi perwara berbentuk stupa. Disebuat batur pendopo karena di atas lantai terdapat 16 umpak batu yang keletakannya membentuk denah empat persegi panjang. Adanya umpak ini memberikan indikasi adanya bahan bangunan kayu yang berfungsi sebagai alas pendukung tiang-tiang bangunan yang sekarang sudah tidak bersisa lagi. Selain umpak, di atas lantai batur juga terdapat struktur altar yang denahnya membentuk huruf U. Bangunan ini juga dilengkapi dengan pintu masuk di sebelah barat.

Plaosan Kidul



Untuk candi Plaosan Kidul baru dua candi Perwara yang dipugar, candi utamanya belum terlihat ada pembangunan yang signifikan. Masih rata dan belum berbentuk, kata penjaganya masih dalam penelitian jadi belum bisa dibangun.


Kesan sang Lirak terhadap candi ini….



Menakjubkan, candi ini bisa dibilang candi dengan arca yang relatif terjaga keasliannya dan sedikit banyak jauh dari tangan-tangan jahil manusia. Beberapa arca bahkan terlihat utuh dibandingkan dengan candi-candi lain yang saya kunjungi. Beberapa relief bahkan terlihat jelas disini, ketika saya mengeliling bagian candi beberapa relief dan arca terlihat jelas tanpa adanya kerusakan berarti. Dari sini kita bisa lihat pengaruh Budha sangat kuat melingkupi candi ini, karena beberapa relief candi menggambarkan dewa-dewa yang dianut umat Budha. Ciri khas yang menonjol candi Budha dengan Hindu adalah bagian atasnya. Beberapa relief candi budha identik dengan tokoh yang memakai tutup kepala seperti stupa dan tidak ada Lingga dan Yoni atau patung Sapi seperti halnya candi-candi Hindu.

Sayangnya menurut kabar (http://news.okezone.com/read/2009/11/25/340/279221/arca-budha-kuno-candi-plaosan-dicuri) arca Budha di sini hilang dicuri orang. Jadi foto saya terakhir dengan patung ini sekitar lima hari sebelum dicuri, benar-benar perbuatan bedah dan tidak bertanggung jawab (T_T)....



Kalau boleh saya bilang candi ini lebih keren dibanding dengan candi Prambanan. Prambanan mungkin boleh bangga dengan ketinggiannya tapi masalah relief dan arca saya lebih cenderung memilih Plaosan sebagai destinasi wajib yang harus dikunjungi. So, kalau ke Jogja jangan lupa mampir ke candi Plaosan ya….

Salam Jalan-Jalan



Mas Senda
Sang Lirak