Tampilkan postingan dengan label Serunya Bedah Buku..... Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Serunya Bedah Buku..... Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 Maret 2010

Sang Lirak dan Sang Lirik di Gathering KBB bersama Trinity dan Elok Dyah Messwati



Siapa yang tak kenal Trinity dan Elok Dyah Messwati beliau berdua adalah penulis buku traveling yang sedang naik daun kali ini. Trinity terkenal dengan The Naked Travelernya dan Elok terkenal dengan Backpaker Hemat ke Australia.



Mereka berdua sengaja diundang KBB untuk bisa share tentang trik-trik perjalanan ke luar negeri. Huaa pokoknya seru banget deh waktu, Trinity menjelaskan banyak tentang pengalamannya dilamar orang-orang kulit hitam dengan alasan mirip Queen Latifah, nggak cuma itu pengalaman gila lainnya yang diceritakan adalah tentang pengalamannya ke pulau Palau, serta ke negara-negara lain seperti Eropa dan Asia tentunya.

Belum selesai dengan semua cerita serunya, Trinity merasakan nostalgia dengan Si Kumbangnya (baca ceritanya di The Naked Traveler 1). Ternyata Si Kumbang yang menjadi bagian hidupnya Trinity adalah sebuah mobil Kijang tahun 1989, berlogo Kijang bertanduk-tanduk. Sama persis dengan mobil saya, hehehe saya jadi malu sendiri nih….



Nah itu baru Trinity, kalau Elok Dyah Messwati memiliki pengalaman unik. Yup, Elok menceritakan bagaimana trik memangkas biaya sewa ketika kita backpacker. Salah satu caranya adalah dengan bergabung pada coachsurfing. Dengan bergabung pada coachsurfing, kita akan bisa berkesempatan tinggal di negara orang lain ketika kita menjadi host mereka saat mereka berkunjung ke negara kita. Timbal baliknya, ketika kita ke luar negeri kita bisa dengan mudahnya menginap dan tinggal di rumah mereka. Yah, mirip-mirip homestay lah, hehehe….

Intinya acara KBB memang keren banget deh, nggak heran kalau tamu yang hadir kali ini sangat banyak. So, sayang banget kalau nggak pernah dateng ke event-event KBB.


Salam Jalan-Jalan



Mas Senda
Sang Lirak

Selasa, 26 Januari 2010

Pahlawan Sunyi Di Sekitar Kita (Bedah Buku Se7en Heroes)

Sabtu lalu, saya (baca: Sang Lirak) dan teman-teman berkunjung ke Kinokuniya. Bukan tanpa sebab kami kesini, dalam acara ini kami datang menghadiri acara bedah buku Se7en Heroes. Buku yang diterbitkan oleh Bentang ini adalah sebuah buku tentang 7 Pahlawan yang disematkan oleh Kick Andy Award.

Hadir di acara tersebut pak Hartono (cucu pak Gendo), bidan Aminah (bidan yang mengabdikan dirinya pada masyarakat), Ben Sohib (penulis buku Se7en Heroes) dan tentunya ada Andy F.Noya sebagai host acara ini.

Seperti halnya Kick Andy, maka acara ini dibuat beti (beda tipis) dengan Kick Andy versi televisi. Bedanya Andy terlihat lebih santai dengan topi, polo shirt, celana training dan sepatu kets. Begitupun dengan penulisnya yang terlihat santai menggunakan jacket jeans, topi, celana jeans dan sepatu lari. Hanya dua narasumber yang terlihat sangat rapih di sana, tentunya pak Hartono dan bidan Aminah dong….

Mau tau inspirasinya seperti apa, mari kita mulai cerita ini….



Andy F. Noya pertama-tama mengajak kita mengenal pak Hartono, seorang cucu dari pak Gendo yang dengan ketulusan hatinya mau merawat pasien sakit jiwa tanpa pamrih. Entah ini titisan atau panggilan hati, tapi ia benar-benar tulus menghadapi para pasien sakit jiwa. Iapun menuturkan pengalaman dan suka dukanya mengurus pasien-pasiennya.

Pertama-tama ketika ia pertama kali merawat pasien, ia tidak pernah mendapatkan petunjuk apapun dari sang kakek. Satu hari menjaga, bogem mentah melayang di mukanya. Babak belurpun akhirnya menjadi santapan makanannya kala itu. Ia bingung dan tidak tahu harus berbuat apa agar pasien-pasiennya bisa dikendalikan. Kemudian ditanyakannya pada kakeknya. Namun kakeknya hanya tersenyum dan berkata, nanti kamu akan mengetahuinya sendiri.

Akhirnya dicobanya mencari tahu apa rahasianya untuk bisa mengendalikan pasien-pasiennya. Hasilnya nihil, beberapa bogem mentah malah menjadi makanannya selama tiga hari berturut-turut. Iapun kemudian geram, darah mudanya seolah bangkit, hingga ia datangi kakeknya. Ia marah karena tidak diberitahu cara untuk menghadapi mereka, ancamanpun tak pelak ia keluarkan. Dengan geram ia berkata tidak akan pernah mau mengurus pasien-pasien itu lagi kalau tidak diberitahu rahasia menghadapinya.

Melihat hal itu kakeknya hanya tersenyum saja, dengan menghela nafas dalam akhirnya kakeknya memberikan lima resep untuk menangani pasien-pasien tersebut. Lima hal itu adalah sabar, rendah hati, murah hati, tulus dan ikhlas, kalau lima hal ini bisa dilakukan dalam satu jam saja maka kamu bisa mengendalikan mereka. Sang kakek hanya memberikan pesan singkat itu saja pada Hartono.

Mendengar pesan itu, ia langsung mencobanya hari itu juga. Dalam waktu satu jam bukan rentang kendali yang ia dapatkan, malah bogem mentah yang semakin banyak hinggap di wajahnya bagai blash on yang di torehkan ke pipinya.

Hartono patah arang, iapun kemudian datang lagi ke kakeknya dan menyerah, ia tidak sanggup menjaga para pasien. Mendengar hal itu sang kakek hanya tersenyum saja, ia kemudian memberi satu rahasia lagi bagaimana mengendalikan mereka. Sang kakek hanya berkata kalau kamu tidak bisa menjalankan semua, maka cobalah bahagiakan hati mereka.

Esoknya Hartono dengan semangatnya memasak nasi goreng untuk para pasien, dengan semangatnya ia masakkan nasi goreng spesial untuk mereka. Bukan sambutan bahagia yang didapatkan, piring-piringpun berantakan di lempar kesana kemari. Untuk kesekian kalinya ia menjadi down, sang kakek yang melihatnya hanya tersenyum. Dengan suara paraunya ia memberitahu cara membuat bahagia mereka. “Hidup mereka sudah cukup sulit, beban mereka sudah terpatri lama dalam hati, dan pencarian jati diri mereka tak kunjung usai. Satu-satunya cara untuk membahagiakan mereka adalah dengan mengurangi beban mereka. Dengan begitu kamu akan membahagiakan mereka….”

Ketika saya mendengar cerita ini saya tak bergeming, dari pak Hartono dan pak Gendo saya mempelajari makna hidup yang sederhana. Ternyata tidak mudah menjadi seseorang yang sabar, rendah hati, murah hati, tulus dan ikhlas dalam satu waktu, butuh waktu yang lama untuk mempelajari hal tersebut. Dan pak Gendo adalah potret manusia yang sudah melewati asam garam kehidupan untuk mendapatkan lima hal itu.

Itulah inspirasi pertama yang datang dari pak Hartono, sekarang bagaimana dengan inspirator lain, mari kita simak cerita bidan Aminah.



Cerita bidan Aminah berbeda dengan cerita pak Hartono, berawal dari keprihatinan kemiskinan yang melanda dirinya, ia kemudian menotalkan diri untuk terjun dalam dunia sosial sepenuhnya. Menjadi bidan di daerah kumuh menjadi makanan sehari-harinya. Dari mulai Dumai sampai Bekasi.

Di Bekasi inilah ia mendapatkan pengalaman menarik tentang seorang ibu yang melahirkan anak di bawah prematur. Anak ini lahir pada umur kandungan 6 bulan dengan kondisi yang cukup mengenaskan saat itu. Kala itu mata dan mulutnya belum terbuka sempurna karena memang masih belum terbentuk. Namun ia tidak menyerah sampai disitu, dengan mobil pribadinya yang dijadikan ambulance ia berjuang dari rumah sakit ke rumah sakit untuk mendapatkan ruang ICU.

Bukan penerimaan yang didapatkannya, keputusaasaan diteriakkan mereka ketika mereka melihat kondisi bayi tersebut. Sang bidang menjadi tersentak, karena semua rumah sakit menasbihkan bayinya tidak memiliki harapan hidup yang pasti.

Bukan bidan Aminah namanya kalau hal seperti ini membuatnya patah arang. Dengan segenap kekuatannya ia kemudian memberikan perawatan intensif sendiri untuk membesarkan bayi ini. Tidak berhenti sampai situ, iapun kemudian menjual semua perhiasan yang dimilikinya untuk tetap memberikan nafas bagi bidan Aminah untuk bisa menyambung nyawanya, karena memang sang bayi tidak pernah lepas dari bantuan oksigen.

Belum cukup dengan masalah oksigen, bidan Aminah dipusingkan masalah asi yang harus didapatkannya untuk sang anak. Iapun berinisiatif membuat bank asi untuk mengumpulkan asi ibu-ibu di sekitarnya, dengan susah payah ia meminta asi pada ibu-ibu tersebut. Dan setelah perjuangannya selesai, sang anak bisa tumbuh sehat dan baik.

Sekarang umur anak tersebut berumur 2 tahun, yang artinya sudah memasuki tahap pertumbuhan yang lebih ekstra lagi, beberapa dokter ahli mengatakan padanya jika anak itu hidup sampai besar ia akan mengalami gangguan pendengaran dan penglihatan. Cobaan beratpun seolah tak berhenti, dengan kayakinannya ia terus melatih fungsi motorik anaknya untuk mendengar dan melihat dengan jelas. Bahkan sampai tulisan ini dibuat bidan Aminah masih berusaha berjuang agar anak itu bisa normal seperti orang kebanyakan.

Renungan….

Dari dua perjuangan ini saya merenung cukup dalam, betapa banyak orang yang tulus mau dan rela berkorban demi orang lain, betapa tidak harta dan fisikpun tak ragu dipertaruhkan demi membuat orang lain lebih baik. Malu rasanya hati ini melihat mereka, terlebih karena saya belum bisa melakukan hal seperti mereka.

Hmm bagaimana dengan sobat Lirak-Lirik? Sudahkah menjadi pahlawan untuk lingkungan kita sendiri?

Salam Jalan-Jalan


Mas Senda
Sang Lirak

Rabu, 11 November 2009

Indonesian Book Fair



Indonesia Book Fair event book fair penutup akhir tahun yang diadakan pada akhir tahun. Event ini cukup menarik karena banyak sekali penerbit yang bergabung. Beragam penawan diskonpun membuat pengunjung semakin tergiur untuk memburu buku murah.

Sabtu, 7 November 2009



Ketika kami mengunjungi Indonesia Book Fair pada hari sabtu kemarin, kami mendapati beragam acara menarik dari mulai bedah buku Api Sejarah (Ahmad Mansur), Sesi demo pembuatan kue, dongeng, Road Show film Sang Pemimpi sampai dengan bedah buku Burlian dari Tere Liye.

Semua rangkaian acara ini menyemarakkan Indonesia Book Fair dan membuat antusias peminat buku menjadi semakin tertarik untuk mengikuti dari awal sampai akhir. Tidak hanya itu saja beberapa stand menjual habis bukunya, buku-buku dari mulai harga Rp. 3.500 sampai dengan ratusan ribu, semua laku terjual bak kacang goreng.

Hanya beberapa stand saja yang terlihat kosong dalam penjualan. Stand dari Malaysia yang menjual buku-buku Malaysia tidak banyak dilirik oleh para pecinta buku. Mereka lebih senang mendatangi stand-stand penerbit besar seperti Mizan, Gramedia, Gagas Media dan Grafindo. Di stand ini kita akan mendapatkan buku-buku dengan harga miring dan melegakan kantong celana kita, hehehe….

Perburuan buku….



Setelah saya asyik berkeliling saya mendapatkan buku yang sudah cukup lama saya incar. Buku Taktis Menyunting Buku karya pak Bambang Trim menjadi incaran saya dalam perburuan kali ini. Buku ini membahas tentang seluk beluk mengedit sebuah tulisan di Gramedia buku ini cukup sulit ditemui karena memang stock buku yang mungkin terbatas. Beruntungnya saya mendapatkannya dengan mudah di pameran.

Actually….



Pameran ini cukup memuaskan dan patut dicatat di agenda tahunan kita. So, buat pecinta buku sayang sekali kalau gak dateng ke pameran ini.

Salam Jalan-Jalan


Mas Senda
Sang Lirak

Senin, 26 Oktober 2009

Jadi moderator di Indonesia Library and Publisher Expo



Hmm acara Indonesia Library and Publisher Expo adalah acara pameran pertama yang diselenggarakan IKAPI. Konsep acaranya cukup menarik karena perpaduan antara pameran perpustakaan dan penerbitan.

Pameran ini benar-benar memberikan sumbangsih berharga bagi para pengunjung tentang bagaimana cara mengelola sebuah perpustakaan.

Serunya jadi moderator



Ketika saya ditunjuk menjadi moderator acara bedah buku mas Tasaro (Galaksi Kinanthi) saya sangat terhentak dan cukup dibuat kaget. Kekagetan saya bukan karena saya belum pernah jadi moderator. Kekagetan saya lebih disebabkan pada buku yang akan saya bedah.

Hmm kalau mau jujur saya ngefans banget sama karya-karya mas Tasaro. Buat saya ia pantas disebut sebagai guru menulis novel. Karena jujur saya banyak belajar dari karya-karyanya.

Galaksi Kinanthi adalah sebuah Master Piece dari seorang Tasaro. Sebab ia mendedikasikan waktu hidupnya untuk membuat novel ini. Dan beruntungnya saya bisa diberi kesempatan satu panggung membawa acara bedah bukunya.

Actually, acara bedah buku ini mengalir mengikuti ritme suasana. Meski pengunjung yang datang dan melihat acara ini sedikit, tidak menyurutkan niat kami untuk menghidupkan acara ini. So, sayang banget buat yang gak dateng ke acara ini, terlebih para penggemar Tasaro.



Tasaro adalah orang yang cerdas dalam menyampaikan isi bukunya. Perbincangan kami membuat saya banyak belajar tentang bagaimana menghadapi audience meski tidak sesuai dengan harapan, actually ini adalah moment berharga untuk belajar banyak hal, teruntuk diri saya secara pribadi.

Fiuh, baiklah sekian dulu liputan jalan-jalan kali ini. Jangan lupa untuk pantengin terus cerita jalan-jalan dari Sang Lirak dan Sang Lirik….

Salam Jalan-Jalan


Mas Senda
Sang Lirak

Minggu, 25 Oktober 2009

Diskusi Buku Galaksi Kinanthi



Sehari setelah saya menjadi moderator mas Tasaro di Indonesia Publisher dan Librarary Expo. Saya dan teman-teman Komunitas Baca Buku Indonesia membuat acara diskusi Galaksi Kinanthi.

Mbak Ria (Duta Baca Buku bulan Oktober), menjelaskan secara terperinci tentang novel Galaksi Kinanthi. Dari sini diskusi kemudian mengalir menjadi perbincangan hangat tentang bagaimana batasan antara fiksi dan non fiksi. Kami mencoba mencari tahu tentang batasan pasti sebuah novel, dan akhirnya kamipun terbelenggu dengan sebuah pertanyaan tentang bagaimanakah standarisasi penulisan sastra di Indonesia?



Para audience juga mencoba mencari tahu tentang siapa sebenarnya Zhaxi atau Ajuj. Beruntung sehari sebelumnya saya sudah banyak bertanya dengan mas Tasaro, so semua pertanyaan terjawab dengan mudah ketika pertanyaan-pertanyaan bergulir.

Nah, buat yang mau tahu seperti apa novel Tasaro, sobat Lirak-Lirik bisa lihat blog saya di http://www.motivasihidup.com/2009/03/galaksi-kinanthi.html

Hmm sekian dulu liputan lirak-lirik kali ini. Jangan lupa untuk melihat liputan lirak-lirik lainnya….

Salam Jalan-Jalan


Mas Senda
Sang Lirak

Kamis, 15 Oktober 2009

Meet Imran Ahmad (Penulis Bocah Muslim di Negeri James Bond)



Wuih, hari senin tanggal 12 Oktober 2009, Sang Lirak datang menghadiri event bedah buku Imran Ahmad di MP Book Point, acaranya seru lho. Imran Ahmad yang lahir di Pakistan dan hidup di Inggris ini memaparkan banyak hal tentang muslim di Inggris.

Ternyata disana banyak sekali muslim dengan berbagai macam komunitas dan aliran. Ada muslim Arab, muslim Pakistan, muslim Asia dan lain-lain. Semua membaur layaknya muslim yang ada di Indonesia. Jadi karena saling membaur dengan masyarakat Inggris dan sekitarnya, muslim di Inggris mampu bersosialisasi dengan baik, bahkan tidak jarang yang berakulturasi dengan jalan pernikahan.

Apa yang menarik dari buku ini?



Buku ini memberikan persepsi baru tentang muslim sebenarnya. Realitas bahwa tidak semua muslim adalah teroris telah membuka mata pembaca di negara barat terbuka. Mereka jadi lebih paham sudut pandang muslim yang lain, mereka juga bisa melihat Islam dengan kacamata keindahan bukan dari kacamata persepsi yang di ciptakan kaum barat.

Sayangnya lebelisasi Islam adalah teroris, begitu mengakar kuat di benak dan pemikiran mereka. Sehingga tidak sedikit pembaca yang merespons keras terhadap memoar ini yang terkesan tidak sesuai dengan realitas yang tercipta dari image yang dibuat oleh pelabelisasi islam teroris.

Kesan sang lirak bertemu Imran….



Imran itu orang yang cukup menyenangkan, meski tidak seterbuka Peer dalam hal akses komunikasi (maklum dia gak mau kasih tau situs jejaring sosialnya), ia sangat ramah menyapa kami para audience.

Bahkan dia sempat mengucapkan beberapa kali terima kasih pada kami yang sudah hadir, actually orangnya menyenangkan dan bukunya juga menyenangkan. So, kalau mau tahu inspirasi dan cerita tentang seorang muslim yang tinggal di Inggris dengan sudut pandang berbeda, baca memoar ini ya!

Salam Inspirasi


Mas Senda
Sang Lirak

Senin, 05 Oktober 2009

Meet and Greet Peer Holm



Sabtu tanggal 3 Oktober 2009 kemarin, kami mendapatkan undangan khusus dari MP Book Point untuk menghadiri acara Meet and Greet dengan novelis asal Denmark, Peer Holm. Peer adalah seorang novelis sejarah, di buku terbarunya yang bertajuk….. Peer menjelaskan banyak hal tentang situasi tahun 1965. Dari hasil investigasi dengan salah satu reporter America, Peer jadi lebih tahu tentang situasi yang terjadi saat itu.



Hatinya yang cinta Indonesia membuat ia ingin memberikan sebuah gambaran fakta sejarah baru yang tidak pernah terungkap oleh sejarah Indonesia. Dengan kekuatan semangat dan spirit untuk menyelesaikan sebuah novel sejarah, ia pun kemudian merampungkan novel sejarah ini.



Dan hasilnya, fualah respons pembaca terhadap novel ini sungguh luar biasa. Banyak pengunjung yang antusias untuk membeli novel dan berfoto bersama. Termasuk kami, hehehe….

Kesan Sang Lirak



Novelis ini pandai merangkum sebuah fakta menjadi novel yang menarik unutk dibaca. Pengalaman hidup yang terjadi ketika ia di Indonesia membuat novel ini memiliki rasa gado-gado yang enak untuk disantap. Peracikan antara fakta sejarah, kisah cinta Peer dan fiksi tentang tokoh-tokoh pendukungnya membuat novel ini sayang untuk dilewatkan.

So, buat pecinta novel sejarah, jangan lewatkan novel ini ya….

Salam Jalan-Jalan



Mas Senda
Sang Lirak