Tampilkan postingan dengan label Kota Udang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kota Udang. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 Januari 2010

Keraton Cirebon



Banyak kesultanan2 dan kerajaan2 di Indonesia yang masih eksis hingga saat ini, dari ujung pulau sumatera hingga ke papua, kita masih bisa menjumpai nya. Walaupun fungsi kerajaan2 atau kesultanan ini tidak lagi sebagai pusat pemerintahan pada saat ini, tetapi mereka masih berperan sebagai pusat kebudayaan. Maka kali ini saya ingin mengajak sobat lirak lirik untuk mengungungi salah satu kesultanan yang berada di tanah jawa. Tepatnya di perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah, yaitu Kesultanan Cirebon.

Berbicara tentang Kesultanan Cirebon, tentu tidak terlepas dari nama salah seorang Wali Songo, yaitu Syarif Hidayatullah atau setelah beliau wafat lebih dikenal dengan nama Sunan Gunung Jati. Beliau ini bukanlah pendiri Kesultanan Cirebon, tetapi pada masa pemerintahan beliau lah Kesultanan Cirebon mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat. Kemudian beliau juga diyakini sebagai pendiri dinasti Kesultanan Cirebon dan Banten, serta sebagai penyebar agama Islam di Jawa Barat dan Banten.



Jejak dari Kesultanan Cirebon yang masih bisa kita nikmati saat ini salah satu diantaranya adalah Keraton Kasepuhan.
Memasuki wilayah keraton ini, kita akan disambut oleh sebuah gerbang yang terbuat dari Bata Merah bertingkat. Bagian depan ini biasa disebut dengan Siti Hinggil atau tanah tinggi yang menghadap langsung ke lapangan tempat dimana para pasukan keraton dulunya berkumpul.



Bangunan utama di komplek keraton ini tentu saja istana tempat dimana para raja dan keluarganya tinggal. Terdapat beberapa ruangan di dalam bangunan ini, foto diatas menunjukkan ruangan dimana raja menjamu para tamu nya.
Yang menarik dari bangunan ini adalah keramik2/ukiran2 yang terdapat di dinding-dinding nya yang merupakan perpaduan dari dua budaya, yaitu Cina dan Eropa.



Ukiran dengan dominasi warna merah merupakan pengaruh dari kebudayaan cina.



Sedangkan lukisan diatas keramik yang di dominasi warna biru dan keunguan adalah pengaruh dari budaya Eropa, lebih tepatnya pengaruh dari Belanda.

Masih banyak bagian-bagian menarik lainnya dari keraton kasepuhan ini yang akan saya bahas di postingan berikutnya. Jadi, pantengin terus blog Plesiran kita ini ya.....

Sumber: Wikipedia dan Okezone

Salam jalan jalan,

Ayuk Lin
Sang Lirik

Senin, 07 Desember 2009

Berburu Batik Trusmi

hai...hai...hai.....sobat lirak lirik.
Masih setia mengikuti perkembangan blog plesiran kita ?
Sudah cukup lama saya tidak meng update berita2 dari hasil plesiran ke beberapa tempat. Kali ini saya akan mengajak sobat sekalian untuk berjalan-jalan ke kota udang, Cirebon.



Yang akan dikunjungi kali ini adalah SENTRA BATIK DESA TRUSMI, yang terletak di daerah Plered, Cirebon. Berjarak +/- 5 km dari pusat kota Cirebon.
Dari stasiun kereta api, tempat ini bisa di capai dengan menggunakan angkutan umum seperti becak atau mikrolet.



Batik Trusmi berhasil menjadi ikon batik dalam koleksi kain nasional. Ada dua corak dalam batik Trusmi, yakni keratonan dan pesisiran. Motif keratonan biasanya memakai ornamen yang diambil dari lingkungan keraton, seperti batu-batuan (wadas), kereta singa barong, naga seba, Taman Arum Sunyaragi, dan ayam alas. Untuk warna pada batik dengan motif keratonan lebih cenderung menggunakan warna-warna gelap, seperti coklat, hitam.

Sedangkan untuk motif peisisiran gambar motifnya lebih bebas, melambangkan kehidupan masyarakat pesisir yang egaliter, seperti gambar aktivitas masyarakat di pedesaan atau gambar flora dan fauna yang memikat seperti dedaunan, pohon, dan binatang laut. Sedangkan untuk warna pada motif pesisiran lebih cenderung ke warna yang lebih terang seperti merah muda, biru laut, dan hijau pupus.



Selain itu salah satu ciri khas batik asal Cirebon yang tidak ditemui di tempat lain adalah motif “Mega Mendung”, yaitu motif berbentuk seperti awan bergumpal-gumpal yang biasanya membentuk bingkai pada gambar utama. Motif Mega Mendung adalah ciptaan Pangeran Cakrabuana (1452-1479), yang hingga kini masih kerap digunakan. Motif tersebut didapat dari pengaruh keraton-keraton di Cirebon. Karena pada awalnya, seni batik Cirebon hanya dikenal di kalangan keraton.

Bila dibanding dengan batik Yogyakarta, Solo atau Pekalongan, batik Trusmi mempunyai ciri yang berbeda dan khas. Pengaruh ini diakibatkan dengan letak geografis kota Cirebon yang berada di kawasan pantai. Perbedaan yang paling mencolok adalah dari segi warna dan motif. Secara umum, batik asal Cirebon muncul dengan warna-warna kain yang lebih cerah dan berani.

Sumber: http://www.swaberita.com



Pada mulanya ketika di beritahu daerah sentra kerajinan batik, yang terbayang adalah sebuah desa dengan rumah2 tradisional dengan para pengrajin batik yg melukis menggunakan canting, tapi ternyata disini kita akan mendapati rumah2 besar yang di sulap menjadi butik2 dan toko2 batik modern di sepanjang jalan trusmi ini.

Pada saat berkunjung kesana, saya sempat mengunjungi salah satu pengrajin batik dan melihat proses membatik dan pencelupan. Rata-rata para pembatik ini adalah ibu2 rumah tangga yg sudah cukup berumur.

Jadi, bagi para pencinta batik, tidak ada salahnya untuk mencoba mampir ke desa Trusmi ini jika kalian sedang ber plesiran ke daerah Cirebon.
Jika selama ini oleh2 yg di bawa dari Cirebon hanya berupa Terasi, Rengginang, Kerupuk Kulit ataupun Kerupuk Melarat, cobalah untuk membawa batik Trusmi sebagai buah tangan.

Salam Jalan Jalan,

Ayuk Lin,
Sang Lirik