Tampilkan postingan dengan label Bumi Sriwijaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bumi Sriwijaya. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 Januari 2010

Kambang Iwak

Kambang Iwak atau kolam ikan dalam bahasa Indonesia merupakan taman kota yang berada di antara jalan Tasik, Dr. Sutomo, Gajahmada dan Jl. Indra tempat dimana orang-orang Palembang biasa menghabiskan waktu bersantai nya, mulai dari anak-anak, remaja, dewasa hingga orang tua dapat kita jumpai disini. Pagi hari, tempat ini biasa dijadikan arena jogging, di siang hari beragam aktivitas dapat dilakukan disini, mulai dari makan, belanja atau hanya sekedar menikmati pemandangan yang ada. Baik pemandangan taman itu sendiri, rumah dinas walikota yang berhadapan langsung ataupun lalu lalang kendaraan yang melintas tiada hentinya di keempat jalan diatas. Sore menjelang malam hari biasa nya pengunjung akan bertambah ramai terutama pada malam minggu atau malam-malam menjelang hari libur. Mereka biasanya menghabiskan waktu dengan santap malam bersama, baik dengan teman, kolega, pacar hingga keluarga.





Tepat di tengah-tengah kolam terdapat air mancur yang jika malam hari akan tampak indah sekali akibat pantulan dari lampu-lampu yang sengaja dipasang mengelilinginya. Arena jogging yang di bangun mengelilingi kolam ikan tersebut dibuat senyaman mungkin, lantainya sudah dipasangi keramik dan di beberapa bagian juga dipasangi penyangga2 yang berupa atap untuk melindungi para pengunjung dari sinar matahari. Ada pula satu bangunan yang dibangun agak tinggi yang terdapat tulisan Bank Sumsel, dipergunakan sebagai tempat untuk menikmati pemandangan sekitar. Disni juga terdapat Hot Spot yang dapat dinikmati oleh semua pengunjung. Pohon-pohon besar yang tersebar di sekeliling taman ini menambah suasana sejuk yang memang sudah terbangun.



Taman yang berada tepat di jantung kota palembang ini pada tahun 2007 sempat menadi taman terbersih dan juga di tahun lalu masuk dalam daftar 5 top list taman kota yang paling indah dan bersih dalam Virgie’s travel guide, Metro TV.



Sebelum direnovasi seperti sekarang ini, tidak banyak orang yang ingin mengunjungi tempat ini. Kambang Iwak hanya akan ramai pada hari minggu pagi, tempat dimana orang-orang melakukan berbagai olahraga, mulai dari lari-lari kecil, sprint ataupun beberapa gerakan peregangan otot. Selain itu di satu sisi yang langsung menghadap jalan Gajahmada, dulu merupakan pusat penjualan tanaman-tanaman hias. Semenjak renovasi besar-besaran yang dilakukan pemerintah kota Palembang terhadap tempat ini, entah kemana larinya para penjual tanaman hias tersebut. Sekarang lokasi ini dijadikan pusat jajanan dan cinderamata.



Saya sendiri mempunyai kenangan khusus dengan Kambang Iwak ini, dulu semasa di SD, pada saat pelajaran Orkes (olah raga dan kesehatan), jika ada ujian untuk mengambil nilai cabang lari, maka tempat inilah yang akan dijadikan arena unjuk gigi siapa yang mempunyai waktu paling sedikit untuk mengelilingi taman ini. Bagi siapa saja yang pernah atau bahkan sedang bersekolah di SD Kartika II-3 (dulunya SD Kartika 3) pasti pernah merasakan berlari mengelilingi Kambang Iwak ini. Karena memang lokasi SD saya ini hanya berjarak +/- 500 meter dari Kambang Iwak. Di salah satu bagian terdapat satu pohon beringin yang sangat besar dan rimbun dan dikalangan anak2 SD beredar kabar yang mengatakan jika di pohon tersebut ada penghuni nya. Jadi pada saat kita berlari melintasi pohon ini, dipastikan langkah kaki kita akan dipacu lebih cepat :D



Sekian dulu postingan saya kali ini tentang taman kota yang berada di kota Palembang, sampai bertemu kembali dengan postingan-postingan berikutnya dari kita yang tidak kalah menariknya.

Salam Jalan Jalan,

Ayuk Lin
Sang Lirik

Sumber foto: Facebook Kambang Iwak

Selasa, 13 Oktober 2009

Museum: Sultan Mahmud Badaruddin II



Di beberapa postingan sebelumnya Mas Senda sudah mengajak kita melihat-lihat beberapa Museum yang ada di Jakarta. Maka kali ini aku akan mengajak sobat lirak lirik sekalian untuk mengunjungi Museum Sultan Mahmud Badarudin II yang ada di kota Palembang. Terletak di seputaran Plaza Benteng Kuto Besak yang langsung menghadap ke Sungai Musi.



Gedung Museum ini telah dibangun sejak tahun 1823 M dan pada mula nya digunakan sebagai rumah dinas residen Belanda di Palembang. Sekarang bangunan ini selain di fungsikan sebagai museum, juga di gunakan sebagai kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Palembang.

Pada saat berkunjung kesana, aku tidak sempat masuk kedalam bangunan Museum, karena sudah terlampau sore. Tetapi di pelataran museumnya sendiri terdapat beberapa koleksi Arca yg bisa aku share disini.



Arca Ganesha
Merupakan salah satu Dewa dalam agama Hindu. Dalam suatu bangunan candi biasanya di tempatkan diruang (relung bagian timur atau barat, tergantung dari arah hadap candi). Ganesha merupakan Dewa Perang atau Kebijaksanaan yang memerangi kebodohan dan keserakahan manusia.
Arca ini di temukan di situs Pagaralam di jalan Mayor Ruslan. Situs ini terletak sekitar 500 meter di sebelah utara situe Candi Angsoko. Arca ini terbuat dari Batu Andesit.



Arca Budha
Arca yang ditemukan di Bukit Siguntang sekitar tahun 1920-an ini memiliki tinggi 277 cm. Pada saat ditemukan tidak dalam keadaan utuh, melainkan terdiri dari beberapa bagian. Awalnya yang di temukan hanya bagian kepalanya saja yang kemudian di simpan di Museum Nasional Jakarta. Beberapa bulan kemudian bagian badannya di temukan, lalu disatukan dengan bagian kepalanya.
Arca ini dibuat dari batuan Granit yang banyak di temukan di Pulau Bangka.



Arca Ganesha
Arca Ganesha yang belum selesai pembuatannya ini terbuat dari bebatuan Andesit dan masih dalam bentuk sketsa. Arca ini berasal dari situs Suralangun kabupaten Musi Rawas. Situs Suralangun terletak di tepi Sungai Rawas.
Meskipun belum selesai, dari sketsa yang ada masih bisa di perkirakan bahwa arca ini berasal dari sekitar abad ke-9 Masehi.



Arca Singa
Arca Singa ini sudah dalam keadaan yang tidak utuh lagi. Arca ini juga terbuat dari bebatuan Andesit.
Arca Arca Singa baik di lingkungan bangunan Candi maupun Klenteng, biasanya ditempatkan di sisi kanan kiri tangga pintu masuk. Fungsi Arca Singa dalam bangunan candi bisa juga sebagai pengganti makara yang merupakan simbol penolak bala.

Sumber:
- Direktorat Museum
- Tulisan di sekitar Arca yang terdapat di Museum Sultan Mahmud Badaruddin II

Minggu, 11 Oktober 2009

Model H. Dowa

Makanan khas dari Palembang yang selama ini terkenal adalah Pempek. Sekarang aku akan mengajak sobat lirak lirik untuk mengenal satu lagi makanan khas dari Bumi Sriwijaya ini, yaitu MODEL.



Masih dari turunan Pempek Juga, tetapi makanan satu ini dinikmati dengan tidak ditemani Cuka, seperti lazim nya Pempek.
Model adalah Pempek isi tahu yang di siram kuah Kaldu Udang. Jika diantara sobat lirak lirik sudah pernah merasakan apa yang nama nya Tekwan, maka rasa dari Model ini sendiripun tidak jauh berbeda. Yang membedakan hanya bentuk nya, jika Tekwan mirip bakso, maka Model Mirip Pempek Kapal Selam tapi di isi dengan tahu.



MODEL DOWA adalah salah satu tempat wajib yang harus aku kunjungi ketika pulang ke Palembang.
H. Dowa sendiri diambil dari nama pemilik nya. Mula nya kita hanya bisa menemukan gerai milik beliau ini di daerah 22 Ilir, tetapi sekarang sudah terdapat beberapa cabang di antaranya, di Jl. Srijaya Negara, Padang Selasa dan di Jl. Merdeka Palembang.



Sebetulnya Model ini bisa di temukan di segala penjuru kota Palembang, kenapa harus Model H. Dowa ? Yang membedakan adalah kuah nya, kaldu nya di buat dari campuran udang segar dan Ebi yg di haluskan betul2 menggugah selera. Selain udang dan model itu sendiri tentunya, terdapat campuran lain sebagai pelengkap, Jamur Kuping, Bengkoang yg di iris panjang, seledri dan bawang goreng.

jadi, jika ada diantara sobat lirak lirik yang akan berpergian ke Palembang, jangan lupa untuk mampir dan mencicipi Model H. Dowa.

Salam Jalan Jalan

Ayuk Lin
Sang Lirik

Kamis, 27 Agustus 2009

Bukit Telunjuk



Plesiran di Pulau Jawa sudah banyak di bahas, Kalimantan juga sudah, sampe Singapore juga udah di bahas. Sekarang kita kembali lagi ke pulau Sumatera.
Kali ini aku akan mengajak sobat lirak lirik melihat keindahan salah satu bukit yang berada di provinsi Sumatera Selatan, tepatnya berada di Kec. Merapi, Kabupaten Lahat. Ialah bukit Serelo, tetapi masyarakat Sumatera Selatan lebih mengenal bukit ini dengan sebutan Bukit Telunjuk atau Bukit Jempol.

Mendapat sebutan demikian karena bentuk bukit ini menyerupai jari Telunjuk / Jempol tangan manusia, pada saat mengepalkan tangan. Bukit ini diapit oleh dua bukit lainnya yaitu, bukit Senobot dan Bukit Besak ditambah lagi dengan aliran sungai lematang yang deras membuat kita tidak ingin beranjak dari kawasan ini.



Bukit ini sering menjadi tujuan para siswa dan mahasiswa untuk melakukan kegiatan Hiking di musim liburan.

Kawasan ini biasanya menjadi tempat pemberhentian sejenak untuk santap siang bagiku dan keluarga ku disaat kita ingin mengunjungi desa kelahiran kakekku dari pihak Ibu.
Untuk menuju tempat ini, perjalanan dengan mengendarai mobil ditempuh dalam waktu +/- 5 jam dari kota Palembang.



Keindahan dan keunikan bukit ini sebenarnya dapat dijadikan tempat tujuan wisata untuk daerah sumatera selatan, tetapi pemerintah setempat belum ada perhatian untuk mengembangkannya.

Salam Jalan Jalan,
Ayuk Lin
Sang Lirik

Minggu, 02 Agustus 2009

Sungai Musi

Lanjut dari postingan sebelumnya.
Dari pelataran Benteng Kuto besak, kita menuju ke pinggiran sungai Musi. Jika ingin menikmati pemandangan dan kehidupan di sekitar sungai terpanjang di Indonesia ini kita bisa menggunakan perahu Ketek (sebutan orang Palembang untuk perahu motor) atau Kapal Pesiar (Putri Kembang Dadar) yg terdapat di dermaga Benteng Kuto Besak.

Rute yang biasa di lalui untuk menikmati panorama sungai musi, berawal dari dermaga benteng kuto besak kita menuju ke Pulau Kemaro. Di sepanjang pinggiran sungai Musi, kita disuguhi pemandangan rumah2 rakit yg sebagian besar merupakan tempat kediaman warga Palembang Asli. Kita juga akan melewati Perkampungan Arab, Pelabuhan Bom Baru dan Pabrik Pupuk Sriwijaya.



Tujuan pertama yg patut di singgahi setelah menikmati pemandangan Sungai Musi dari Perahu Ketek/Kapal Pesiar adalah Pulau Kemaro. Pulau ini terletak di tengah2 sungai musi. Pulau kemaro dalam bahasa Indonesia berarti kemarau, dinamakan demikian karena pulau ini tidak pernah digenangi air walaupun volume air di sungai Musi sedang meningkat. Pulau ini memiliki legenda tentang kisah cinta seorang putri Palembang yaitu Siti Fatimah dengan anak seorang putra raja di Cina bernama Tan Bun Ann. Kisahnya dimulai saat Tan Bun Ann ketika itu melamar Siti Fatimah untuk diperistri. Ayah Siti Fatimah, seorang raja di Sriwijaya, mengajukan syarat kepada Tan Bun Ann untuk menyediakan sembilan guci berisi emas. Keluarga Tan Bun Ann bersedia menerima syarat itu, maka disediakanlah sembilan guci berisi emas.

Karena khawatir akan ancaman perompak, tanpa sepengetahuan Tan Bun Ann, keluarganya menaruh sayur-mayur di atas emas-emas di dalam guci itu. Sesampainya di Sriwijaya, ketika akan menyerahkan kesembilan guci tersebut Tan Bun Ann memeriksa isinya. Betapa terkejut dan marahnya dia ketika melihat isi guci tersebut adalah sayur-mayur. Tanpa memeriksa lebih dahulu, guci- guci tersebut dilemparkan ke sungai Musi. Ketika guci-guci tersebut dilemparkan, ada satu guci yang pecah, sehingga menampakkan kepingan emas yang ada di dalamnya.

Melihat hal itu, Tan Bun Ann menyesali perbuatannya dan menceburkan diri ke Sungai Musi. Siti Fatimah pun lalu ikut menceburkan diri sembari berkata "Bila suatu saat ada tanah yang tumbuh di tepian sungai ini, maka di situlah kuburan saya!". Itulah legenda asal-usul Pulau Kemaro. (Sumber: http://webforum.plasa.com)



Di tengah2 pulau ini terdapat satu bagunan pagoda, vihara dan sebuah Pohon Cinta.



Pohon Cinta, menyerupai pohon beringin yang di percaya sebagian orang dapat merekatkan cinta kasih yang sedang dibina. Pohon ini dianggap sebagai simbol "Cinta Sejati" antara dua bangsa dan dua budaya (lihat cerita Siti Fatimah dan Tan Bu An diatas)





Dulu pulau ini dipakai sebagai pos pertahanan pasukan palembang dalam menghadapi pasukan Belanda. Yang berkuasa pada saat itu adalah Sultan Mahmud Badaruddin II.

Sumber: http://newspaper.pikiran-rakyat.com

Pada hari-hari besar agama tertentu, banyak pengunjung yang datang memadati tempat ini. Selain dari Palembang juga dari daerah lain di Indonesia, termasuk dari negara-negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, India, Amerika, dan Eropa. Mereka datang khususnya saat perayaan Cin Cia dan Cap Go Me.

Dari Pulau Kemaro kita akan kembali menyusuri sungai musi untuk kembali ke dermaga benteng kuto besak. Kita akan melalui jalur yang sama tetapi dengan menyusuri tepian yg berbeda. Kita akan melewati kawasan kilang minyak milik pertamina yang terdapat di daerah Sungai Gerong, perumahan staf2 Pertamina menghadap sungai musi yang berada di Bagus Kuning, Plaju.

Sebagai informasi, tarif untuk menyewa satu perahu ketek berkisar 200 ~ 250 rb. Satu perahu ketek bisa diisi 5 ~ 8 orang. Jika ingin menggunakan kapal pesiar, satu orang di kenakan tarif 70 rb.

Dengan perahu ketek, kita bisa bebas minta di antar ke berbagai tempat, bahkan bisa singgah sejenak misalnya di PT. Pusri, Sungai Gerong ataupun Pelabuhan Bom Baru. Jika menggunakan Kapal Pesir, kita hanya dapat menikmati panorama yg ada hanya dari atas kapal tersebut.

Dari sungai musi, kemana lagi tujuan kita selanjutnya.....
tunggu postingan berikutnya ya....

Salam Jalan Jalan,
Sang Lirik
Ayuk Lin

Seputaran Jembatan Ampera



Di postingan sebelumnya, Mas Senda telah menggambarkan sebagian kecil pesona Kota Gede Yogyakarta dengan Masjid Mataramnya. Sekarang aku akan memulai plesiranku dari bagian selatan pulau Sumatera, tepatnya di Ibu Kota Propinsi Sumatera Selatan, Palembang.

Sekarang kita sedang berada di seputaran Jembatan Ampera yang merupakan Identitas dan Jantung kota Palembang. Jembatan Ampera, terletak di tengah-tengah kota Palembang, menghubungkan daerah Seberang Ulu dan Seberang Ilir yang dipisahkan oleh Sungai Musi.

Berikut struktur Jembatan Ampera:
Panjang : 1.117 m (bagian tengah 71,90 m)
Lebar : 22 m
Tinggi : 11.5 m dari permukaan air
Tinggi Menara : 63 m dari permukaan tanah
Jarak antara menara : 75 m
Berat : 944 ton

Pembangunan jembatan ini dimulai pada tanggal 16 September 1960, setelah mendapat persetujuan dari Presiden Soekarno. Awalnya, jembatan ini, dinamai Jembatan Bung Karno. Menurut sejarawan Djohan Hanafiah, pemberian nama tersebut sebagai bentuk penghargaan kepada Presiden RI pertama itu. Bung Karno secara sungguh-sungguh memperjuangkan keinginan warga Palembang, untuk memiliki sebuah jembatan di atas Sungai Musi.

Peresmian pemakaian jembatan dilakukan pada tahun 1965, sekaligus mengukuhkan nama Bung Karno sebagai nama jembatan. Pada saat itu, jembatan ini adalah jembatan terpanjang di Asia tenggara. Setelah terjadi pergolakan politik pada tahun 1966, ketika gerakan anti-Soekarno sangat kuat, nama jembatan itu pun diubah menjadi Jembatan Ampera (Amanat Penderitaan Rakyat).

Dahulu, bagian tengah jembatan dapat digerakkan naik turun. Jika ada Kapal Api yang melintas di bawah jembatan, maka bagian tengah jembatan dapat di naikkan, sehingga memberi ruang untuk kapal tersebut lewat. Tetapi saat ini kita tidak dapat menikmati pemandangan ini lagi, selain beberapa alat untuk menggerakkannya sudah rusak/tidak ada lagi (akibat tangan2 usil yang dengan sengaja mempreteli baut2 dan dijual ke tukang besi kiloan) juga, dapat mengganggu arus lalu lintas diatas jembatan tersebut. Sebagai informasi, pusat pemerintahan kota Palembang berada di bagian Ilir, jadi orang2 yg tinggal di bagian Ulu yg beraktivitas di daerah Ilir mau tidak mau harus melewati jembatan ini.

Sumber: Wikipedia



Tidak jauh dari Jambatan Ampera, ada sebuah benteng yang merupakan peninggalan bersejarah dari Kesultanan Palembang Darussalam. Benteng tersebut bernama Benteng Kuto Besak yang menghadap kearah tenggara dan berada di tepian Sungai Musi. Benteng ini berbentuk persegi panjang dengan ukuran 288.75 x 183.75 meter dengan tinggi 9.99 meter, sementara tebalnya 1.99 meter.

Tujuan pembangunan Benteng ini adalah untuk melindungi Kesultanan Palembang Darussalam dari serangan dan gempuran musuh. Dengan letak Benteng yang berada di antara sunga-sungai, maka siapapun tidak akan mudah memasuki benteng karena karena harus melalui titik2 tertentu. Dahulu kala, benteng ini juga berfungsi sebagai keraton. Pada abad ke-18, benteng ini menjadi pusat kesultanan Palembang Darussalam yang ke-4, setelah Keraton Kuto Gawang, Keraton Beringin Janggut dan Keraton Kuto Batu/Kuto Lama.

Sumber: Melayu Online (http://melayuonline.com)

Saat ini pelataran Benteng kuto besak atau yang disebut dengan Plaza BKB di jadikan tempat untuk mengadakan berbagai pertunjukkan budaya & seni dan menjadi tempat favorit warga Palembang untuk menghabiskan waktu sembari memandangi keelokan Jembatan Ampera dan Sungai Musi.

Sekian dulu perjalanan kita di seputaran Jembatan Ampera, nantikan postingan selanjutnya, masih dari kota Palembang.

Salam Jalan-jalan,
Ayuk Lin
Sang Lirik