Tampilkan postingan dengan label Enjoy Jakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Enjoy Jakarta. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 Mei 2010

Sang Lirak di New Museum Wayang

Ada yang baru dengan Museum Wayang lho! Yup, kemarin saya habis keliling memperhatikan dengan seksama kondisi Museum Wayang. Setelah di renovasi, Museum Wayang lebih teratur menempatkan koleksinya. Beberapa koleksi Museum Wayang seperti Wayang Kulit, Wayang Golek sampai Boneka Unyil terpampang rapih dan tidak seberantakan dahulu.



Kalau kesana kita akan melihat bagaimana pihak pengelola sudah berusaha membuat museum ini menjadi sangat menarik. Terbukti, saya jadi amat sangat kepincut ketika berkunjung ke sana.



Beberapa wayang terlihat nampak lebih bersih dari sebelumnya, bahkan wayang yang sangat tua kini di tutupi kaca untuk mencegah tangan-tangan jahil menjamah mereka. So, pasti kali ini mata kita akan disuguhi pemandangan yang sangat menarik. Nggak cukup sampai di situ, di dalam museum ini juga ada pertunjukan wayang. Wah pokoknya museum ini keren banget deh, rugi banget kalau nggak dateng. Betul, betul, betul…?

Salam Jalan-Jalan


Mas Senda
Sang Lirak

Minggu, 28 Maret 2010

Sang Lirak di acara Sapardi Joko Damono



Siapa yang tak kenal dengan Sapardi Joko Damono? Beliau adalah sastrawan senior yang mengangkat hal-hal sederhana menjadi sebuah karya yang berbicara. Kali ini sastrawan ini mengangkat hal-hal yang ringan seperti rumah menjadi karya andalannya. Yup, karya yang dibawakan Sitok Srenge, Happy Salma dan Niniek L. Karim berhasil memusatkan perhatian kami pada permainan puisi rumah.

Tidak hanya itu, sebelumnya juga mereka bertiga tampil solo membawakan puisi karya eyank Sapardi Joko Damono. Permainan puisi mereka mengalir jernih dan mengikat makna-makna yang keluar dari jiwa mereka. Sungguh ketika kita melihatnya, kita akan terbawa oleh lantunan kekuatan dari kata-kata beliau yang menggelitik, bahkan terkadang suram.



Tidak cukup sampai situ, permainan dari Jubing Kristianto dan kawan-kawan membuat kita terbuai dan semakin tergila-gila. Huaaa pokoknya bagian ini keren banget deh, nggak salah kalau Sang Lirik ngefans berat sama Jubing, hehehe….

Pelengkap akhir adalah permainan suara dari Paragita UI dan ITB Choir yang saling berharmonisasi dengan lantunan dirigen Aning Katamsi. Semua proses ini mereka lakukan dengan mulus tanpa ada cela sedikitpun. Pokoknya ini adalah penutup yang bagus deh untuk semuanya….

So apalagi ya? Hmm nggak tau deh apa lagi yang mau diceritain. Pokoknya yang nggak dateng pasti nyesel berat nggak liat perayaan ini.

Salam Jalan-Jalan


Mas Senda
Sang Lirak

Sang Lirak dan Sang Lirik di Gathering KBB bersama Trinity dan Elok Dyah Messwati



Siapa yang tak kenal Trinity dan Elok Dyah Messwati beliau berdua adalah penulis buku traveling yang sedang naik daun kali ini. Trinity terkenal dengan The Naked Travelernya dan Elok terkenal dengan Backpaker Hemat ke Australia.



Mereka berdua sengaja diundang KBB untuk bisa share tentang trik-trik perjalanan ke luar negeri. Huaa pokoknya seru banget deh waktu, Trinity menjelaskan banyak tentang pengalamannya dilamar orang-orang kulit hitam dengan alasan mirip Queen Latifah, nggak cuma itu pengalaman gila lainnya yang diceritakan adalah tentang pengalamannya ke pulau Palau, serta ke negara-negara lain seperti Eropa dan Asia tentunya.

Belum selesai dengan semua cerita serunya, Trinity merasakan nostalgia dengan Si Kumbangnya (baca ceritanya di The Naked Traveler 1). Ternyata Si Kumbang yang menjadi bagian hidupnya Trinity adalah sebuah mobil Kijang tahun 1989, berlogo Kijang bertanduk-tanduk. Sama persis dengan mobil saya, hehehe saya jadi malu sendiri nih….



Nah itu baru Trinity, kalau Elok Dyah Messwati memiliki pengalaman unik. Yup, Elok menceritakan bagaimana trik memangkas biaya sewa ketika kita backpacker. Salah satu caranya adalah dengan bergabung pada coachsurfing. Dengan bergabung pada coachsurfing, kita akan bisa berkesempatan tinggal di negara orang lain ketika kita menjadi host mereka saat mereka berkunjung ke negara kita. Timbal baliknya, ketika kita ke luar negeri kita bisa dengan mudahnya menginap dan tinggal di rumah mereka. Yah, mirip-mirip homestay lah, hehehe….

Intinya acara KBB memang keren banget deh, nggak heran kalau tamu yang hadir kali ini sangat banyak. So, sayang banget kalau nggak pernah dateng ke event-event KBB.


Salam Jalan-Jalan



Mas Senda
Sang Lirak

Kamis, 11 Maret 2010

Sang Lirak di Islamic Book Fair

Wohaa, lama tidak memberi kabar, kali ini Sang Lirak memberi kabar tentang jalan-jalan ke Islamic Book Fair. Hmm mau tau apa serunya? Mari kita bahas....

Islamic Book Fair ke 9



Pameran buku Islam terbesar di Indonesia ini memang tidak pernah main-main dalam menyelenggarkan perhelatan akbar di awal tahun. Kalau boleh jujur tahun ini Islamic Book Fair adalah tahun terbaik di banding dengan pameran-pameran sebelumnya.

Jujur saja, pameran kali ini lebih rapih dari segi tata letak dan penataan stand. Bila dahulu stand barang dan stand buku terkadang tercampur aduk, tahun ini tidak terjadi. Stand-stand terlihat tertata rapih dan menarik. So, buat kita pengunjung pasti nyaman banget ngeliatnya....

Hunting buku



Masing-masing stand memiliki buku unggulan tersendiri yang harus dan wajib diburu. Kita mulai dari stand Mizan. Hmm di stand ini buku yang harus dibeli tentu saja novel Muhammad karya Tasaro. Selain memang baru di launching hari rabu kemarin, novel ini adalah hasil kerja keras dari seorang novelis yang sudah tidak bisa ditampik karya-karyanya. Sst diskon novel ini lumayan juga lho. Untuk buku yang baru terbit kita akan dapat potongan diskon sebesar 20% dari harga normalnya 79.000, hmm lumayan kan.... Kalau datangnya week end stand Mizan juga menampilkan Upin dan Ipin, itu lho yang suka ngomong “betul, betul, betul....”



Stand Cicero menawarkan buku yang tidak kalah menarik. Buku Si Bujang dan Putri Malaka menjadi buku yang wajib di beli. Selain ceritanya bagus, ada endorsement saya juga disana, hahaha....



Kalau di stand Republika, yang menjadi primadona adalah novelnya Tere Liye yang berjudul Pukat, itu lho lanjutannya Burlian. So, sayang banget kalau nggak jadi orang pertama yang baca buku ini.

Hmm stand mana lagi? Oh ya di stand Sygma ngadain foto gratis langsung cetak setiap harinya bareng Bubi. Kemarin saya lihat anak-anak pesantren girang banget bisa foto bareng boneka ini, padahal kita semua tahu orang yang di dalam boneka itu sedang tersiksa kepanasan karena tak ada hawa untuk bernafas, fiuh....



Stand Serambi beda lagi, buku yang dijagokan buku-bukunya Ibrahim Elfiky terbaru. Ibrahim Elfiky adalah salah seorang master NLP kelahiran Mesir yang tinggal di Kanada dan mengembangan training NLP disana. Pokoknya keren deh bukunya....



Stand Lentera Hati, masih setia mengandalkan buku-buku dari bapak Quraish Shihab (hehehe jelas aja lha wong yang punya pak Quraish sendiri). Harganya juga cukup miring kok, apalagi kalo ngeliatnya sambil miring, hehehe....



Apalagi ya? Hmm stand penerbit Al Kautsar juga banting harga buku gede-gedean disana. Hmm berhubung saya tidak membeli di stand ini jadi saya tidak bisa jelasin banyak ke sobat Lirak-Lirik. Maklum pengunjung stand satu ini ngantri, jadi malas aja berdesakan dengan yang lainnya.



Stand Luxima menjagokan buku Teh Pipiet Senja terbaru. Hmm buku yang berjudul Cinta Dalam Sujudku ini sepertinya memoar dari teh Pipiet sendiri, sayang banget kalau penggemar novel tidak memilikinya. Oh ya di stand ini juga di jual bukunya Mamah Dedeh yang judulnya Dari Hati ke Hati....



Kalau Zikrul ngejagoin buku-buku anak yang dijual murah, fiuh saking murahnya para ibu-ibu yang sayang anak, sayang anak (ikuti logat penjual mainan biar lebih terasa penekanannya, coba aja denger penjaga standnya pasti dia ngomong begitu) berdesakan dan saling rebut. Ngeliatnya pusing banget....

Lain lagi dengan stand Menara Kudus. Stand ini ramai dikunjungi para pemburu buku karena mereka menjual berbagai macam tafsir terjemahan Al Qur’an yang cukup komplit. Dari mulai tafsir Ath Thabiri sampai Al Misbah, lengkap terjual disana. Nah tafsir Al Misbah ini tafsir yang biasa dipakai pak Quraish Shihab untuk ceramah lho.... Harganya lumayan nonjok, Rp. 2.200.000....



Kalau stand GIP, nggak terlalu istimewa, karena nggak ada penawaran yang benar-benar memikat hati. Buku yang tersedia seputar motivasi Islam dan novel teenlit Islami (hmm mungkin yang gemar genre ini tidak setuju dengan statement saya ini).



Stand Grafindo menjadi salah satu stand primadona lho.... Pasca kemenangan pak Mansur untuk buku Api Sejarah, orang-orang berbondong-bondong memburu bukunya. Apalagi buku yang keduanya sudah terbit, ya makin ramai saja orang ngeborong bukunya, laris manis....



Kalau stand Komunitas Bambu, masih setia dengan buku sejarah. Buku-buku perjuangan dan pemikiran Soekarno ada di sini, harganya miring kok....



Stand Gagas Media rada pelit. Stand ini cuma kasih 10% saja untuk buku barunya, padahal stand lain ngasihnya 20% sampai dengan 40%. Tapi it’s ok lah, toh nggak terlalu banyak juga buku yang saya cari di sini. Di stand ini saya hanya membeli dua buku Fahd Jibran, A Cat In My Eyes dan Curhat Setan.



Stand Ufuk jangan sampai nggak didatengin lho. Buku Atlantis yang harganya lebih dari seratus ribu di diskon di sini. Nggak hanya itu, buat yang suka novel Princess namun belum sempat beli novelnya, di sini kita bisa dapatkan harga special dan khusus tapi nggak pake telor, hehehe....



Untuk stand Qisthi Press, seperti biasa menjual La Tahzaan dan produk turunannya. Belum ada sesuatu yang baru di stand ini, meski begitu bagi pecinta Hikayat 1001 Malam, ada baiknya kita mampir ke sini membeli bukunya. Harganya murah kok dari Rp. 425.000 jadi Rp. 300.000 saja....

Apalagi ya? Ah sudahlah sekian dulu liputan jalan-jalannya. Besok sabtu saya mau kesana lagi, mau ketemu saya?

Salam Jalan-Jalan


Mas Senda
Sang Lirak

Sabtu, 27 Februari 2010

Senangnya Nonton Teater Boneka Cing-Cing Mong

Yihaa, sobat Lirak Lirik, apa kabar nih? Semoga tetap sehat dan tetap semangan jalan-jalan ria mencari inspirasi. Kali ini Sang Lirak dan Sang Lirik berkesempatan untuk nonton acara teater boneka Cing-Cing Mong. Mau tahu serunya seperti apa?

Cing-Cing Mong

Sebenarnya nama ini diambil dari asal kata bergandengan tangan. Arsitek teater boneka adalah Geger Jamaludin. Ceritanya teater boneka ini sebenarnya simple, bercerita seorang rakyat jelata yang mencintai seorang putri.

Raja di kerajaan tidak senang mengetahui anaknya menyukai seorang rakyat jelata, ketimpangan status membuat dirinya berpikir kedua kali untuk menikahkan keduanya. Tidak hanya dipusingkan dengan permasalahan anaknya saja, sang raja kini juga dipusingkan oleh permasalahan baru. Para lurah yang biasa memberikan upeti tiba-tiba saja membangkang dan tidak mau membayarkan upetinya pada sang raja.

Pada cerita lain diceritakan pemaksaan pajak yang terjadi pada saat itu, rakyat-rakyat kecil yang tidak memberikan upeti diberikan uang untuk raja, dipukuli, bahkan dibunuh. Kondisi ini membuat marah seorang rakyat (ini rakyat yang menyukai sang putri), hingga akhirnya ia menumpas panglima-panglima kerajaan yang lalim.



Kerajaan menjadi khawatir, mereka takut jika ini dibiarkan, pembangkangan akan semakin meluas ke beberapa wilayah bagian. Akhirnya mereka memutuskan untuk membuat rencana agar sang perompak dibasmi.

Rencananya adalah menyutujui hubungan sang rakyat jelata dengan sang putri. Saat rakyat jelata itu lengah maka ia langsung dibunuh.

Sang putri yang tidak tahu rencana ini, sangat senang karena hubungannya disetujui oleh sang raja. Merekapun akhirnya bersama bertemu di sebuah tempat untuk melangsungkan pernikahan. Saat mereka bertemu memadu kasih satu sama lain, tiba-tiba saja sang patih menghunuskan busur panahnya ke sang pemuda itu, hingga akhirnya ia meninggal.

Selesai deh….

Kesimpulannya



Teater ini menarik, karena banyak tarian dan logat-logat jawa yang tersaji di dalamnya. Pembicaraan khas Tegal menjadi khas dan mendominasi beberapa percakapan humoris khas boneka rakyat jelatanya.

Tidak berhenti dari situ, para pemain boneka ini terlihat sangat piawai memainkan boneka (wayang modifikasi). Beberapa adegan pelukan, tarian khas Jawa bahkan sampai dengan memanah terlihat real dan natural. Mereka berhasil membuat boneka tersebut hidup hingga terlihat nyata, pokoknya keren deh….

Meski begitu ada yang kurang dari teater ini. Permainan dari teater ini sangat cepat sehingga, penonton merasa kurang puas dengan permainannya. Andai saja mereka mau meluangkan waktu lebih banyak lagi, mungkin hal ini tidak akan terjadi. But so far ok lah kalau begitu (diucapkan khas tegal biar terasa penekanannya, hehehe).

Salam Jalan-Jalan


Mas Senda
Sang Lirak

Minggu, 14 Februari 2010

Menikmati Pempek Mentari

Yihaaa, apalagi yang kita bahas sobat Lirak-Lirik? Hmm kali ini saya akan membahas kuliner yang uenak banget. Mau tau makanan apa yang saya nikmati?



Pempek….



Yup, makanan khas Palembang ini memang khas. Dengan rasa segar ikan tengiri, seolah menguatkan rasa makanan ini. Hmm ketika saya diundang untuk mencoba pempek di Pempek Mentari, saya langsung tidak menolak.

Selain memang yang mengundang adalah teman saya, tempat makan pempek ini ternyata memang hi recommended untuk para pemburu kuliner yang berdomisili di Grogol.

Betapa tidak, pempek yang saya makan ternyata memiliki cita rasa yang ikan yang segar. Dimulai dengan menyantap pempek Adaan berbentuk bulat. Pempek ini sungguh terasa ikannya. Rasa ikan yang kuat dengan paduan bawang merah dan tepung kanji, membuat pempek ini sangat lezat disantap. Terlebih jika dalam keadaan hangat, hmmm it’s so delicous.

Selanjutnya saya menyantap pempek lenjer. Pempek ini begitu lembut dan lumer dimulut ketika kita menyantapnya, padu padan ikan yang dominan sekali lagi membuat lidah semakin bergoyang. Tidak hanya itu, ketika saya mencoba pempek telur, rasa telurnya segar, menyatu lembut dengan adonan pempek. Hmm sebuah penutup manis untuk sebuah rasa yang sangat uenak.

Rahasianya??



Setelah berkomunikasi dengan mami teman saya, saya jadi tahu kunci yang membuat pempek ini terasa enak. Apa rahasianya? Rahasianya terletak pada pemilihan bahan ikan yang segar. Asal tahu saja, pempek mentari ini menggunakan ikan tengiri hasil tangkapan di perairan Bangka dan Palembang. So, sudah pasti rasa kesegaran ikan lebih terjamin, terlebih dibuat dengan tangan dingin seorang yang sudah sepuluh tahun membuat pempek, so pasti rasanya pasti enak banget.

Tunggu apa lagi?



Kalau ada di Grogol, jangan lupa mampir ke Pempek Mentari. Lokasinya berada di Jl. Muwardi Raya No. 25A Grogol Jakarta Barat. Letak jalannya berada di belakang terminal Grogol. Dateng dan rasakan nuansa pempek Palembang sesungguhnya ya….

Salam Jalan-Jalan


Mas Senda
Sang Lirak

Senin, 08 Februari 2010

Menikmati Lunch di Indo Chine

Hola Sobat Lirak Lirik, yang doyan banget ngeliat dunia kami. Seperti biasa tiada kabar yang tidak kami kabari (hmm kayak jargon acara gosip ya??, hahaha). Kali ini kita saya akan membahas tempat makan yang paling besar dan cozy di FX.

Indo Chine



Indo Chine adalah restaurant, bar, and café yang terletak di FX Senayan. Tempat makan ini terletak di lantai delapan. Restaurant paling tinggi di antara semua restaurant lain. Restaurant ini mengambil view dari segala arah, sehingga kalau kita keluar, kita akan melihat view Sudirman yang indah, lengkap dengan pemandangan kemacetannya.

Indo Chine sendiri adalah restaurant affiliasi dari Singapore, yang punya cabang restaurant di mana-mana, seperti Jakarta, Singapore, Malaysia dan Thailand. Hmm untuk yang terbesar bisa dikatakan Jakarta menjadi salah satu yang terbesar, so buat yang mau meeting, tempat ini sangat bagus untuk tempat mencari inspirasi.

Haram dan Halal, ya pilih yang halal donk!



Jujur begitu di sodorkan menu, saya tercengang. Betapa tidak, di dalam campuran minumnya di dominasi oleh wine dan vodka. Sayapun menjadi pusing memilih minum apa disini.

Beruntung rekan saya yang mengajak saya makan di sini menyarankan menu paket buffet (makan sepuasnya) yang isinya menu halal dan minumnya teh manis. Dan fiuhhh, akhirnya saya bisa bernafas lega.

Dengan semangat saya melahap beberapa makanan halal yang tersaji di restaurant ini. Pertama saya menyantap Chicken Tom Yam, hmm dengan paduan bumbu rempah dan saus yang tidak begitu pedas, sang koki berhasil menyajikan sup Tom Yam dengan cita rasa terenak di dunia (sedikit lebay, maklum saja sepanjang hidup menyantap Tom Yam, baru kali ini merasakan yang seenak ini). Dengan dipadukan jamur utuh (bukan potongan kaleng) membuat rasa dari Tom Yam ini keluar. Pun dengan aroma bumbu yang tersaji di dalamnya, jahe yang menjadi komposisi di dalamnya menguatkan rasa dari Tom Yam ini. Kalau Farah Quin bilang, Hmm it’s so yummy….

Selanjutnya saya menyantap daging (hmm saya lupa namanya), kalau kata teman saya daging ini semacam rendangnya orang Thailand. Hmm saya pikir daging ini pedas, nyatanya setelah saya coba, tidak terasa pedas sedikitpun, malah bumbunya menurut saya mirip dengan bumbu spaghetti, karena aroma tomat yang cukup kencang tercium sedap di hidung saya.



Mushroom with Asparagus, hmm sebagai pecinta jamur dan sup asparagus, saya tidak mau menyia-nyiakan menu ini. Tak pelak saya memborong beberapa potong besar mushroom dan asparagus. Bumbunya mild di mulut, tapi meresap ke dalam lapisan jamur dan asparagus, membuat liuran air mengumpul deras untuk mengulum cepat makan ini. Huaah rasanya dahsyat deh…. Saya sangat merekomendasikan para vegetarian makan makanan ini, karena ini adalah jamur tersegar yang pernah saya santap.

Daging Ayam Panggang Thailand, hmm kalau ini tidak terlalu istimewa, enak tapi biasa saja. Kalau dipikir-pikir menyantap ayam ini mirip ayam Five Star yang dulu di jual supermarket Naga. Rasanya 11-12 dengan ayam tersebut, tapi ya biasa saja. Cuma lebih lembut saja dagingnya….

Konsep Restaurant



Kalau saya menilai konsep restaurant ini mengambil beberapa tema yang menyatu satu sama lain. Kalau kita masuk dari pintu masuk ke zona bagian kiri, kita akan menemukan konsep yang elegan namun romantis. Dengan kursi bulat-bulat, mengingatkan kita pada restaurant-restaurant Perancis, hmm mirip restaurant prancis Cassis.



Kalau kita ke luar, ada zona restaurant yang mirip suasana pantai yang lengkap dengan pasir putih dan kolam renang. Hmm makan berdua dengan seseorang di tempat seperti ini, romantis kali ya? Hahaha….



Zona dugem, nah kalau zona ini agak gelap di siang hari, kalau malam zona ini dibuka dengan tampilan musik menarik dari mas-mas dan mbak-mbak DJ. Fiuh beruntung saya kesininya siang, kalo malam bisa pusing saya denger musik jedak-jeduk dengan baluran asap rokok dimana-mana.

Bar, hmm disini ada zona bar yang menjual beragam Vodka dan Wine. Berhubung saya gak minum yang begituan, saya tidak duduk di zona ini (ya iya lah! lha wong zona ini hanya aktif di malam hari kok, hehehe).

Kesimpulannya



Hmm kalau masakan Asianya, saya boleh mengacungkan jempol, coz rasanya memang enak sekali. Bumbu yang khas dan tidak menyengat membuat restaurant ini layak untuk dikunjungi. Tempatnya yang cozy dan tenang (kalau siang) membuat suasananya ngangenin untuk dikunjungi kembali.

Buat yang muslim ada baiknya lebih berhati-hati memilih menu di restaurant ini, kalau menu Asia, ingredientnya halal, jadi cukup aman untuk disantap, begitupun dengan minuman jusnya. Jadi kalau mau aman pilih menu Asia dan minumnya jus-jusan saja. Oh ya, jangan ragu tanya makanan yang halal di sini dengan pelayannya. Jangan sampe berangkat sadar pulang mabak cuma karena makanan, malu kan sama Allah…. 

Salam Jalan-Jalan


Mas Senda
Sang Lirak

Sabtu, 06 Februari 2010

Serunya Museum Fatahilah

Week End yang menyenangkan, tentunya bila diisi dengan kegiatan yang menyenangkan dan menarik. Kali ini saya akan mengajak sobat Lirak-Lirik untuk menjelajah lebih jauh Museum Fatahilah. Seperti apa serunya Museum ini, ok mari kita simak satu persatu.

Pelataran halaman




Di museum Fatahilah kita akan menemukan empat meriam. Di sisi kanan terdapat dua meriam, dan meriam kedua di sisi sebelah kiri. Meriam ini cukup besar, bila dibandingkan dengan meriam yang ada di museum gajah. Cukup menarik untuk sekedar mengambil gambar foto.

Masuk ke dalam (Sisi kiri)

Di sisi kiri kita akan menemukan sebuah lukisan yang cukup besar, hasil dari restorasi. Lukisan ini bercerita tentang keadaan Batavia kala itu, yang penuh dengan perjuangan, penyiksaan dan hiruk pikuk keadaan kota Batavia. Sebelum di restorasi lukisan ini sebenarnya dalam keadaan memprihatinkan karena memang kanvas yang ada di lukisan ini sudah mulai rusak termakan umur. Karena itulah para seniman berusaha bekerja keras merestorasi lukisan ini, hingga kita dapat melihatnya kembali dalam keadaan utuh, tanpa terlihat cacat sedikitpun.



Tidak hanya lukisan, di sisi kiri juga terdapat sebuah ukiran berbentuk kepala binatang. Karena tidak ada guide yang menjelaskan benda ini apa, jadi saya tidak bisa menjelaskan lebih lanjut lagi tentang benda ini.

Lebih ke dalam lagi

Kita akan menemukan beberapa karikatur tentang Jakarta tempo doeloe serta beberapa alat kesenian Jakarta, seperti Tanjidor. Cukup menarik, tapi berhubung terlalu banyak orang yang datang, saya jadi tidak sempat melihat dengan detil informasi yang tertera di dalamnya.

Lukisan Jan Van Pieterzoon Coen



Di dalam Museum Fatahilah, kita akan menemukan lukisan Jan Van Pieterzoon Coen asal Hoorn, Belanda (1587-1629). Ia adalah seseorang yang menghancurkan Jayakarta (1619) dan mendirikan Batavia. Saat itu ia menjabat sebagai Gubernur Jenderal Hindia Timur ke 4. Di tangan dinginnya, ia berhasil memajukan perdagangan VOC.

Lukisan ini cukup mengerikan, karena pelukis berhasil membuat lukisan ini terlihat hidup. Melihatnya lebih dalam kita akan mendapati sosok bengis dari guratan wajahnya. So, cukup menakutkan bila dilihat terlalu lama.

Pedang Keadilan

Pedang Keadilan adalah pedang eksekusi yang terbuat dari logam perunggu, berukuran panjang 110 cm dengan berat kurang lebih 4 Kg. Pedang Keadilan ini milik dari Gubernur Jenderal Jan Van Pieterzoon Coen.

Sebuah Prasasti Peringatan



Di bagian dalam museum Fatahilah kita akan menemukan sebuah prasasti. Di prasasti ini dijelaskan dahulu ada seorang Belanda yang dituduh berkhianat pada VOC. Karena pengkhianatannya ia kemudian dihukum oleh Gubernur Jenderal VOC, dengan cara ditarik dari kedua sisi dengan menggunakan kuda. Nah, untuk memperingatinya, dibuatlah prasasti untuk mengenangnya….

Beberapa Senjata Khas Daerah



Di museum ini dipamerkan juga beberapa senjata dari daerah semisal Kujang, Mandau bahkan tombak. Dari hasil pantauan saya, sepertinya senjata-senjata ini adalah koleksi pribadi yang dimiliki olah Gubernur Jenderal VOC masa itu.

Penjara VOC



Penjara ini adalah penjara bawah tanah, dimana ketinggiannya kurang dari delapan puluh centimer. Bisa kebayang dong kita harus nunduk untuk masuk ke tempat ini. Hmm, memang zaman dahulu VOC boleh dibilang sangat kejam terhadap tawanan. Bagaimana tidak di penjara bawah tanah ini dikumpulkan empat puluh tawanan sekaligus, padahal kapasitas satu sel tidak memungkinkan mengumpulkan empat puluh orang sekaligus. Walhasil mereka harus berjongkok untuk bisa masuk ke dalam penjara tersebut.

Karena keadaan penjara yang sempit, tak jarang membuat daya tahan tubuh para penghuni penjara menyebabkan kematian pada diri mereka sebelum akhirnya mereka dieksekusi hukuman mati. Biasanya penyakit yang menghinggapi para tawanan tipus, kolera dan disentri.

Meriam Si Jagur

Meriam ini dulunya ada di Malaka, tapi berhubung Malaka jatuh ke tangan VOC Meriam ini dibuat oleh NT. Bocarro di Maccau, terbuat dari logam besi baja berukuran panjang 3,81 Cm dengan berat 3,5 Ton.



Jika dibandingkan dengan meriam yang ada di Malaka, Meriam Si Jagur ini memang unik dan tiada duanya. Keunikannya terletak pada tangan yang mengepal di dekat sumbunya. Jika sobat Lirak Lirik perhatikan, meriam di Malaka tidak memiliki bentuk yang spesifik bila dibandingkan dengan bentuk meriam si Jagur. Dari ukuran dan diameterpun lebih besar meriam Si Jagur daripada meriam yang ada di Malaka. Boleh saya bilang ini adalah meriam terbesar yang pernah saya lihat dibanding dengan meriam-meriam sebelumnya.

So, meriam ini mungkin bisa jadi salah satu trademark menarik dari Museum Fatahilah.

Kesimpulannya



Museum ini layak untuk dikunjungi di akhir pekan ini, karena banyak sekali peninggalan kota Batavia yang bisa kita pelajari dan kita renungi sebagai bagian dari pengenalan sejarah budaya Jakarta. Bagaimana? Tertarik mengunjungi? Langsung aja datang ke Kota Tua Jakarta….

Salam Jalan-Jalan


Mas Senda
Sang Lirak

Sumber Foto: Koleksi Pribadi dan blog http://ferinaldy.wordpress.com/

Minggu, 31 Januari 2010

Sensasi 4D di Taman Mini Indonesia Indah

Siapa yang tak kenal dengan taman mini, tempat hiburan yang kini sedang banyak mengalami pembenahan saat ini, punya wahana seru yang wajib dan kudu didatengin. Namanya Cinema 4D.

Yup, bukan cuma Dufan, The Jungle dan Trans Studio aja yang punya Cinema 4D, TMII juga punya tempat serupa yang gak kalah menariknya dibandingkan dengan cinema 4D yang ada di tempat ini.



Ketika saya ke sana saya menemukan pengalaman baru yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Kala itu saya dan kedua orang teman saya mencoba wahana 4D, awalnya kami tidak terlalu tertarik karena sepinya pengujung. Belum lagi tempatnya yang mojok bersebelahan dengan perpustakaan, yang tentunya membuat kami bingung untuk masuk atau tidak ke dalam. Bukan karena perpustakaannya kami dibuat bingung, hal yang paling membingungkan dari semua hal itu adalah penontonnya hanya kami bertiga.

Nah lho, gimana gak jadi nganga tuh? Benar-benar kalau kata Craig David, it so unbelieveble…. Yup bayangin aja, kita bertiga nonton film ini di ruang theater bioskop yang memuat 600 pengunjung. Bener-bener berasa milik sendiri nih studio, padahal kalau boleh jujur jumlah kami dengan karyawan masih banyakan karyawan lho….

Kesan kami….



Jujur ketika kami masuk, pikiran kami awalnya hanya berpikir paling filmnya sama dengan tiga dimensi. Nyatanya lebih dari itu, kami tidak hanya disuguhi gambar tiga dimensi, beberapa sensasi cipratan air dan hawa dinginpun seolah membuat semuanya tampak lebih nyata.

Betapa kagetnya kami ketika beberapa semburan air kecil menerpa kulit kami, begitupun dengan angin besar yang tiba-tiba datang. Sungguh sensasi yang sulit untuk dilupakan.

Kesimpulannya

Jangan takut kemahalan kalau mau nonton film 4D. Di TMII, kita hanya merogoh kocek 15.000 saja kok untuk nonton film kualitas 4D, murah kan? Coba kalau ditempat lain, pasti harganya bisa lebih mahal dari ini.

So tunggu apalagi, week end minggu ini gak ada salahnya menjadikan Cinema 4D TMII jadi destinasi yang layak untuk dikunjungi. Bukan begitu sobat lirak lirik?

Salam Jalan-Jalan


Mas Senda
Sang Lirak

Jumat, 29 Januari 2010

Konser Alat Musik Gesek Sa' Unine

Untuk ketiga kalinya di bulan Januari 2010 ini saya berkesempatan menikmati suguhan pagelaran Musik yang sangat special. Jika dua pagelaran sebelumnya dinikmati di dalam satu ruangan teater, maka pagelaran kali ini diadakan di halaman depan gedung Bentara Budaya Jakarta (BBJ) yang berada di dalam kawasan perkantoran Gramedia-Kompas, Jalan Palmerah Selatan 17, Jakarta Pusat.



Acara yang diadakan pada tanggal 28 yang lalu yang di mulai pada pukul 19.30 WIB merupakan persembahan dari Rumah Budaya Tembi untuk ulang tahun Kompas yang ke-45. Oleh karena itu Sa' Unine membawa serta 45 orang pemain alat musik gesek ke Panggung Bentara. Tema yang diangkat untuk konser kali ini adalah "Masa Lalu Selalu Aktual". Sesuai dengan tema nya maka lagu lagu yang di usung pun tentu saja lagu-lagu "Jadul" yang bisa membawa kita bernostalgia ke masa-masa kecil kita.

Para personel Sa'Unine yang mengenakan celana hitam dengan atasan Sorjan, serta Oni selaku Konduktor mengenakan Sorjan dan Celana batik langsung membawa kita ke masa masa lalu dengan suguhan pertama yaitu lagu "Di bawah Sinar Bulan Purnama" yang memang seperti nya sengaja di pilih untuk mendukung suasana malam itu yang sedang disirami cahaya bulan.

Selesai dengan lagu pertama, Sa' Unine membawa kita untuk berkunjung ke empat pulau di Indonesia. Dimulai dari timur, kita mendapatkan suguhan lagu "Sio Manise" yang berirama riang, berasal dari pulau Maluku. Selanjutnya kita di bawa ke pulau Kalimantan dengan menikmati lagu "Kota Baru", dilanjut ke Pulau Sumatera dengan lagu "Kambanglah Bungo". Selanjutnya kita dibawa terbang jauh menuju Pulau Sulawesi dengan suguhan lagu "Angin Mamiri" yang mengalun dengan megahnya. Menutup Sesi lagu2 daerah ini, kita dibawa kembali ke Timur Indonesia dengan suguhan lagu "Ina Ni Keke".

Ternyata tidak hanya Alat Musik Gesek yang dapat kita nikmati pada malam itu, di tengah tengah pertunjukkan Oni memperkenal kan seorang teman lama nya yang juga seorang penyanyi bernama Krisna Widianto yang membawakan dua buah lagu yang bergenre pop. Agak merusak suasana yang sudah terbangun syahdu sebelumnya akibat hentakkan drum saat Krisna mempertunjukkan kebolehan suara nya. Tetapi, itu tidak berlangsung lama, karena kita kembali dibawa hanyut dalam lagu-lagu dolanan semasa kita kecil dulu di sesi berikutnya. Khususnya untuk orang jawa, pasti familiar dengan lagu lagu yang disuguhkan. Walaupun saya bukan orang Jawa, tapi saya cukup familiar dengan lagu lagu tersebut.

Sesi Dolanan ini di buka oleh "Cublak Cublak Suweng" yang langsung di sambut heboh oleh penonton. Oni juga menggandeng seorang Sinden yang bernama Silir Pujiwati untuk membawakan lagu "Lir Ilir" yang melengkapi suasana nostagia penonton akan permainan masa kecil dulu. "Padang Bulan" dan "Gundul Gundul Pacul" merupakan persembahan selanjutnya.
Di lagu Gundul Gundul Pacul, penonton di bawa untuk ikut bergoyang karena irama irama nakal yang disuguhkan membuat kita tidak bisa tidak ikut menggerakkan badan.
Konser yang berdurasi +/- 1 jam ini benar benar mampu memberikan satu suguhan yang berbeda dan tidak bisa di lupakan.

Mengenai Kelompok Sa' Unine

Sa’unine adalah komunitas pemain musik gesek dari ISI Jogjakarta. Komunitas ini terbentuk di tahun 1990 an berangkat dari sebuah kebutuhan untuk saling belajar dikalangan mahasiswa musik gesek di ISI. Dalam perkembangannya, komunitas ini selain banyak mengisi kebutuhan pemain musik gesek di beberapa orkestra di Indonesia seperti Nusantara Chamber Orchestra, Twilight Orchestra, Magenta maupun Edwin Gutawa Orchestra, mereka juga banyak mengisi kebutuhan di kelompok-kelompok musik yang memerlukan sentuhan permainan string. (Sumber: www.bentarabudaya.com)

Kamis Malam minggu depan tepatnya tanggal 4 Februari 2010 akan ada pertunjukkan dari seorang Gitaris yang Mumpuni Jubing Kristianto, masih bertempat di Halaman Gedung Bentara Budaya, acara akan dimulai pukul 19.00.
Bagi sobat lirak lirik yang ingin menyaksikan suatu suguhan permainan gitar yang apik, tidak ada salahnya untuk coba hadir di acara ini, siapa tau kita bisa ketemu disana ;)

Salam jalan jalan,

Ayuk Lin
Sang Lirik

Sumber Foto: Kompas

Selasa, 26 Januari 2010

Pahlawan Sunyi Di Sekitar Kita (Bedah Buku Se7en Heroes)

Sabtu lalu, saya (baca: Sang Lirak) dan teman-teman berkunjung ke Kinokuniya. Bukan tanpa sebab kami kesini, dalam acara ini kami datang menghadiri acara bedah buku Se7en Heroes. Buku yang diterbitkan oleh Bentang ini adalah sebuah buku tentang 7 Pahlawan yang disematkan oleh Kick Andy Award.

Hadir di acara tersebut pak Hartono (cucu pak Gendo), bidan Aminah (bidan yang mengabdikan dirinya pada masyarakat), Ben Sohib (penulis buku Se7en Heroes) dan tentunya ada Andy F.Noya sebagai host acara ini.

Seperti halnya Kick Andy, maka acara ini dibuat beti (beda tipis) dengan Kick Andy versi televisi. Bedanya Andy terlihat lebih santai dengan topi, polo shirt, celana training dan sepatu kets. Begitupun dengan penulisnya yang terlihat santai menggunakan jacket jeans, topi, celana jeans dan sepatu lari. Hanya dua narasumber yang terlihat sangat rapih di sana, tentunya pak Hartono dan bidan Aminah dong….

Mau tau inspirasinya seperti apa, mari kita mulai cerita ini….



Andy F. Noya pertama-tama mengajak kita mengenal pak Hartono, seorang cucu dari pak Gendo yang dengan ketulusan hatinya mau merawat pasien sakit jiwa tanpa pamrih. Entah ini titisan atau panggilan hati, tapi ia benar-benar tulus menghadapi para pasien sakit jiwa. Iapun menuturkan pengalaman dan suka dukanya mengurus pasien-pasiennya.

Pertama-tama ketika ia pertama kali merawat pasien, ia tidak pernah mendapatkan petunjuk apapun dari sang kakek. Satu hari menjaga, bogem mentah melayang di mukanya. Babak belurpun akhirnya menjadi santapan makanannya kala itu. Ia bingung dan tidak tahu harus berbuat apa agar pasien-pasiennya bisa dikendalikan. Kemudian ditanyakannya pada kakeknya. Namun kakeknya hanya tersenyum dan berkata, nanti kamu akan mengetahuinya sendiri.

Akhirnya dicobanya mencari tahu apa rahasianya untuk bisa mengendalikan pasien-pasiennya. Hasilnya nihil, beberapa bogem mentah malah menjadi makanannya selama tiga hari berturut-turut. Iapun kemudian geram, darah mudanya seolah bangkit, hingga ia datangi kakeknya. Ia marah karena tidak diberitahu cara untuk menghadapi mereka, ancamanpun tak pelak ia keluarkan. Dengan geram ia berkata tidak akan pernah mau mengurus pasien-pasien itu lagi kalau tidak diberitahu rahasia menghadapinya.

Melihat hal itu kakeknya hanya tersenyum saja, dengan menghela nafas dalam akhirnya kakeknya memberikan lima resep untuk menangani pasien-pasien tersebut. Lima hal itu adalah sabar, rendah hati, murah hati, tulus dan ikhlas, kalau lima hal ini bisa dilakukan dalam satu jam saja maka kamu bisa mengendalikan mereka. Sang kakek hanya memberikan pesan singkat itu saja pada Hartono.

Mendengar pesan itu, ia langsung mencobanya hari itu juga. Dalam waktu satu jam bukan rentang kendali yang ia dapatkan, malah bogem mentah yang semakin banyak hinggap di wajahnya bagai blash on yang di torehkan ke pipinya.

Hartono patah arang, iapun kemudian datang lagi ke kakeknya dan menyerah, ia tidak sanggup menjaga para pasien. Mendengar hal itu sang kakek hanya tersenyum saja, ia kemudian memberi satu rahasia lagi bagaimana mengendalikan mereka. Sang kakek hanya berkata kalau kamu tidak bisa menjalankan semua, maka cobalah bahagiakan hati mereka.

Esoknya Hartono dengan semangatnya memasak nasi goreng untuk para pasien, dengan semangatnya ia masakkan nasi goreng spesial untuk mereka. Bukan sambutan bahagia yang didapatkan, piring-piringpun berantakan di lempar kesana kemari. Untuk kesekian kalinya ia menjadi down, sang kakek yang melihatnya hanya tersenyum. Dengan suara paraunya ia memberitahu cara membuat bahagia mereka. “Hidup mereka sudah cukup sulit, beban mereka sudah terpatri lama dalam hati, dan pencarian jati diri mereka tak kunjung usai. Satu-satunya cara untuk membahagiakan mereka adalah dengan mengurangi beban mereka. Dengan begitu kamu akan membahagiakan mereka….”

Ketika saya mendengar cerita ini saya tak bergeming, dari pak Hartono dan pak Gendo saya mempelajari makna hidup yang sederhana. Ternyata tidak mudah menjadi seseorang yang sabar, rendah hati, murah hati, tulus dan ikhlas dalam satu waktu, butuh waktu yang lama untuk mempelajari hal tersebut. Dan pak Gendo adalah potret manusia yang sudah melewati asam garam kehidupan untuk mendapatkan lima hal itu.

Itulah inspirasi pertama yang datang dari pak Hartono, sekarang bagaimana dengan inspirator lain, mari kita simak cerita bidan Aminah.



Cerita bidan Aminah berbeda dengan cerita pak Hartono, berawal dari keprihatinan kemiskinan yang melanda dirinya, ia kemudian menotalkan diri untuk terjun dalam dunia sosial sepenuhnya. Menjadi bidan di daerah kumuh menjadi makanan sehari-harinya. Dari mulai Dumai sampai Bekasi.

Di Bekasi inilah ia mendapatkan pengalaman menarik tentang seorang ibu yang melahirkan anak di bawah prematur. Anak ini lahir pada umur kandungan 6 bulan dengan kondisi yang cukup mengenaskan saat itu. Kala itu mata dan mulutnya belum terbuka sempurna karena memang masih belum terbentuk. Namun ia tidak menyerah sampai disitu, dengan mobil pribadinya yang dijadikan ambulance ia berjuang dari rumah sakit ke rumah sakit untuk mendapatkan ruang ICU.

Bukan penerimaan yang didapatkannya, keputusaasaan diteriakkan mereka ketika mereka melihat kondisi bayi tersebut. Sang bidang menjadi tersentak, karena semua rumah sakit menasbihkan bayinya tidak memiliki harapan hidup yang pasti.

Bukan bidan Aminah namanya kalau hal seperti ini membuatnya patah arang. Dengan segenap kekuatannya ia kemudian memberikan perawatan intensif sendiri untuk membesarkan bayi ini. Tidak berhenti sampai situ, iapun kemudian menjual semua perhiasan yang dimilikinya untuk tetap memberikan nafas bagi bidan Aminah untuk bisa menyambung nyawanya, karena memang sang bayi tidak pernah lepas dari bantuan oksigen.

Belum cukup dengan masalah oksigen, bidan Aminah dipusingkan masalah asi yang harus didapatkannya untuk sang anak. Iapun berinisiatif membuat bank asi untuk mengumpulkan asi ibu-ibu di sekitarnya, dengan susah payah ia meminta asi pada ibu-ibu tersebut. Dan setelah perjuangannya selesai, sang anak bisa tumbuh sehat dan baik.

Sekarang umur anak tersebut berumur 2 tahun, yang artinya sudah memasuki tahap pertumbuhan yang lebih ekstra lagi, beberapa dokter ahli mengatakan padanya jika anak itu hidup sampai besar ia akan mengalami gangguan pendengaran dan penglihatan. Cobaan beratpun seolah tak berhenti, dengan kayakinannya ia terus melatih fungsi motorik anaknya untuk mendengar dan melihat dengan jelas. Bahkan sampai tulisan ini dibuat bidan Aminah masih berusaha berjuang agar anak itu bisa normal seperti orang kebanyakan.

Renungan….

Dari dua perjuangan ini saya merenung cukup dalam, betapa banyak orang yang tulus mau dan rela berkorban demi orang lain, betapa tidak harta dan fisikpun tak ragu dipertaruhkan demi membuat orang lain lebih baik. Malu rasanya hati ini melihat mereka, terlebih karena saya belum bisa melakukan hal seperti mereka.

Hmm bagaimana dengan sobat Lirak-Lirik? Sudahkah menjadi pahlawan untuk lingkungan kita sendiri?

Salam Jalan-Jalan


Mas Senda
Sang Lirak

Minggu, 24 Januari 2010

Menikmati Conquest of The Galaxy: Mars

Jumat malam, tanggal 22 Januari 2010 kemarin kami (baca: Sang Lirak dan Sang Lirik) mendapat kesempatan perdana melihat pertunjukan tari dari grup Condors di Theater Salihara. Grup ini menampilkan sebuah tarian kontemporer yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya, saking kerennya saya (Sang Lirak) sampai speechless gak tau harus ngomong apa. Tapi gak enak kan, kalo gak di share sama sobat Lirak-Lirik….

Ok mau tau liputannya? Kencangkan ikat pinggang dan kita mulai sekarang….



Pertama-tama kita akan disambut dengan gambar-gambar plesetan khas Jepang, dari mulai gambar-gambar kartun, sampai dengan logo Columbia Pictures yang berubah menjadi orang berkepala botak bertuliskan Condors di bawah. Sejak saat itu dimulailah permainan tari yang spektakuler….

Yup, kita akan mulai disuguhkan tarian kontemporer dengan musik rock sebagai backgroundnya, dengan serempak mereka (baca: Condors) menari dengan lincahnya. Tidak ada perbedaan antara gemuk dan kurus, mereka memainkan harmonisasi yang indah dan saling mengisi satu sama lain. Dan ini adalah awal pemanasan dari mereka untuk menunjukan kualitas mereka sebagai penari kelas dunia.

Dan kemudian permainanpun dimulai….



Condors memulai bagian-bagian humor dalam tariannya, plesetan dari Sesame Street berubah menjadi Rotten Street, dimana plesetan-plesetan berupa pantomim mengajak para penonton untuk menebak alphabet seperti yang mereka tampilkan. Kita diajak untuk menebak hurup A untuk Anjing, M untuk Manohara sampai dengan Z untuk… (gak enak dibicarakan di sini coz terlalu berani humornya).

Kemudian bagian humor lainnya ditampilkan dengan pantomim olah raga khas Jepang, dimana terdapat senam sampai lompat dengan gaya humor tentunya.

Selanjutnya permainan berlanjut, dan kami disuguhkan permainan tarian yang spektakuler tentang seorang cowok yang hobi bola namun ia berusaha untuk fokus terhadap kerjaannya. Dalam adegan ini ada banyak hal yang lucu tercipta disana, seperti sindiran terhadap J.Co, sampai dengan plesetan Ariel, sungguh menghibur dan membuat perut seperti diaduk-aduk.

Penaklukan Mars



Cerita terus berlanjut, ketika mereka mulai menaklukan mars, dengan bantuan musik merekapun menari. Tidak ada yang spesial sampai sini, hingga salah satu dari penari kebelet buang air, humorpun dimulai. Sebuah tisu yang seolah melayang tiba-tiba mendatanginya untuk membersihkan kotoran yang dibuangnya.

Cerita tidak berhenti sampai disitu, sampai salah satu penari haus dan ia melihat botol Coke melayang. Agar terkesan melayang dan berada di luar angkasa, mereka berdua akhirnya minum dengan tubuh terbalik (kepala di atas dan mulut di bawah) dengan bantuan rekan mereka untuk membalikkan tubuhnya. Kejadian lucupun dimulai ketika salah seorang rekan yang membuat mereka terbalik, menggoyang-goyangkan badan sang penari yang terbalik, walhasil penari yang terbalik ini menjadi terbatuk-batuk dan memuncratkan minumannya, mukanya terlihat memerah, dan penontonpun tertawa terbahak-bahak dibuatnya. Terlebih ketika sang penari merasa kesakitan karena terdesak, tiba-tiba saja menari ketika mendengar lagu pengiring.

Belum cukup dengan minuman, mie instant kemasan (Pop Mie)pun tiba-tiba saja datang. Mereka yang terlihat lapar, dengan semangat mencoba memakannya, tentunya dengan kondisi badan yang sebelas dua belas dengan minum Coke. Dan kelucuan semakin memuncak, tatkala Pop Mie yang dimakan salah satu penari tidak bisa masuk karena diganggu oleh rekannya yang memegangi badan dalam keadaan terbalik.

Beberapa klip humorpun diputar

Untuk menyiapkan property-property selanjutnya, Condors kemudian menyiapkan beberapa klip yang lucu dan menggugah semangat. Kami semua dibuat tertawa dengan beberapa klip yang ditunjukan untuk berpindah dari satu fram ke frame lain.

Cheer Leaders or Pom-Pom



Kemudian mereka memainkan peran sebagai perempuan cheers. Beberapa terlihat cantik dan kemayu, namun tidak sedikit yang terlihat menyeramkan karena brewok mereka. Merekapun kemudian memainkan tarian seperti penari cheers dan berinteraksi dengan para audience. Beberapa audiencepun ada yang diberi semangat, ada juga yang di ledek, sungguh melihatnya membuat kami menjadi terpingkal-pingkal.

Permainan pencahayaan dalam balutan tarian



Kemudian permainan tari mereka menjadi lebih serius dari sebelumnya, lagu rock yang membuka tarian mereka semakin mengeras dengan padu padan sinar yang menari-menari diatas. Sungguh indah dan memukau penglihatan ketika mereka beraksi.

Dan tarian terakhir di tutup dengan beach frame



Gambaran tentang keadaan pantai dari mulai penjaga pantai, permainan voli, surfing sampai bersnorkling ria mereka mainkan dengan baik. Kami menjadi terhibur ketika mereka melakukan beberapa adegan tentang aktivitas pariwisata pantai. Gambaran ini semakin terlihat nyata karena didukung oleh audio effect mumpuni.

Tarian mereka menjadi sangat hidup di bagian ini dan yang paling saya sukai Ryohei Kondo selaku pendiri Condors benar-benar menunjukan totalitas dan kemampuannya dalam menari, inilah bagian paling perfect yang menutup tarian kontemporer di Salihara.

Kesimpulannya….



Pertunjukan tari kontemporer Jepang kelas dunia ini memang layak diberi Standing Applause karena penampilan mereka sempurna. Tidak ada kekurangan yang berarti dalam pertunjukannya ini. Kualitas dunia yang disandang Ryohei memang terbukti pada pertunjukan di Indonesia. Beruntunglah kita sebagai negara Asia ke tiga yang mereka datangi untuk pertunjukan Conquest of The Galaxy: Mars setelah Singapore dan Malaysia.

Kerja keras mereka untuk mencari hal-hal yang lucu untuk diangkat dalam pertunjukan mereka patut diacungi jempol, sebab kami dibuat tertawa terbahak-bahak melihat penampilan mereka. Intinya penampilan mereka perfect, so buat yang gak dateng pasti nyuesel banget.

Tentang Condors



Condors adalah grup tari kontemporee yang semua anggotanya laki-laki. Didirikan oleh Ryohei Kondo, membuat grup ini menjadi lebih berwarna. Kondo berhasil merekrut orang-orang yang hebat untuk mendukung proyek tari kontemporer yang atraktif dan energic. Mereka adalah Junichi Aota (Pembuat Klip Animasi dan Boneka untuk Condors), Yoshihiro Fujita (peserta CJB Canada/Japan Dance Partnership Project), Toshihiro Hashizume (penari yang sering terlibat di pertunjukan dalam dan luar negeri), Satoshi Ishibuchi (pemilik gelar Ph.D untuk studi seni pertunjukan dari Waseda University, ia juga seorang gitaris band rock terkenal Jinko Tentai), Michihiko Kamamura (guru bela diri Cina), Yasuharu Katsuyama (Penyanyi band The Heart Knockers), Kensaku Kobayashi (Aktor Panggung dan penulis sketsa Condors), Satoshi Okuda (Perupa Visual dan Guru Seni) dan Kojiro Yamamoto (Pemilik Gelar M.A Pendidikan dan peserta CJB Canada/Japan Dance Partnership Project). Mereka semua kemudian berkolaborasi memainkan permainan tari yang fantastis dan luar biasa.

Karya-karya mereka yang sudah ditampilkan seperti Kissing The Sun Series I-V (1996-1999), 2000 Virgin (1999), Spring Man (2000), Light My Fire (2000) dan 2000 Darling (2000) selalu mendapatkan standing applause dari para penontonnya. Begitupun dengan dua karya terakhir Conquest of The Galaxy: Jupiter dan Conquest of The Galaxy: Mars.

Salam Jalan-Jalan



Mas Senda
Sang Lirak

Sumber Foto: Milik Pribadi dan Situs JKFL