Tampilkan postingan dengan label Jalan-Jalan Ke Museum Yu'..... Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jalan-Jalan Ke Museum Yu'..... Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 Maret 2011

Serunya Museum Zoology

Letaknya

Museum Zoology terletak di areal Kebun Raya Bogor, tepatnya di jalan Ir. H. Juanda No. 9. Dari stasiun Bogor tidak terlalu jauh kok, hanya perlu sekali naik angkot saja. Tapi ya kalau week end harus ekstra sabar karena macetnya bener-bener bikin hati teriris (lebay.com). But, anyway kalau sudah sampai sana sih pasti senang namanya juga jalan-jalan....

Koleksi

Sobat Lirak Lirik pasti akan berdecak kagum dengan koleksi jutaan spesimen yang terdiri dari puluhan ribu jenis fauna dari berbagai jenis. Diantaranya 650 jenis binatang mamalia (menyusui), 1100 jenis burung yang berasal berbagai wilayah di Indonesia, 600 jenis reptil dan ikan, moluska yang terdiri dari 2300 jenis, 10.000 jenis serangga serta 700 jenis invertebrate lainnya.

Saya saja sampai geleng-geleng kepala melihat banyaknya binatang yang sudah diawetkan, mirip kebun binatang hanya saja hewannya mati. Waktu saya kesana saya dibuat takjub dengan koleksi kupu-kupu dari museum ini, benar-benar terheran-heran ternyata museum ini punya banyak sekali koleksi kupu-kupu Indonesia lho....

Sejarahnya



Menurut sejarah berdirinya museum ini merupakan gagasan dari Dr. JC Koningsberger, dia adalah seorang ahli botani yang sedang berkunjung ke Kota Bogor pada Agustus 1894. Pada saat itulah museum yang luasnya 402m2 ini mulai dibangun hingga selesai akhir Agustus 1901, lalu saat itu diberi nama Landbouw Zoologisch Museum.

Kemudian pada 1906 namanya berubah menjadi Zoologisch Museum. Empat tahun kemudian namanya berubah kembali menjadi Zoologisch Museum en Laboratorium. Setelah sempat tidak berkembang karena pergolakan politik dunia pada masa penjajahan Jepang, lalu museum ini berganti nama lagi menjadi Museum Zoologicum Bogoriense di antara tahun 1945-1947. Hingga kini nama tersebut terus digunakan, kemudian sering disebut Museum Zoologi Bogor.

Kesan Sang Lirak



Museum ini benar-benar menyajikan pengalaman menarik untuk dikunjungi, beberapa spsesies kukang yang langka ada dan sudah diawetkan di sini. Dari kunjungan ke museum ini kita akan tercengang dengan ragam spesies di Indonesia. Sayangnya kita seringkali tidak peduli dengan spesies yang hidup di Indonesia, hingga mereka punah satu persatu....

Salam Jalan-Jalan


Mas Senda
Sang Lirak

Senin, 03 Januari 2011

Museum Madame Tussaud Hongkong

Holla sobat lirak-lirik, apa kabar semua? Lama tidak memberi kabar tentang perjalanan yang menginspirasi. Kali ini saya akan mengajak sobat lirak-lirik untuk melihat museum yang paling terkenal di Hongkong.

Kita mulai dengan sejarah Madame Tussaud



Marie Tussaud (lahir 1761, meninggal 1850), lahir sebagai Marie Grosholtz di Strasbourg, Perancis. Ibunya bekerja sebagai pembantu rumah tangga untuk Dr. Phillippe Curtius, seorang doktor yang mahir dalam pembuatan patung lilin. Curtius mendidik Tussaud dalam seni patung lilin. Di tahun 1765, Curtius membuat patung lilin Marie-Jeanne du Barry, selir dari Raja Louis XV dari Perancis. Cetakan dari patung tersebut adalah benda tertua yang masih ada dari sejarah museum patung lilin ini.

Pameran pertama dari karya lilin Curtius diadakan tahun 1770 dan menarik perhatian banyak orang. Pameran tersebut pindah ke Palais Royal di Paris pada tahun 1776. Curtius membuka tempat kedua untuk karya-karyanya ini di Boulevard du Temple pada tahun 1782 dengan nama "Caverne des Frands Voleurs", asal muasal dari bagian museum yang dikenal saat ini sebagai Chamber of Horrors (arti harafiah Kamar Horor).




Tussaud membuat patung lilin pertamanya, yaitu patung Francois Marie Arouet de Voltaire, atau yang lebih dikenal hanya dengan Voltaire, di tahun 1777. Tokoh-tokoh terkenal lainnya yang dipatungkannya antara lain Jean Jacques Rousseau dan Benjamin Franklin. Selama Revolusi Perancis ia membuat penutup wajah jenazah bagi para tokoh yang menjadi korban. Ia rela untuk mencari kepala-kepala para korban yang terputus ini di tengah-tengah timbunan jenazah supaya boleh menyelesaikan jenazah ini dengan sempurna.

Ketika Curtius meninggal di tahun 1794, ia meninggalkan koleksi patung-patung lilinnya pada Tussaud. di tahun 1802, Marie Tussaud pindah ke London. Oleh kerana masa itu adalah masa Perang Inggeris-Perancis, ia tidak dapat kembali ke Perancis hanya menggilinggi Inggeris dan Irlandia mempamerkan karyanya. Karyanya itu pernah dipamerkan di Lyceum Theatre. Ia akhirnya memiliki tempat pameran tetap di Baker Street, London, di tahun 1835 (di tempat yang disebut "Baker Street Bazaar").

Tokoh-tokoh terkenal lain kemudian mulai ditambahkan dalam ruang pameran, termasuk Horatio Nelson dan Sir Walter Scott. Beberapa patung lilin yang dibuat oleh Tussaud sendiri masih ada hingga hari ini. Di tahun 1842, ia membuat patung lilin dirinya sendiri yang sekarang berada di pintu masuk utama muziumnya.

Muzium lilin Madame Tussaud kini telah berkembang di London. Museum ini telah berkembang di Amsterdam, Las Vegas, New York City, Hongkong, Shanghai, Hollywood-Los Angeles, dan Washington D.C. Kini, patung-patung lilin Madame Tussauds terdiri atas tokoh-tokoh sejarah, keluarga kerajaan, bintang film dan atlet serta lain2. Museum Madame Tussauds saat ini dimiliki oleh sebuah perusahaan bernama Merlin Entertainments setelah menandatangani Tussauds Group pada bulan Mei 2007.

Koleksi Madame Tussaud Hongkong

Artis Laga: Jet Lee, Jackie Chan, Michele Yeoh, Donny Yen dan legenda Bruce Lee.
Artis Mandarin: Aaron Kwok, Barbie Hsu, Chiling Lin, Leslie Cheung, Leon Lai, Connie Chan dan satu dari empat naga langit Hongkong Andy Lau.
Artis Hollywood: Angelina Jollie, Brad Pitt, Johny Depp, Nicole Kidman, Sir Anthony Hopkin dan Marlyn Monroe.
Tokoh Budaya: Pablo Picasso, Shakespare, Pavaroti, Rembrann Van Riji, Lang Lang dan terakhir Madame Tussaud sendiri.
Atlit internasional: David Beckham, Tiger Woods, Yao Ming, Muhammad Ali, Ronaldinho dan Liu Xiang.
Pop Star: Anita Mui, Teresa Teng, Elvis Presley, The Beatles, Fredy Queen, Mick Jager, Lady Gaga, Madonna, Joe Young, Miriam Yeung dan legenda pop Michael Jackson.
Keluarga Kerajaan Inggris: Diana, Ratu Elizabeth II beserta suami dan anaknya Pangeran Charles.
Kartun: Astro Boy
Tokoh Politik Dunia: Donald Tsang, George W. Bush, Gandhi, Obama, Hu Jintao, Deng Xiao Ping, Wen Jiao Bao dan Lee Kuan Yew.
Fashionista: Naomi Cambell dan Elle Macpherspon.
Ilmuan: Einstein.





Kesan saya terhadap museum ini....




Kalau boleh diceritakan museum ini konsepnya keren, beberapa selebriti yang mungkin sulit ditemui oleh kita dapat ditemukan disini. Memang hanya lilin, tapi lilinnya dibuat semirip mungkin. Sobat lirak-lirik mungkin akan tercengang saat melihat replikanya, karena bentuk mata, bibir, sampai rahang semua sama persis dengan aslinya.

Nggak percaya? Datangi saja museum ini, tempat yang paling dekat ada di Hongkong, so jangan lupa mampir ke sana ya....

Salam Jalan-Jalan



Mas Senda
Sang Lirak

Rabu, 23 Juni 2010

Sang Lirak di Museum Ullen Sentanu

Museum apa yang paling keren se-Indonesia? Hmm sepanjang saya mengunjungi museum di Indonesia, baru Ullen Sentanu yang bisa membuat saya terbengong-bengong (karena saking takjubnya). Hmm mau tahu seperti apa museum ini, mari kita bahas satu persatu:



Pintu Masuk

Huff boleh dibilang pintu masuk di museum ini bikin saya kesal dan tidak yakin dengan harga yang ditawarkan pengelola museum. Bayangkan saja saya harus bayar dua puluh lima ribu rupiah hanya untuk menyaksikan museum saja (rada-rada kesal, karena harga normal masuk museum ya sekitar dua ribu sampai lima ribu rupiah), mana papan penunjuknya nggak meyakinkan lagi. Tapi akhirnya semua itu menjadi sirna tatkala pintu dibuka….

Petualanganpun dimulai….

Kami kemudian mulai masuk ke dalam museum dengan sebuah peringatan keras dari guide-ya “dilarang memotret ya!” Huft alhasil saya tidak mendapatkan foto bagian dalam museum ini. Sayapun dibuat bertanya-tanya alasan yang membuat kita tidak boleh memfoto bagian dalam museum ini.

Ternyata, eh ternyata di dalam museum ini penuh dengan lukisan, karena itu saya sangat wajar bila museum ini tidak boleh berfoto ria, karena pengalaman saya di museum Affandi juga seperti itu. Dan saya juga akhirnya mengerti alasan terbesar kenapa museum ini harganya larang (larang itu bahasa jawanya mahal).



Ruang Selamat Datang

Nah, di ruang ini ada patung selamat datang berbentu Dewi Sri dan terdapat cerita di balik pendirian museum ini. Nah, jadi museum ini mulai dirintis pada tahun 1994 dan mulai diresmikan berdirinya pada 1 Maret 1997, pemilihan tanggal ini dikarenakan ini adalah tanggal yang bersejarah untuk warga Jogja. Peresmian museum dilakukan oleh KGPAA Paku Alam VIII, Gubernur DIY pada waktu itu. Secara kepemilikan, museum swasta ini diprakarsai keluarga Haryono dari Yogyakarta dan berada di bawah payung Yayasan Ulating Blencong dengan penasehat antara lain: I.S.K.S. Paku Buwono XII, KGPAA Paku Alam VIII, GBPH Poeger, GRAy Siti Nurul Kusumawardhani, Ibu Hartini Soekarno, serta KP. dr. Samuel Wedyadiningrat, Sp.(B). K.(Onk).

Museum Ullen Sentalu Terletak di kawasan wisata Kaliurang tepatnya di dalam Taman Kaswargan dengan luas tanah 11.990 m2. Secara filosofis, nama Kaswargan dipilih karena terletak di ketinggian lereng Gunung Merapi, di mana kultur masyarakat Jawa menganggap Gunung Merapi sebagai tempat sakral. Taman Kaswargan berada dalam suatu “historical district”, yaitu kawasan bersejarah seperti Pesanggrahan Ngeksigondo dan Wisma Kaliurang. Pesanggrahan Ngeksigondo dibangun atas perintah Sultan Hamengku Buwono VII sebagai tempat peristirahatan keluarga Kasultanan Ngayogyakarta, sedang Wisma Kaliurang pernah digunakan untuk perundingan Komisi Tiga Negara, yaitu Amerika, Australia, dan Belgia pada masa revolusi kemerdekaan negara RI. Kaliurang merupakan kawasan wisata gunung dengan jarak 25 km dari pusat kota Yogyakarta, sehingga merupakan tujuan wisata yang sangat menarik dan potensial. Selain itu, terletak pada jalur wisata strategis yang menghubungkan obyek wisata Candi Borobudur dan Candi Prambanan.

Dalam perkembangannya, Museum Ullen Sentalu berpijak pada paradigma baru yang cenderung memaknai warisan budaya berupa kisah atau peristiwa yang bersifat tak benda (intangible heritage). Kecenderungan ini berawal dari suatu kondisi dimana Dinasti Mataram Islam cenderung menghasilkan budaya yang sifatnya intangible dibanding warisan budaya tangible yang lebih pada kebendaan. Padahal intangible heritage yang mencakup semua ekspresi, pengetahuan, representasi, praktek, ketrampilan yang dikenali sebagai bagian warisan budaya lebih rentan untuk pudar dan punah, apalagi dengan perkembangan arus globalisasi yang semakin tak terelakkan.
Bertolak dari kondisi tersebut, maka Museum Ullen Sentalu berupaya mengembangkan paradigma baru sebagai suatu terobosan yaitu dengan pemilihan lokasi yang berada di daerah pegunungan (resort), dan bukan di downtown; tidak menempati bangunan cagar budaya, tapi bangunan baru pada landscape kosong; dikelola sebagai private corporation dan bukan state institution; bersifat eclectic (carefully selected) collection dan tidak mengandalkan jumlah koleksi massive; lebih banyak memaknai warisan budaya berupa kisah atau peristiwa yang bersifat tak benda (intangible heritage) dan tidak selalu mengandalkan warisan budaya kebendaan (tangible heritage); tidak semua koleksi terdiri dari artefak dan benda memorabilia tetapi sebagian terdiri dari ambiance kebudayaan materi masa kini; tidak menggunakan label pada koleksi yang dipamerkan tetapi mengandalkan tour guide; berifat movement dan bukan monument; sebagai a-muse-ment dan bukan muse-um dan saat ini tengah dikembangkan untuk menjadi living museum dan bukan “dead” museum.

Salah satu upaya Museum Ullen Sentalu dalam memvisualisasikan berbagai warisan intangible dari Dinasti Mataram adalah dengan memanfaatkan media interpretasi dalam bentuk Conceptual and Imaginary Narrative Paintings.



Ruang Seni Tari dan Gamelan

Nah di ruang ini kita akan menemukan lukisan tarian jawa, mau tahu siapa saja yang ada di lukisan itu?

Di ruang ini kita akan menemukan lukisan tari serimpi yang dibawakan langsung oleh Gusti Nurul (puteri Mangkunegaraan-kalau di Jogja namanya Pakualam, nah kalau di Solo namanya Mangkunegaraan).

Dalam lukisan ini terdapat lukisan tarian yang menceritakan pertarungan antara bangsa Jawa dengan China. Karena ini tarian Jawa, ya pasti menang Jawa, hehehe…, begitulah kata sang tour guide dengan logat inggris yang rada medok.
Guwa Sela Giri.

Suatu ruang pamer yang dibangun di bawah tanah, karena menyesuaikan dengan kontur tanah yang tidak rata. Ruang ini berupa lorong panjang yang merupakan perpaduan Sumur Gumuling Taman Sari dan gaya Gothic. Arsitektur Guwa Sela Giri didominasi dengan penggunaan material bangunan dari batu Merapi. Ruang ini memamerkan karya-karya lukis dokumentasi dari tokoh-tokoh yang mewakili figur 4 kraton Dinasti Mataram. Melalui karya-karya lukis dokumentasi para tokoh yang dikemas dalam karya fine arts serta didukung kelengkapan data sejarah yang berkaitan, maka suatu interaksi antara karya seni, pengungkapan data-data seni budaya dan sejarah dari suatu peradaban yang intangible dapat terkomunikasikan secara kaya dan bebas. Ruangan ini boleh dibilang atraktif, terutama beberapa lukisan yang terlihat hidup. Salah satu lukisan yang hidup kalau kita perhatikan seperti melihat kita terus kemanapun kita pergi, hehehe rada-rada ngeri juga ngelihatnya….
Kampung Kambang

Merupakan areal yang berdiri di atas kolam air dengan bangunan berupa ruang-ruang di atasnya. Konsep areal ini diambil dari konsep Bale Kambang dan konsep Labirin. Kampung Kambang terdiri dari lima ruang pamer museum, yaitu: Ruang Syair untuk Tineke, Royal Room Ratoe Mas, Ruang Batik Vorstendlanden, Ruang Batik Pesisiran, dan Ruang Putri Dambaan.

- Ruang Syair untuk Tineke

Ruang yang menampilkan syair-syair yang diambil dari buku kecil GRAj Koes Sapariyam (putri Sunan PB XI, Surakarta) dan ditemukan di suatu ruang di dalam Kaputren Kasunanan Surakarta. Syair-syair itu ditulis dari tahun 1939-1947, oleh para kerabat dan teman-teman GRAj Koes Sapariyam yang akrab dipanggil Tineke sebagai puisi-puisi kenangan. Melalui syair-syair tersebut terungkap kemampuan intelektual dalam seni sastra para putri di balik tembok kraton.

- Royal Room Ratu Mas

Suatu ruang yang khusus dipersembahkan bagi Ratu Mas, permaisuri Sunan Paku Buwana X. Di ruang ini dipamerkan lukisan Ratu Mas, foto-foto beliau bersama Sunan serta putrinya, serta pernak-pernik kelengkapan beliau, seperti topi, kain batik, dodot pengantin, dodot putri, asesori, dll.

- Ruang Batik Vorstendlanden

Menampilkan koleksi batik dari era Sultan HB VII - Sultan HB VIII dari Kraton Yogyakarta serta Sunan PB X hingga Sunan PB XII dari Surakarta. Melalui koleksi tersebut terlihat suatu proses seni dan daya kreasi masyarakat Jawa dalam menuangkan filosofi yang dianutnya melalui corak motif batik. Perpaduan keindahan seni batik dan makna-makna filosofis yang dikandungnya menguak suatu warisan budaya intangible yang sangat kaya.

- Ruang Batik Pesisiran

Ruang ini melengkapi proses akulturasi budaya yang ada di Jawa. Dipamerkan kostum, yaitu keindahan bordir tangan dari kebaya-kebaya yang dikenakan kaum peranakan mulai jaman HB VII (1870-an) serta kain batik yang lebih kaya warna.

- Ruang Putri Dambaan

Ruang ini dikatakan sebagai album hidup GRAy Siti Nurul Kusumawardhani, putri tunggal Mangkunegara VII dengan permaisuri GKR Timur. Menampilkan dokumentasi foto pribadi dari masa kanak-kanak hingga pernikahannya (1921-1951). Melalui foto-foto tersebut tersaji muatan budaya yang bersifat intangible, seperti: ritual-ritual tahapan kehidupan seorang putri kraton beserta segala pernak-perniknya yang merupakan kekayaan warisan budaya Jawa. Ruang ini sangat istimewa karena terasa kedekatannya dengan Sang Tokoh, yang meresmikan sendiri Ruang Putri Dambaan tersebut pada ulang tahun ke-81 pada tahun 2002. Seperti ada ikatan batin antara tokoh dan Ruang Putri Dambaan karena album perjalanan hidup putri Mangkunegaran ini dititipkan secara pribadi dalam ruang tersebut di Museum Ullen Sentalu.

Gusti Nurul adalah putri Mangkunegaran yang memberi inspirasi para pangeran Mataram untuk tidak berpoligami. Beliau merupakan putri permaisuri yang gemar berkuda, yang tidak lazim pada era tersebut.

Nah diantara lima ruang ini, ruang syair untuk Tineke adalah ruang favorit saya. Disini terlihat sekali Tineke dengan sangat matang membuat sebuah puisi yang indah dan memekakkan jiwa bagi siapa saja yang sedang patah hati (kalau saya sih tidak, hehehe…).



Koridor Retja Landa

Merupakan museum outdoor yang memamerkan arca-arca dewa-dewi dari abad VIII-IX M. pada masa itu berkembang agama dan budaya Hindu Budha, sehingga ada pemujaan pada dewa-dewa yang diwujudkan dalam bentuk penyembahan pada arca-arca dewa tertentu.
Kalau boleh jujur arca-arca ini sebenarnya lebih menarik dilihat di candi-candi, kalau disini, kelihatannya lebih mirip pajangan saja.

Ruang Budaya

Di ruang ini dipamerkan beberapa lukisan raja Mataram, lukisan serta patung dengan tata rias pengantin gaya Surakarta serta Yogyakarta. Hmm ruangan ini sebenarnya mirip-mirip anjungan Jawa Tengah dan Jogja di Taman Mini, hayoo siapa yang sudah pernah kesana?

Terakhir kita minum-minum deh….

Di akhir kunjungan semua tamu mendapat suguhan minuman spesial, resepnya merupakan warisan Gusti Kanjeng Ratoe Mas, putri Sultan HB VII yang disunting sebagai permaisuri Raja Surakarta, Sunan PB X. Konon, minuman ini memberi kesehatan dan awet muda.

Minuman ini rasanya hangat, tapi jahenya nggak strong dan pas di lidah kita. Hmm kalau dirasa-rasain mirip wedang jahe, dicampur daun jeruk, melati, madu dan gula merah deh….
Kesimpulan

Museum ini boleh dibilang sangat profesional dalam pengelolaannya. Terbukti dengan teraturnya jam buka museum dan jam-jam dimana kita bisa mendapatkan tour guide Indonesia Language or English Language.

Situsnyapun dikelola profesional, sehingga wajar banget banyak turis asing yang jatuh cinta dengan museum ini. Tidak hanya profesional, fitur-fitur pendukung untuk bisa mencapai museum ini cukup mumpuni. Di daerah ini terdapat beberapa bungalow untuk sekedar menginap dan merasakan sensasi kesejukan Kaliurang. So, kalau ke Jogja jangan cuma tahunya Malioboro doang, basi tau!....

Salam Jalan-Jalan


Mas Senda
Sang Lirak
Sumber Pemberitaan: http://masdapit.com/

Kamis, 03 Juni 2010

Sang Lirak di Benteng Vredeburg



Hola sobat lirak-lirik, lama sekali tidak memberi kabar dan berita perjalanan yang menginspirasi. Hmm kali ini saya akan menghadirkan sebuah tempat yang wajib dikunjungi bila kita kesana. Mau tahu bentengnya seperti apa, simak penjelasan berikut:

Tentang asal usul nama Benteng….



Benteng ini pertama kali dibangun pada tahun 1760 oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I atas permintaan Belanda, alasannya sih untuk menjaga keamanan sultan. Maka dibangunlah seadanya dan tidak permanen. Tahun 1767-1787, benteng kemudian disempurnakan dan diberi nama Rusternburg yang artinya tempat peristirahatan. Nah, pada tahun 1867 terjadi gempa bumi yang dahsyat, yang berujung pada kerusakan benteng. Karena itu diadakan perbaikan hingga akhirnya nama bentengpun berubah menjadi Vrederburg (benteng perdamaian).

Penggunaan Benteng….



Kalau secara historis benteng ini mengalami pergantian dan fungsi, mau tahu rekam jejaknya, simak penjelasan berikut:

1761 – 1811 Benteng pertahanan VOC Belanda.
1811 – 1816 Markas militer tentara Inggris.
1816 – 1942 Markas militer tentara Belanda.
1942 – 1945 Markas militer tentara Jepang.
1945 – 1977 Markas militer Republik Indonesia

Nah, kalau sekarang semuanya sudah berubah fungsi menjadi benda cagar budaya karena pada 1981 ada penetapan benteng Vredeburg sebagai benda cagar budaya, hal ini tercantum di Surat Keputusan Mendikbud nomor: 0224/U/81 tanggal 15 Juli 1981.

Apa saja isi dari benteng ini?

Wuih kalau boleh bilang, benteng ini berisi diorama-diorama dari perjuangan dan sejarah Jogja di masa-masa menjelang kemerdekaan. Ada empat ruang diorama yang terdapat dalam benteng ini.



Diorama I : Berisi tentang periode perjuangan perang Diponegoro melawan Belanda, serta perjuangan para pahlawan merebut Jogja dari tangan Jepang (periode 1825-1942).

Kalau boleh jujur ruang ini adalah ruang diorama paling terang diantara semua diorama, cahaya matahari tembus ke dalam dan menyinari beberapa koleksi di ruang ini, diorama dalam ruang ini menarik karena kita bisa melihat bagaimana bentuk gue selarong tempat pangeran Diponegoro merumuskan rencana melawan Belanda, serta miniatur latihan tentara Jepang.



Diorama II : Berisi tentang periode awal kemerdekaan dan Agresi Militer Belanda (Periode 1945-1947).

Ruang diorama ini banyak menjelaskan bagaimana mencekamnya kala itu di Jogja, pertempuran berdarah sampai perundingan demi perundingan terjadi di Jogja. Kesan saya terhadap ruang diorama 2 sedikit bergidik, karena memang waktu itu saya sendiri masuk ruangan ini tanpa ada siapapun di dalamnya. Suasananya sangat gelap dan sepi. Sedikit banyak seperti merasakan sensasi tantangan Dunia Lain.



Diorama III : Berisi tentang periode perjanjian Renville sampai dengan kedaulatan RIS (Periode 1948-1949).

Ruang diorama ini berisi bagaimana perundingan-perundingan dahulu dilakukan. Pada ruangan ini beberapa koleksi terlihat lebih hidup dari sebelumnya, karena ada recorder suara rekonstruksi kejadian yang kita dengarkan di ruangan ini, hmm mirip-mirip dengan diorama di Lubang Buaya.



Diorama IV : Berisi tentang NKRI – Orde Baru (Periode 1950 – 1974)

Ruang diorama terakhir ini lebih banyak berisi tentang pemilu pertama kali di Jogja. Serta beberapa pakaian seragam tentara kala itu, ruangan ini sangat sepi pengunjung bila dibandingkan ruang diorama lainnya, bisa jadi karena ruangannya agak terpisah dari diorama lainnya.

Selain diorama ada juga meriam-meriam dan kursi-kursi yang dipakai pada zaman dahulu kala. Tempatnya klasik dan ok punya deh….

Kesimpulannya….



Tempat ini bisa jadi rekomendasi kita untuk mengenal sejarah lebih jauh, terutama bagaimana peran Jogja dalam membangun NKRI. Tempatnya keren banget, kalau mau foto-foto juga ok, suasananya mirip Kota Tua di Jakarta. Nah tunggu apa lagi? Ayo kita ke Vredeburg….

Salam Jalan-Jalan


Mas Senda
Sang Lirak

Senin, 17 Mei 2010

Sang Lirak di New Museum Wayang

Ada yang baru dengan Museum Wayang lho! Yup, kemarin saya habis keliling memperhatikan dengan seksama kondisi Museum Wayang. Setelah di renovasi, Museum Wayang lebih teratur menempatkan koleksinya. Beberapa koleksi Museum Wayang seperti Wayang Kulit, Wayang Golek sampai Boneka Unyil terpampang rapih dan tidak seberantakan dahulu.



Kalau kesana kita akan melihat bagaimana pihak pengelola sudah berusaha membuat museum ini menjadi sangat menarik. Terbukti, saya jadi amat sangat kepincut ketika berkunjung ke sana.



Beberapa wayang terlihat nampak lebih bersih dari sebelumnya, bahkan wayang yang sangat tua kini di tutupi kaca untuk mencegah tangan-tangan jahil menjamah mereka. So, pasti kali ini mata kita akan disuguhi pemandangan yang sangat menarik. Nggak cukup sampai di situ, di dalam museum ini juga ada pertunjukan wayang. Wah pokoknya museum ini keren banget deh, rugi banget kalau nggak dateng. Betul, betul, betul…?

Salam Jalan-Jalan


Mas Senda
Sang Lirak

Sabtu, 06 Februari 2010

Serunya Museum Fatahilah

Week End yang menyenangkan, tentunya bila diisi dengan kegiatan yang menyenangkan dan menarik. Kali ini saya akan mengajak sobat Lirak-Lirik untuk menjelajah lebih jauh Museum Fatahilah. Seperti apa serunya Museum ini, ok mari kita simak satu persatu.

Pelataran halaman




Di museum Fatahilah kita akan menemukan empat meriam. Di sisi kanan terdapat dua meriam, dan meriam kedua di sisi sebelah kiri. Meriam ini cukup besar, bila dibandingkan dengan meriam yang ada di museum gajah. Cukup menarik untuk sekedar mengambil gambar foto.

Masuk ke dalam (Sisi kiri)

Di sisi kiri kita akan menemukan sebuah lukisan yang cukup besar, hasil dari restorasi. Lukisan ini bercerita tentang keadaan Batavia kala itu, yang penuh dengan perjuangan, penyiksaan dan hiruk pikuk keadaan kota Batavia. Sebelum di restorasi lukisan ini sebenarnya dalam keadaan memprihatinkan karena memang kanvas yang ada di lukisan ini sudah mulai rusak termakan umur. Karena itulah para seniman berusaha bekerja keras merestorasi lukisan ini, hingga kita dapat melihatnya kembali dalam keadaan utuh, tanpa terlihat cacat sedikitpun.



Tidak hanya lukisan, di sisi kiri juga terdapat sebuah ukiran berbentuk kepala binatang. Karena tidak ada guide yang menjelaskan benda ini apa, jadi saya tidak bisa menjelaskan lebih lanjut lagi tentang benda ini.

Lebih ke dalam lagi

Kita akan menemukan beberapa karikatur tentang Jakarta tempo doeloe serta beberapa alat kesenian Jakarta, seperti Tanjidor. Cukup menarik, tapi berhubung terlalu banyak orang yang datang, saya jadi tidak sempat melihat dengan detil informasi yang tertera di dalamnya.

Lukisan Jan Van Pieterzoon Coen



Di dalam Museum Fatahilah, kita akan menemukan lukisan Jan Van Pieterzoon Coen asal Hoorn, Belanda (1587-1629). Ia adalah seseorang yang menghancurkan Jayakarta (1619) dan mendirikan Batavia. Saat itu ia menjabat sebagai Gubernur Jenderal Hindia Timur ke 4. Di tangan dinginnya, ia berhasil memajukan perdagangan VOC.

Lukisan ini cukup mengerikan, karena pelukis berhasil membuat lukisan ini terlihat hidup. Melihatnya lebih dalam kita akan mendapati sosok bengis dari guratan wajahnya. So, cukup menakutkan bila dilihat terlalu lama.

Pedang Keadilan

Pedang Keadilan adalah pedang eksekusi yang terbuat dari logam perunggu, berukuran panjang 110 cm dengan berat kurang lebih 4 Kg. Pedang Keadilan ini milik dari Gubernur Jenderal Jan Van Pieterzoon Coen.

Sebuah Prasasti Peringatan



Di bagian dalam museum Fatahilah kita akan menemukan sebuah prasasti. Di prasasti ini dijelaskan dahulu ada seorang Belanda yang dituduh berkhianat pada VOC. Karena pengkhianatannya ia kemudian dihukum oleh Gubernur Jenderal VOC, dengan cara ditarik dari kedua sisi dengan menggunakan kuda. Nah, untuk memperingatinya, dibuatlah prasasti untuk mengenangnya….

Beberapa Senjata Khas Daerah



Di museum ini dipamerkan juga beberapa senjata dari daerah semisal Kujang, Mandau bahkan tombak. Dari hasil pantauan saya, sepertinya senjata-senjata ini adalah koleksi pribadi yang dimiliki olah Gubernur Jenderal VOC masa itu.

Penjara VOC



Penjara ini adalah penjara bawah tanah, dimana ketinggiannya kurang dari delapan puluh centimer. Bisa kebayang dong kita harus nunduk untuk masuk ke tempat ini. Hmm, memang zaman dahulu VOC boleh dibilang sangat kejam terhadap tawanan. Bagaimana tidak di penjara bawah tanah ini dikumpulkan empat puluh tawanan sekaligus, padahal kapasitas satu sel tidak memungkinkan mengumpulkan empat puluh orang sekaligus. Walhasil mereka harus berjongkok untuk bisa masuk ke dalam penjara tersebut.

Karena keadaan penjara yang sempit, tak jarang membuat daya tahan tubuh para penghuni penjara menyebabkan kematian pada diri mereka sebelum akhirnya mereka dieksekusi hukuman mati. Biasanya penyakit yang menghinggapi para tawanan tipus, kolera dan disentri.

Meriam Si Jagur

Meriam ini dulunya ada di Malaka, tapi berhubung Malaka jatuh ke tangan VOC Meriam ini dibuat oleh NT. Bocarro di Maccau, terbuat dari logam besi baja berukuran panjang 3,81 Cm dengan berat 3,5 Ton.



Jika dibandingkan dengan meriam yang ada di Malaka, Meriam Si Jagur ini memang unik dan tiada duanya. Keunikannya terletak pada tangan yang mengepal di dekat sumbunya. Jika sobat Lirak Lirik perhatikan, meriam di Malaka tidak memiliki bentuk yang spesifik bila dibandingkan dengan bentuk meriam si Jagur. Dari ukuran dan diameterpun lebih besar meriam Si Jagur daripada meriam yang ada di Malaka. Boleh saya bilang ini adalah meriam terbesar yang pernah saya lihat dibanding dengan meriam-meriam sebelumnya.

So, meriam ini mungkin bisa jadi salah satu trademark menarik dari Museum Fatahilah.

Kesimpulannya



Museum ini layak untuk dikunjungi di akhir pekan ini, karena banyak sekali peninggalan kota Batavia yang bisa kita pelajari dan kita renungi sebagai bagian dari pengenalan sejarah budaya Jakarta. Bagaimana? Tertarik mengunjungi? Langsung aja datang ke Kota Tua Jakarta….

Salam Jalan-Jalan


Mas Senda
Sang Lirak

Sumber Foto: Koleksi Pribadi dan blog http://ferinaldy.wordpress.com/

Selasa, 12 Januari 2010

Serunya Museum Wayang

Halo sobat lirak-lirik yang senang sekali berjalan menapaki inspirasi demi inspirasi. Kali ini Sang Lirak akan membahas tentang museum yang unik dan wajib untuk dikunjungi.



Adalah Museum Wayang yang berkutat di pelataran zona kota tua Jakarta. Museum yang dahulunya sebuah gereja dengan nama De Oude Hollandse Kerk ini sudah berubah fungsi menjadi Museum Wayang sejak tanggal 13 Agustus 1975 dan diresmikan langsung oleh gubernur DKI Jakarta kala itu, Ali Sadikin.



Museum ini menawarkan hal-hal menarik yang sayang untuk dilewatkan. Di museum ini kita akan melihat beberapa wayang yang ada di Indonesia. Wayang-wayang tersebut memiliki ragam dan jenis yang berbeda-beda lho. Ada wayang berbahan kulit, ada yang berbahan kayu, bahkan ada juga yang berbahan rotan.





Seolah ingin menunjukan wajah perwayangan Indonesia, museum ini menampilkan koleksi wayang yang cukup komplit. Tidak hanya wayang-wayang Indonesia saja yang bisa kita lihat, wayang dari China serta beberapa boneka puppet dari negara Eropa seperti Prancispun menjadi koleksi berharga di museum ini.




Ketika saya kesana, saya menemukan hal-hal menarik dan unik. Pertama saya tidak menyangka kalau Unyil dan keluarganya akan masuk ke dalam museum ini. Yang kedua tentang ruang pertunjukan wayang yang memang disediakan khusus untuk para pengunjung melihat pertunjukan wayang serta koleksi wayang kuno yang masih terawat dengan baik.



Sungguh sebuah pengalaman menarik yang sayang dilewatkan, so kata siapa museum gak keren? Ada hal-hal menarik dari museum yang bisa kita gali kok….

Ok, sekian dulu jalan-jalan kali ini. Tetap semangat mencari inspirasi dari jalan-jalan ya….

Salam Jalan-Jalan


Mas Senda
Sang Lirak

Selasa, 13 Oktober 2009

Museum: Sultan Mahmud Badaruddin II



Di beberapa postingan sebelumnya Mas Senda sudah mengajak kita melihat-lihat beberapa Museum yang ada di Jakarta. Maka kali ini aku akan mengajak sobat lirak lirik sekalian untuk mengunjungi Museum Sultan Mahmud Badarudin II yang ada di kota Palembang. Terletak di seputaran Plaza Benteng Kuto Besak yang langsung menghadap ke Sungai Musi.



Gedung Museum ini telah dibangun sejak tahun 1823 M dan pada mula nya digunakan sebagai rumah dinas residen Belanda di Palembang. Sekarang bangunan ini selain di fungsikan sebagai museum, juga di gunakan sebagai kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Palembang.

Pada saat berkunjung kesana, aku tidak sempat masuk kedalam bangunan Museum, karena sudah terlampau sore. Tetapi di pelataran museumnya sendiri terdapat beberapa koleksi Arca yg bisa aku share disini.



Arca Ganesha
Merupakan salah satu Dewa dalam agama Hindu. Dalam suatu bangunan candi biasanya di tempatkan diruang (relung bagian timur atau barat, tergantung dari arah hadap candi). Ganesha merupakan Dewa Perang atau Kebijaksanaan yang memerangi kebodohan dan keserakahan manusia.
Arca ini di temukan di situs Pagaralam di jalan Mayor Ruslan. Situs ini terletak sekitar 500 meter di sebelah utara situe Candi Angsoko. Arca ini terbuat dari Batu Andesit.



Arca Budha
Arca yang ditemukan di Bukit Siguntang sekitar tahun 1920-an ini memiliki tinggi 277 cm. Pada saat ditemukan tidak dalam keadaan utuh, melainkan terdiri dari beberapa bagian. Awalnya yang di temukan hanya bagian kepalanya saja yang kemudian di simpan di Museum Nasional Jakarta. Beberapa bulan kemudian bagian badannya di temukan, lalu disatukan dengan bagian kepalanya.
Arca ini dibuat dari batuan Granit yang banyak di temukan di Pulau Bangka.



Arca Ganesha
Arca Ganesha yang belum selesai pembuatannya ini terbuat dari bebatuan Andesit dan masih dalam bentuk sketsa. Arca ini berasal dari situs Suralangun kabupaten Musi Rawas. Situs Suralangun terletak di tepi Sungai Rawas.
Meskipun belum selesai, dari sketsa yang ada masih bisa di perkirakan bahwa arca ini berasal dari sekitar abad ke-9 Masehi.



Arca Singa
Arca Singa ini sudah dalam keadaan yang tidak utuh lagi. Arca ini juga terbuat dari bebatuan Andesit.
Arca Arca Singa baik di lingkungan bangunan Candi maupun Klenteng, biasanya ditempatkan di sisi kanan kiri tangga pintu masuk. Fungsi Arca Singa dalam bangunan candi bisa juga sebagai pengganti makara yang merupakan simbol penolak bala.

Sumber:
- Direktorat Museum
- Tulisan di sekitar Arca yang terdapat di Museum Sultan Mahmud Badaruddin II

Minggu, 27 September 2009

Jalan-Jalan Ke Museum Bank Indonesia

Week End minggu ini enaknya kemana ya? Hmm kenapa gak coba ke museum Bank Indonesia. Museum yang baru di resmikan SBY pada tanggal 27 juli 2009 ini memiliki daya tarik yang sayang untuk dilewatkan lho....







Perpaduan bangunan yang antik dan teknologi yang canggih membuat museum ini layak dan wajib untuk dikunjungi. Museum yang dahulu adalah sebuah rumah sakit ini memuat rekam jejak sejarah perbankan di Indonesia. Dari sini kita bisa tahu bagaimana sejarah penggunaan mata uang di Indonesia. Serta logo BI dari tahun ke tahun.

Hmm Apa yang membuat Museum Bank Indonesia ini harus dikunjungi?





Wah kalau ditanya apa yang menarik dari museum ini maka jawabnya ya buanyak sekali yang menarik di museum ini. Ketika pertama kali kita masuk ke area museum kita akan disuguhkan permainan menangkap koin dari proyektor yang ditembakkan pada sebuah dinding. Bila kita berhasil menangkap koin yang ada pada proyektor, kita akan mendapatkan informasi tentang tahun pembuatan koin dan berasal dari mana koin tersebut. Permainan koin ini cukup seru, karena ternyata tidak mudah menangkap koin yang kita inginkan. Teman saya beberapa kali gagal menangkap koin karena belum ditangkap koin sudah terpantul dan menghilang dengan cepat. Oh ya di ruang ini kita tidak boleh menggunakan kamera dengan blitz lho! Penggunaan kamera dengan blitz akan mengganggu kinerja dari proyektor, so kalau mau berfoto ria matikan blitz ya….

Setelah puas bermain tangkap koin, kita akan melewati ruang theater. Hmm biasanya ruang ini menyajikan film sejarah keuangan yang ada di Indonesia. Sayangnya kami tidak bisa menonton film tersebut, karena jumlah kami hanya lima orang, sehingga film tidak diputarkan.









Hmm setelah melewati ruang theater kita akan melewati ruang diaroma-diaroma yang menceritakan tentang sejarah uang di Indonesia. Dari mulai tukar menukar (barter), sejarah jatuh bangunnya bank pemerintahan di masa kolonial Belanda. Ada banyak informasi yang bisa kita dapatkan di zona ini.

Diaroma-diaroma yang ada cukup jelas menggambarkan bagaimana proses uang dan bank di Indonesia. Tidak hanya itu suara-suara rekaman dan layar-layar datar menguatkan informasi yang ada dalam ruangan ini. Bagi yang ingin mempelajari sejarah uang, museum ini bisa menjawab semua keingintahuan kita tentang sejarah keuangan di Indonesia.





Selain diaroma-diaroma, museum ini juga menempilkan keunikan-keunikan lain. Bila kita berjalan lebih dalam kita akan menemukan sebuah touch screen yang berisi pilihan-pilihan film dari kasus-kasus terhebat keuangan Indonesia. Misalnya film tentang krisis moneter yang terjadi pada saat Soeharto turun.

Ada lagi yang menarik, di museum ini kita akan menemukan sebuah ruang penyimpanan emas. Ruang penyimpanan emas ini di desain mirip dengan ruang penyimpanan cadangan emas yang ada pada bank-bank di zaman dahulu.



Terakhir yang wajib dan harus kita kunjungi dari museum ini adalah ruang penyimpanan uang di Indonesia dari tahun ke tahun. Di sini kita akan menemukan uang-uang Indonesia dari zaman ke zaman. Dari mulai uang yang berbahan perak sampai uang kertas, semua tersaji lengkap di sini. Selain itu kita juga bisa menemukan koleksi mata uang asing keluaran zaman dahulu lho!....

Intinya museum ini, sayang untuk dilewatkan terlebih kita yang tinggal di Jakarta. Jangan ngaku orang Jakarta kalau belum pernah masuk ke museum ini! Dan jangan hanya tahu bangunannya Adung Sedayu aja ya (aka mall), hehehe….

Salam Jalan-Jalan


Mas Senda
Sang Lirak